<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913</id><updated>2012-02-16T09:02:12.975-08:00</updated><category term='pemilu'/><category term='national pilgrimage'/><category term='dialog'/><category term='jender'/><category term='natal oekumene'/><category term='pertambangan'/><category term='gereja dan lingkungan hidup'/><category term='Catholic ethics'/><category term='HIV/AIDS'/><category term='panggilan'/><category term='Rumah Sakit Santa Maria Seoul'/><category term='abortion'/><category term='pope benedict XVI'/><category term='uskup'/><category term='pray'/><category term='pope'/><category term='kaum muda'/><category term='pengobatan gratis'/><category term='svd'/><category term='awam katolik'/><category term='budaya'/><category term='easter'/><category term='protect human life'/><category term='World Day of the Sick'/><category term='World Youth Day 2009'/><category term='pope in cameroon'/><category term='lenten message'/><category term='caritas'/><category term='puasa'/><category term='Christian and Muslims'/><category term='pmkri'/><category term='musdikat'/><category term='social justice'/><category term='Holocaust survivors'/><category term='ajaran sosial gereja'/><category term='pontificate of Pius XII'/><category term='stfk ledalero'/><category term='guru agama'/><category term='pope in africa'/><category term='Palm Sunday'/><category term='uu pornogtafi'/><category term='men and women'/><category term='pope in angola'/><category term='facebook'/><category term='the roots of faith'/><category term='drama'/><category term='uu pronografi'/><category term='jalan salib'/><category term='pilgrimage to the Holy Land'/><category term='soccer'/><category term='frans seda'/><category term='Holocaust survivor'/><category term='iklim'/><category term='Christmas'/><category term='muspas'/><category term='human dignity'/><category term='U.N. conference'/><category term='Unity of Christians'/><category term='agama dan politik'/><category term='Lenten journey'/><category term='imam katolik'/><category term='public Mass in Jordan'/><category term='Consecrated Life'/><category term='Cameroon + religion'/><category term='two state'/><category term='Christian devotion'/><category term='leaders'/><category term='Lent and charitable'/><category term='doa rosario'/><category term='religion + politics'/><category term='migrants'/><category term='paus1'/><category term='china-vatikan'/><category term='Vatican City'/><category term='ekaristi'/><category term='reconciliation'/><category term='holy land'/><category term='vatican'/><category term='rasisme'/><category term='Welcome Address to Benedict XVI'/><category term='media'/><category term='reflection'/><category term='agama dan pemilu'/><category term='gereja'/><category term='paus'/><category term='catholic + islam'/><category term='uskup maumere'/><category term='pendidikan'/><category term='universitas katolik'/><category term='Pentecost'/><category term='seminari'/><category term='refleksi'/><category term='press'/><category term='Ethic'/><category term='pers'/><category term='visit israel'/><category term='ekumene'/><category term='komite sekolah'/><category term='politik'/><category term='baptized by pope'/><category term='catholic'/><category term='dialogue'/><category term='pusat pembelajaran inovatif'/><category term='pembinaan iman'/><category term='pemuda katolik'/><category term='internet'/><category term='uskup weetebula'/><category term='Catholic health systems'/><category term='authority and religion'/><category term='surat gembala'/><category term='vatikan'/><category term='lingkungan'/><category term='pegawai penjara'/><category term='prayer'/><category term='liberty'/><category term='diversity'/><category term='kesehatan'/><category term='Jewish and Catholic'/><category term='faith and reason'/><category term='q and a'/><category term='pope visit africa'/><category term='newspaper'/><category term='outdoor Mass'/><category term='relaunch the missionary spirit'/><category term='perubahan iklim'/><category term='uskup ruteng'/><category term='politics and science'/><category term='teolog'/><category term='tahun imam'/><category term='semana santa'/><category term='paskah'/><category term='uskup katolik'/><category term='pendidikan tinggi'/><category term='storytelling and faith'/><category term='pope journey'/><category term='CAFOD'/><category term='Q-and-A'/><category term='jender dan politik'/><category term='pancawindu ledalero'/><category term='Muslim dan Kristen'/><category term='catholis'/><category term='gender'/><category term='Pope in Holy Land'/><category term='Lenten retreat'/><category term='homily'/><category term='statistical yearbook'/><category term='el salvador'/><category term='lingkungan hidup dan gereja Katolik'/><title type='text'>BENTARA FLORES</title><subtitle type='html'>Melihat dengan Mata Iman</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>224</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-7207231150720649706</id><published>2010-08-18T05:22:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T05:26:04.988-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='uskup ruteng'/><title type='text'>Uskup Ruteng Kunjungi Lokasi Tambang</title><content type='html'>Oleh Christo Lawudin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUTENG (FLORES POS) -- Uskup Ruteng, Mgr Hubert Leteng mengunjungi lokasi tambang Torong Besi dan hutan lindung Nggalak-Rego RTK 103 di Soga, Desa Robek, Kecamatan Reok, Rabu  (21/7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup merayakan misa bertemakan ekologi bersama umat dari Paroki Reo dan paroki-paroki sekitarnya di kapela Torong Besi, Kelurahan Wangkung. Dalam perayaan itu Uskup Hubert berkali-kali minta masyarakat untuk konsisten sesuara dan sehati menolak tambang karena merusak tanah, alam, dan lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGvRCJWNBUI/AAAAAAAAAQE/koBEvmPshhE/s1600/uskup+huber+leteng.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGvRCJWNBUI/AAAAAAAAAQE/koBEvmPshhE/s320/uskup+huber+leteng.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506724804189553986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SAKSIKAN LOKASI TAMBANG – Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng datang lokasi tambang Soga dan Torong Besi untuk melihat langsung kerusakan hutan lindung Nggalak Rego, RTK 103 di Soga, Desa Robek, Kecamatan Reok, Rabu (21/7/2010). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disaksikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Flores Pos&lt;/span&gt;, kapela di tengah hutan itu dipadati umat yang datang dari pelbagai paroki dan desa-desa sekitar sejak pagi hari. Mereka datang untuk bertemu Uskup dan menghadiri perayaan ekaristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat menerima Uskup dengan acara adat kepok oleh para tua adat sebelum perayaan ekaristi. Ketika menjawab sapaan para tua adat itu, Uskup mengatakan, semua orang terutama masyarakat di wilayah pantai utara terutama pantai bagian barat sesuara dan sehati untuk menolak tambang karena merusak tanah, alam, dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kotbah ekaristi, Uskup juga menegaskan hal yang sama. Uskup mengatakan, Tuhan telah memberikan alam yang indah kepada manusia di wilayah pantura, terutama pantura bagian barat ini. Namun, alam yang indah kini terancam keutuhannya oleh perilaku manusia sendiri yang serakah dengan alam. Manusia di wilayah Torong Besi sampai Labuan Bajo, Manggarai Barat  tidak tinggal dan hidup sendiri. Tetapi, hidup dan berada bersama alam ciptaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, kita semua adalah saudara. Kita tak boleh saling menyakiti, apalagi menghancurkan yang lainnya. Manusia jangan monopoli. Jangan rusaki tanah, alam, dan lingkungan. Jangan cabut hak ciptaan lain. Karena itu, saya minta cukup sudah perusakan tanah di Torong Besi dan wilayah pantura bagian barat ini,” katanya.&lt;br /&gt;Siapapun, kata Uskup,  tak bisa mencabut hak hidup makhluk lain hanya karena diberi uang. Tanah ini bukan milik yang mempunyai uang atau pengusaha tambang atau yang mendapat izin pertambangan. Tanah dan lingkungan ini adalah milik banyak orang dan ciptaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sesuatu yang benar jika tanah, alam, dan lingkungan rusak oleh eksploitasi tambang oleh segelintir orang yang mendapat banyak atau sedikit uang hari ini. Tuhan mungkin masih bersabar, manusia mungkin masih bisa bernegosiasi, tetapi alam kalau sudah melewati batas akan marah. Kalau alam marah, siapapun tidak bisa menghalanginya. Alam sulit berkompromi dengan manusia, hujan berlebihan, kekeringan, hama belalang, hama tikus, tanah longsor, badai dari laut, dan lain-lain adalah bukti alam marah. Alam marah karena manusia merusakinya dan menghancurkannya, ujar Uskup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk kebaikan dan kelangsungan hidup, manusia harus hidup bersaudara dengan ciptaan lain. Karena itu, kita harus tetap sesuara dan sehati untuk menolak tambang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekaristi ekologi ini dihadiri banyak imam di antaranya Vikjen Rm Laurens Sopang Pr, Vikep Borong Rm. Beny Jaya  Pr, Pastor Paroki Reo, P. Yan Djuang SVD, Direktur Puspas Rm. Manfred Habur Pr, sejumlah pastor, dan para pastor  dari kalangan JPIC OFM,  dan SVD, dan projo Keuskupan Ruteng, seperti Rm Charles Suwendi Pr,  P Simon Suban Tukan SVD,  P Mateus Batubara OFM, P Aleks Jebadu SVD, dan para suster. Nyanyian misa bernafaskan alam dan lingkungan. Dalam perayaan ini juga ditampilkan fragmen yang mengisahkan kehancuran alam akibat serakah manusia oleh kaum muda dari kelompok ekopastoral OFM Pagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perayaan ekaristi, rombongan Uskup sempat berziarah ke gua Maria Torong Besi yang ada di pinggir tebing berbatu warna hitam. Sebagian umat  mengikuti Uskup Hubert dan rombongan yang  melihat dari dekat pertambangan mangan di hutan lindung Soga, Desa Robek, Kecamatan Reok oleh PT Sumber Jaya Asia (SJA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi tambang bisa dicapai kendaraan roda dua dan empat. Tapi mobil uskup dan yang lainya tak bisa mencapai areal  basecamp pertambangan. Karena di areal pintu masuk sudah dipasang besi palang pintu yang sudah digembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup  memasuki lokasi pertambangan dengan berjalan kaki di tengah terik matahari. Uskup  berjalan perlahan untuk melihat dari dekat penghancuran kawasan hutan lindung Nggalak-Rego RTK 103 di di bukit Soga  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup banyak bertanya kepada warga yang mendampinginya. Cukup lama Uskup dan rombongan untuk melihat lubang di dalam gunung tersebut. Malah, Uskup minta warga untuk mengambil beberapa material batu, pasir, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang ada ini sepertinya bukan hanya mangan. Tolong bawa material yang ada. Kita berikan kepada ahlinya supaya tahu, apakah dari kawasan ini murni mangan atau ada yang lainnya,” kata Uskup Hubert sambil mengamati sejumlah bebatuan berwarna putih mengkilat, dan bebatuan kilat yang menempel pada onggokan batu dalam kawasan pertambangan itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Tanam Pohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Uskup tanam pohon perdamaian di areal perbatasan di wilayah pintu masuk. Warga lainnya menanam  gamal di wilayah bagian selatan basecam secara swadaya. Belasan anakan pohon perdamaian disiapkan oleh kelompok ekopastoral OFM Pagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  P Mateus Batubara OFM, pohon perdamaian sengaja ditanam di areal perbatasan di jalur bagian barat. Tujuannya agar  manusia berdamai dengan alam yang telah dirusak dan dihancurkan demi kepentingan segelintir orang. Penanaman secara simbolis dilakukan Uskup  Hubert dan kemudian diikuti warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lokasi tambang Soga, tidak terlihat lagi aktivitas penggalian maupun pengangkutan. Peralatan kerja masih ada. Tetapi, sudah dipasangi police line oleh polisi. Hal yang sama terlihat di lokasi prosesing mangan di Kampung Jengkalang, Kelurahan Wangkung, Reo. Suasana juga sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berharap penghentian aktivitas pertambangan untuk seterusnya. Hanya dengan itu, penghancuran terpimpin kawasan hutan lindung Soga, bisa dihentikan. Kasat mata, perusakan saat ini sangat parah. Kita berharap proses hukumnya tuntas dengan memproses semua yang terlibat,” kata P.Simon Suban Tukan SVD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan keagamaan seperti ini, kata aktivis Abdul Latif, juga dilakukan di Dampek, Manggarai Timur sebelumnya. Rombongan Uskup dan para jejaring lingkungan hidup dan warga Timbang mendatangi lokasi tambang Serise, Kecamatan Lambaleda. Kegiatan juga hampir sama dengan menanam pohon di kawasan perbatasan areal pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan ini masih akan berlanjut. Para pencinta lingkungan hidup dan keuskupan akan mengadakan kegiatan di wilayah pantura Mabar,” katanya.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-7207231150720649706?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/7207231150720649706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/uskup-ruteng-kunjungi-lokasi-tambang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7207231150720649706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7207231150720649706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/uskup-ruteng-kunjungi-lokasi-tambang.html' title='Uskup Ruteng Kunjungi Lokasi Tambang'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGvRCJWNBUI/AAAAAAAAAQE/koBEvmPshhE/s72-c/uskup+huber+leteng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-9104621262710760855</id><published>2010-08-18T05:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T05:16:31.151-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pers'/><title type='text'>Dibentuk, Forum Persaudaraan Pers Katolik KAK</title><content type='html'>Oleh Leonard Ritan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUPANG (FLORES POS) -- Sedikitnya 72 wartawan dari berbagai media baik cetak maupun elektronik bersepakat untuk membentuk Forum Persaudaraan Pekerja Pers Katolik Keuskupan Agung Kupang (KAK) dengan sekretariat bersama di Kantor Komunikasi Sosial (Komsos) KAK.&lt;br /&gt;Kesepakatan ini diambil dalam acara pertemuan antara para kekerja pers Katolik dan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang yang difasilitasi Komsos KAK bertempat di susteran Belo-Kupang, Minggu (15/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pertemuan ini diawali dengan perayaan ekarasti yang dipimpin Mgr Petrus Turang. Dalam kotbahnya, Uskup Turang menerangkan tentang sejarah perjalanan gereja dalam mengimani Bunda Maria. Karena Yesus adalah Tuhan, maka Maria bunda-Nya juga adalah suci. Sehingga Paus Benediktus XII menetapkan doktrin penghormatan secara khusus kepada Bunda Maria dengan menetapkan satu hari sebabagi hari perayaan Maria Diangkat ke Surga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesepuh pers NTT, Damian Godho mengawali sesi dialog dengan Uskup Petrus Turang menyampaikan, hadirnya forum ini telah didiskusikan bersama dengan pihak Komsos KAK. Forum ini hanyalah wadah komunikasi diantara sesama wartawan/pekerja pers Katolik di NTT dan Kota Kupang khususnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para wartawan ingin masuk dalam tugas pewartaan di KAK. Sehingga program keuskupan bisa disampaikan kepada umat di keuskupan ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Petrus Turang menegaskan, tugas seorang wartawan adalah mewartakan. Tentunya, seorang wartawan harus memiliki pengetahuan yang cukup karena apa yang diwartakan itu untuk didengar atau dibaca oleh masyarakat. Sehingga yang paling penting bagi seorang wartawan adalah mengakrabkan diri dengan perpustakaan. Jika wartawan dibekali dengan pengetahuan yang memadai, tentunya pilihan kata yang hendak disampaikan atau ditulis adalah bahasa yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada sesuatu yang dapat diberikan tanpa dimiliki. Mengingat tahun ini sebagai tahun ajaran sosial gereja, diperlukan interaksi sosial yang bagus di tengah masyarakat,” tandas Uskup Petrus Turang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menegaskan, wartawan harus tampil sebagai sebuah jembatan yang mampu menyampaikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat. Karena itu, seorang wartawan tidak menjadikan profesinya sebagai sebuah kesempatan mendapatkan pekerjaan, tapi bagaimana membangun diri dan relasinya dengan lingkungan sosial. Ini berangkat dari realita hidup manusia yakni mencari keuntungan dan mendapatkan kekuasaan atau jabatan. Media harus mampu melihat orang-orang miskin dan tertindas agar mereka dapat keluar dari masalah yang dihadapi. Ini berkaitan dengan kehidupan sosial ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahkah wartawan mencari berita yang benar? Ataukah hanya mendapatkan pekerjaan untuk meraih keuntungan dan jabatan?” tanya Uskup Petrus Turang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, wartawan harus memiliki kekuatan untuk menggerakkan semua institusi seperti pemerintah dan agama. Ini dimaksudkan agar institusi-institusi itu dapat melihat kondisi riil yang dihadapi masyarakat. Intinya, menghormati manusia secara utuh. Inilah prinsip moral yang harus dijalankan seorang wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Uskup Petrus Turang menggugah aspek pendidikan. Sudah sejauhmana masalah pendidikan dibahas dan dicari jalan keluar. Karena itu semua pihak termasuk para wartawan untuk selalu merefleksi dan mengintrospeksi diri tentang keberpihakan terhadap masalah pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flores Pos | Berita | Pers&lt;br /&gt;| 18 Agustus 2010 |&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-9104621262710760855?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/9104621262710760855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/dibentuk-forum-persaudaraan-pers.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/9104621262710760855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/9104621262710760855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/dibentuk-forum-persaudaraan-pers.html' title='Dibentuk, Forum Persaudaraan Pers Katolik KAK'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6088432037733944036</id><published>2010-08-17T05:52:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T02:27:45.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan tinggi'/><title type='text'>Dosen-Dosen STPM Santa Ursula Gelar Raker</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meningkatkan Mutu dan Pengabdian kepada Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDE (FLORES POS ) -- Para dosen dan pegawai Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula  menggelar rapat kerja selama dua hari untuk mendorong keterlibatan aktif lembaga tersebut dalam mengabdi pada kepentingan masyarakat luas dan peningkatan mutu tamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqIe-3DWXI/AAAAAAAAAP8/ZXCvHTMfRJw/s1600/dosen+stpm+gelar+raker.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqIe-3DWXI/AAAAAAAAAP8/ZXCvHTMfRJw/s320/dosen+stpm+gelar+raker.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506363560265210226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paskalis FX Hurint presenstasikan rencana kerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejabat Ketua STPM Paskalis FX Hurint mengatakan, rapat kerja dua hari ini (Senin-Selasa) selain mengevaluasi seluruh pelaksanaan program tahun ajaran 2009/2010, juga menyusun program yang dibutuhkan lembaga pendidikan tersebut untuk makin memantapkan mutu dan pengabdiannya kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan mutu proses kuliah, kepada para mahasiswa dibagikan angket-angket. Hasilnya nanti diolah dan akan diberikan kepada para dosen untuk dijadikan bahan dalam proses pengembangan diri dan mutu perkuliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu hal yang dibicarakan pada raker ini adalah mengenai sistem penjaminan mutu dengan titik star dari akreditasi Mei lalu. STPM harus menentukan kriteria jaminan mutu baik dalam penerimaan mahasiswa maupun standar kelulusannya,” kata Feri, Selasa (13/7/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqHU0mpbkI/AAAAAAAAAP0/Pm2Dbluo39M/s1600/dosen+stpm+gelar+raker1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqHU0mpbkI/AAAAAAAAAP0/Pm2Dbluo39M/s320/dosen+stpm+gelar+raker1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506362286201728578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebagian dari para dosen yang hadiri dalam raker.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai manajemen kampus. Juga dibahas soal otonomi keilmuan dosen.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Kita menekankan pentingnya  otonomi keilmuan dosen yang  bertolak dari penelitian yang dilakukan. Apa yang ditemukan dari hasil penelitiannya, itulah yang disajikannya dalam perkuliahan. Karena itu kita minta yayasan bisa membantu merealisasi penelitian mandiri sesuai dengan mata kuliah yang diasuh para dosen,” katanya.&lt;br /&gt;Sekolah ini sedang berjuang mendapatkan izin pembukaan program Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Pemerintahan. “Tinggal tunggu keputusan Dirjen Dikti. Ada lampu hijau,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raker ini merupakan proses sharing dan dialog. Karena fokus dan lokus lembaga ini pada pemberdayaan masyarakat, sekolah ini harus berusaha berpegang teguh pada visi dan misi dasarnya. Sekolah ini harus menyatu dengan masyarakat dan meningkatkan keterlibatannya di tengah masyarakat sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi,” kata Alo Kelen, dosen STPM Santa Ursula Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, sekolah ini perlu meningkatkan dedikasinya untuk ada di tengah masyarakat dan membangun kerja sama dengan pihak lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, katanya. Kehadiran lembaga ini harus dirasakan oleh masyarakat, lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dosen-dosen juga harus belajar dari masyarakat dan berada dalam gerakan bersama sebagaimana disepakati dalam Muspas VI Keuskupan Agung Ende, karena visi dan misi sekolah ini sambung dengan visi dan misi Muspas VI,” kata Alo, yang menjadi peserta Muspas VI, yang berlangsung 6-11 Juli 2010 di Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raker  ini penting dan tidak hanya sekadar menyusun agenda kerja, tetapi membangun komitmen lembaga ini untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat dan mengembangkan sumber daya bagi usaha pemberdayaan masyarakat,” kata Elias Cima, dosen STPM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, lembaga pendidikan tinggi ini selain mengembangkan berbagai bidang studi untuk meningkatkan mutu tamatannya, tapi perlu terus menerus menegaskan keberpihakannya kepada orang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Visi dasarnya adalah keberpihakan pada orang-orang kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan mutu yang dibahas dalam raker ini, katanya, tidak saja menyangkut dosen, melainkan juga tenaga non edukatif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6088432037733944036?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6088432037733944036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/dosen-dosen-stpm-santa-ursula-gelar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6088432037733944036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6088432037733944036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/dosen-dosen-stpm-santa-ursula-gelar.html' title='Dosen-Dosen STPM Santa Ursula Gelar Raker'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqIe-3DWXI/AAAAAAAAAP8/ZXCvHTMfRJw/s72-c/dosen+stpm+gelar+raker.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-321869287790712845</id><published>2010-08-17T05:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-17T05:51:26.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>MOS sebagai Medium Pendidikan Nilai</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Melatih Siswa Berdisiplin dan Bertanggung Jawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDE (FLORES POS) -- Masa Orientasi Sekolah (MOS) menjadi medium untuk pendidikan nilai bagi 267 siswa baru SMPK Santa Ursula, selain sebagai kesempatan bagi siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah dan mengenal visi dan misi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqFtul3-iI/AAAAAAAAAPk/0F03KmrfiGU/s1600/suster+pratiwi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqFtul3-iI/AAAAAAAAAPk/0F03KmrfiGU/s200/suster+pratiwi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506360515061348898" /&gt;&lt;/a&gt;Kepala Sekolah SMPK Santa Ursula Suster Regina Praptiwi OSU, Selasa (14/7) mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar siswa mengenal, memahami dan melaksanakan visi dan misi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai komunitas pembelajaran, kami mengajarkan anak-anak untuk melaksanakan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kerendahan hati. Artiinya seluruh mata pelajaran dan proses pembelajaran harus dijiwai oleh nilai-nilai ini. Anak-anak dilarang menyontek. Kalau menyontek, dia langsung mendapat nilai nol”. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang diasuh suster-suster Ursulin ini punya visi: “Komunitas pembalajaran yang kritis, kreatif, inovatif, mengintegrasikan iman dan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai hidup seturut semangat Santa Angela”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, seluruh aktivitas pembelajaran di kelas akan menghidupi visi dan misi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama MOS ini, para siswa diperkenalkan dengan cara belajar ang efektif, penegakan tata tertib, dan melatih disiplin, dan mendapat ceramah tentang narkob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak dini anak-anak diberitahu bahwa narkoba merusak diri dan masa depan mereka. Lebih baik mencegah daripada mereka terjerumus. Kami ajak anak-anak untuk mengatakan tidak terhadap narkoba,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa MOS ini juga anak-anak dilatih kreativitasnya dengan mengadakan fashion show yang terbuat dari kertas-kertas bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah ini melarang siswa membawa handphone ke sekolah. Karena hal ini akan merusak mental dan konsentrasi anak. Kalau bawa HP, sedikit-sedikit keluar. Kami ingin melatih anak untuk disiplin dan bertanggung jawab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru tidak dilarang membawa HP. Tapi ketika proses belajar mengajar berlangsung di kelas, guru harus meninggalkan HP-nya di ruang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa yang ikut MOS juga dilatih baris-berbaris oleh anggota Polres Ende. “Ini bagian dari kegiatan agar anak tahu disiplin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panitia MOS, Elisabeth Kura mengatakan, siswa antusias mengikuti kegiatan MOS. “Kelihatannya mereka gembira. Meski mereka baru tamat dari sekolah dasar, mereka tidak terlalu sulit diatur, malah bersemangat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan MOS berlangsung 12-17 Juli.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-321869287790712845?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/321869287790712845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/mos-sebagai-medium-pendidikan-nilai_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/321869287790712845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/321869287790712845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/mos-sebagai-medium-pendidikan-nilai_17.html' title='MOS sebagai Medium Pendidikan Nilai'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGqFtul3-iI/AAAAAAAAAPk/0F03KmrfiGU/s72-c/suster+pratiwi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8124564123974479728</id><published>2010-08-16T20:19:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T20:21:37.797-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pope benedict XVI'/><title type='text'>Benedict XVI at Angelus: Mary's mission of salvation and intercession continues today</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGoAM4IM1NI/AAAAAAAAAPU/UQ6akidiQLo/s1600/pope+benedict.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGoAM4IM1NI/AAAAAAAAAPU/UQ6akidiQLo/s200/pope+benedict.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506213715639063762" /&gt;&lt;/a&gt;Castel Gandolfo, Italy, Aug 15, 2010 / 09:30 am (CNA/EWTN News).- Although Mary was assumed into heaven, she "has not abandoned her mission of intercession and salvation" on Earth, explained Pope Benedict, using the words of one of his predecessors. Before the Marian prayer at noon on Assumption Sunday, he highlighted Mary's historic role in the Church, inviting continued trust in the Mother of God and prayer for her aid on earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Holy Father met with pilgrims in the courtyard of the pontifical villa at Castel Gandolfo for the Angelus after having celebrated Mass for the Solemnity of the Assumption of the Blessed Virgin Mary in the nearby parish of St. Thomas of Villanova. Walking to the church for the celebration and then returning again on foot afterwards for the Angelus, he was able to greet many people personally along the way.&lt;br /&gt;During the pre-Angelus catechesis, he said that on the Solemnity of the Assumption "we celebrate the passage from the earthly condition to the celestial bliss of She who generated in the flesh and received in faith the Lord of Life."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Virgin Mary has been venerated since the Church's foundation and the first Marian feasts were observed already in the 4th century, he pointed out, highlighting that some were in recognition of her role in the history of salvation and others for major moments in her earthly life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The meaning of today's feast," he explained, "is contained in the conclusive words" of Venerable Pope Pius XII from his definition of the dogma of the Assumption of the Blessed Virgin in 1950. In the document “Munificentissiums Deus,” he asserted that "the Immaculate Mother of God, the ever Virgin Mary, having completed the course of her earthly life, was assumed body and soul into heavenly glory."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turning to the Virgin Mary's presence in the Church, Pope Benedict said that "artists of every age" have decorated churches with works depicting the holiness of the Lord's Mother while poets, writers and musicians have rendered her tribute in liturgical hymns and chants. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"From East to West," he observed, "the 'Tuttasanta' (all holy) is invoked as the Heavenly Mother, who sustains the Son of God in her arms and under whose protection all of humanity finds refuge ..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illustrating this point, he recited the ancient Marian prayer from the Byzantine tradition: "Beneath your compassion we take refuge, O Virgin Theotokos: Despise not our prayer in our need, but deliver us from danger, for you alone are pure and blessed."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Sunday's Gospel, the Pope continued, the fulfillment of salvation through Our Lady is described by St. Luke who relates the story of Mary, "in whose womb the 'little Omnipotent one' is made," who goes immediately to her cousin Elizabeth after the Angel's announcement "to bring her the Savior of the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"And, in fact, 'as Elizabeth heard the greeting of Mary, the infant leaped in her womb, and Elizabeth was filled with the Holy Spirit.' The two women, who awaited the fulfillment of the divine promise, anticipate, then, the joy of the coming of the Kingdom of God, the joy of salvation."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Concluding, the Holy Father exhorted all people to entrust themselves to Mary, who, as Pope Paul VI said, despite being "assumed into heaven ... has not abandoned her mission of intercession and salvation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"To Her, the guide of the Apostles, the support of the Martyrs, the light of the Saints, we turn our prayer, asking her to accompany us on this earthly life, to help us to look to Heaven and to receive us one day alongside Her Son Jesus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8124564123974479728?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8124564123974479728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/benedict-xvi-at-angelus-marys-mission.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8124564123974479728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8124564123974479728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/benedict-xvi-at-angelus-marys-mission.html' title='Benedict XVI at Angelus: Mary&apos;s mission of salvation and intercession continues today'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGoAM4IM1NI/AAAAAAAAAPU/UQ6akidiQLo/s72-c/pope+benedict.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6959436637081840033</id><published>2010-08-16T20:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-16T20:15:00.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='press'/><title type='text'>Vatican conference for Catholic press to examine how to cover controversy</title><content type='html'>Vatican City, Aug 16, 2010 / 03:32 pm (&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/news/vatican-conference-for-catholic-press-to-examine-how-to-cover-controversy/"&gt;CNA/EWTN News)&lt;/a&gt;.- The Pontifical Council for Social Communications (PCCS) has organized a conference to examine the role of the Catholic press in today's world. Among the themes to be addressed is the Catholic media response to controversy within the Church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Over the weekend, the Vatican's L'Osservatore Romano (LOR) newspaper announced the Oct. 4-7 conference, which will focus on the comparison between traditional and new Catholic media.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;According to the article and a program available on the PCCS website, each of the first three days of the conference will address a different aspect of the Catholic media presence around the globe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first day's panel and separate group discussions will focus on the challenges and opportunities offered to Catholic press in today's world. Then on Oct. 5, after a morning of looking at how Catholic media contribute to the public forum, culture and the life of the Church, conference participants will examine how to cover controversy in the Church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A panel composed of a blogger, a Church spokesperson, a theologian, a sociologist and a secular journalist will take a look at the theme "Ecclesial Communion and Controversies. Freedom of Expression and the Truth of the Church." The names of the panel contributors have not yet been announced. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After the panel weighs in, press participants will divide into groups by languages to examine the central questions of whether or not Catholic press should avoid certain topics, how it should "speak of controversial issues and discuss the idea of giving "a voice to dissent."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A morning panel on the third day will look at economics, journalistic challenges, interactivity, language and the "digital divide," and seeking to be "effectively present" in the digital world. Later in the day, participants will examine successful Catholic media ventures and look at how they can collaborate and seek support.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The final day, Oct. 7, will be devoted to examining the results of groups discussions from the first three days.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6959436637081840033?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6959436637081840033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/vatican-conference-for-catholic-press.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6959436637081840033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6959436637081840033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/vatican-conference-for-catholic-press.html' title='Vatican conference for Catholic press to examine how to cover controversy'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-9086105971209351477</id><published>2010-08-15T21:33:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T21:45:40.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Dari Diskusi, Tiga Masalah Pokok</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruang-ruang diskusi sangat dinamis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDE (FLORES POS) -- Diskusi-diskusi kelompok dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) VI kali ini sangat dinamis. Tampak sekali para peserta bersemangat membahas berbagai isu strategis yang masih mengganjal dan yang menyebabkan  tidak optimalnya peranan komunitas basis sebagai komunitas pemberdayaan dan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGjCD3mTWoI/AAAAAAAAAPM/D42N-vdhb2w/s1600/uskup+sensi+ikut+diskusi+kelompok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGjCD3mTWoI/AAAAAAAAAPM/D42N-vdhb2w/s320/uskup+sensi+ikut+diskusi+kelompok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505863916180429442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Uskup Agung Ende Vincent Sensi Potokota sedang bicara dalam diskusi kelompok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dari lima pokok bahan diskusi yakni komunitas umat basis, fungsionaris pastoral, kerasulan di tengah tata dunia, sumber daya pastoral dan kelompok-kelompok strategis, ditemukan tiga masalah pokok yang cukup menonjol.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari masalah-masalah yang ada, para peserta berusaha mencari dan menggali “apa pesan Allah di dalamnya dan apa yang harus dilakukan ke depan”.Tiga masalah yang menonjol itu adalah pertama, Kitab Suci belum menjadi roh yang menggerakkan komunitas-komunitas basis. Kedua, kesadaran dan pengetahuan tentang komunitas basis masih rendah, dan ketiga pemahaman komunitas basis sebagai komunitas perjuangan di mana dalam komunitas basis itu orang menemukan pembebasan dan pemberdayaan masih belum tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta menilai, fungsionaris pastoral di komunitas umat basis belum memiliki keterampilan  yang memadai. Demikian juga kerasulan gereja di tengah tata dunia, diskusi menyebutkan bahwa gereja belum sungguh merasul dalam tata dunia khususnya dalam bidang politik, ekonomi dan lingkungan hidup. Gereja belum terlibat penuh di dalam menentukan keputusan-keputusan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai sumber daya pastoral, gereja memiliki sumber daya pastoral yang memadai tapi sumber daya pastoral ini belum digunakan secara optimal untuk kemajuan dan perkembangan gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGjA2kgcVBI/AAAAAAAAAPE/xVnwGBrq6GU/s1600/diskusi+kelompok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGjA2kgcVBI/AAAAAAAAAPE/xVnwGBrq6GU/s320/diskusi+kelompok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505862588205650962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Peserta diskusi sadar bahwa orang muda Katolik (OMK) merupakan kelompok-kelompok strategis dan tulang punggung gereja. Namun diakui, perhatian dan pendampingan kelompok-kelompok strategis ini belum mendapat porsi yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan dasar ini akan terus digeluti dalam beberapa hari  ke depan untuk menemukan arah dasar dan strategi pastoral yang tepat. Peserta diminta menemukan jalan keluar bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada perbedaan pendapat dan diskusi yang dinamis, namun para peserta menegaskan lagi betapa penting menjadikan Kitab Suci sebagai inspirasi bagi seluruh karya gereja. Kitab suci menjadi dasar bagi keterlibatan gereja dalam berbagai bidang kehidupan.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-9086105971209351477?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/9086105971209351477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/dari-diskusi-tiga-masalah-pokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/9086105971209351477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/9086105971209351477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/dari-diskusi-tiga-masalah-pokok.html' title='Dari Diskusi, Tiga Masalah Pokok'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGjCD3mTWoI/AAAAAAAAAPM/D42N-vdhb2w/s72-c/uskup+sensi+ikut+diskusi+kelompok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5152548533903819952</id><published>2010-08-15T21:29:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T21:32:02.942-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Ada Perubahan Besar pada KUB</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi_LS0Cc7I/AAAAAAAAAO0/qEZd0L4lzKU/s1600/romo+feri+deidhae.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi_LS0Cc7I/AAAAAAAAAO0/qEZd0L4lzKU/s200/romo+feri+deidhae.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505860745210000306" /&gt;&lt;/a&gt;ENDE (FLORES POS) -- Komunitas umat basis sudah banyak mengalami perubahan dan hal itu bukan saja karena usaha kita, tetapi juga karya Roh Kudus, kata Romo Feri Deidhae Pr,  Direktur Pengembangan dan Penelitian Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende, Kamis (8/7). Dia mengatakan demikian karena dengan dana yang terbatas dan sumber daya fungsionaris pastoral serta jumlah personel yang juga terbatas,  komunitas umat basis mengalami perubahan yang begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Muspas sebagai ajang evaluasi dan penyusunan perencanaan arah dasar dan strategi pastoral Keuskupan Agung Ende lima tahun ke depan, maka Puspas sebagai lembaga perencanaan reksa pastoral keuskupan melakukan penelitian dan survei. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tiga instrumen dipakai untuk membedah situasi pastoral Keuskupan Agung Ende yakni pertama, katekese umat yang dilakukan oleh Tim Komisi Kateketik (Komkat). Hasilnya dipresentasikan oleh Ketua Komkat Herman Tambuk pada hari pertama Muspas. Kedua, survei yang dilakukan oleh Romo Feri Deidhae, dan self assessment yang meliputi aspek kerasulan gereja dalam tata dunia (tim Romo Domi Nong Pr, Romo Sipri Sadipun Pr, dan Romo Adolf), aspek arah dasar dan implementasi Muspas (tim Romo Alex Tabe Pr dan Romo Remigius Misa Pr), dan aspek sumber daya, tenaga (personel), sarana dan prasarana (tim Romo Cyrilus Lena Pr, Romo Herman Wetu Pr, Romo Yet Koten Pr, dan Romo Efraim Pea Pr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian dan survei yang dipresentasikan pada hari pertama Muspas, katanya, adalah alat untuk menggambarkan situasi  riil umat agar kita dapat mengerti dengan mudah dan jelas. Survei tersebut bukan tawaran solusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data itu jelas memperlihatkan bahwa komunitas umat basis bukanlah hanya sebuah komunitas doa dan yang merayakan ekaristi, tapi sebuah komunitas yang punya kepedulian terhadap masalah-masalah konkret seperti kesehatan, kemiskinan dan masalah sosial lainnya. Komunitas basis harus bisa menggerakkan semua anggotanya untuk bertanggung jawab secara sosial. Dia harus peduli dengan nasib orang lain yang disebut sentimen sosial. “Karena itulah maka komunitas basis itu disebut komunitas perjuangan. Karena anggotanya berjuang bersama-sama untuk memecahkan masalah sosial, semisal kemiskinan, kesehatan dan lain-lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, lanjutnya, yang menjadi kendala adalah masih belum maksimalnya kemampuan fungsionaris pastoral di komunitas basis. Data menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus komunitas basis (33%) berpendidikan sekolah dasar. Kemampuan mengelola komunitas masih kurang. “Kita harus realistis karena mayoritas masyarakat kita juga tamat sekolah dasar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga bilang, banyak yang menilai fungsionaris pastoral belum sesuai harapan. Hal ini bisa dimengerti kalau terjadi konflik di komunitas basis, orang tidak pergi komunitas basis tapi ke tokoh masyarakat atau pemerintah. Memang banyak keluhan juga bahwa banyak orang tidak mau jadi pengurus komunitas basis. “Mungkin saja karena tidak ada gajinya, orang tidak mau repot dengan urusan agama dan karena sibuk dengan pekerjaannya sendiri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena beda sekali, misalnya di kampung, orang rebut jadi ketua RT atau rebut jadi kepala desa. Mungkin karena ada uangnya. Sementara komunitas basis ini hanya mengandalkan sukarela”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatasi masalah ini, ke depannya kita akan melakukan pendampingan yang berkelanjutan terhadap fungsionaris pastoral. “Muspas ini akan membicarakan apa yang mau dibuat untuk meningkatkan kemampuan fungsionaris pastoral komunitas basis”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bagus bahwa ada semangat doa dan merayakan ekaristi di dalam komunitas basis kita, tapi “jangan sampai sifatnya hanya spiritualistis semata” karena “iman tanpa perbuatan adalah mati”. “Kita jangan lupa bahwa spiritualitas kita harus berbuah dalam pelayanan”.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5152548533903819952?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5152548533903819952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/ada-perubahan-besar-pada-kub.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5152548533903819952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5152548533903819952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/ada-perubahan-besar-pada-kub.html' title='Ada Perubahan Besar pada KUB'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi_LS0Cc7I/AAAAAAAAAO0/qEZd0L4lzKU/s72-c/romo+feri+deidhae.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6804382413166364896</id><published>2010-08-15T21:24:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T21:27:50.174-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Aspek Kerygma Perlu Ditingkatkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perlu Menimba Inspirasi dari Kitab Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi-MGlsEXI/AAAAAAAAAOs/yDLCr_Z4JF4/s1600/herman+tambuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi-MGlsEXI/AAAAAAAAAOs/yDLCr_Z4JF4/s200/herman+tambuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505859659596829042" /&gt;&lt;/a&gt;ENDE (FLORES POS) -- Dari hasil olahan tim Komisi Kateketik (Komkat) Keuskupan Agung Ende yang dipresentasikan pada hari pertama  terlihat bahwa dinamika kehidupan komunitas umat basis mulai bagus, namun aspek kerygma (pewartaan) yang diinspirasi oleh Kitab Suci masih perlu ditingkatkan dan didorong terus menerus, kata Ketua Komkat Herman Tambuk, Kamis (8/7) kemarin di aula Paroki Mautapaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon umat di komunitas basis terhadap bahan-bahan katekese cukup bagus. Bahan-bahan katekese tersebut membicarakan  evaluasi keadaan komunitas basis sehingga peserta mendapat gambaran terkini. Aspek kedua adalah peran fungsionaris pastoral dalam kehidupan komunitas basis, dan aspek ketiga adalah peran umat sebagai subjek pastoral.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari proses ini, tampak sekali bahwa dalam komunitas basis kita ada kebersamaan yang cukup baik dan harmonis. Doa dan merayakan ekaristi bersama cukup baik dan ada semangat solidaritas dan pelayanan diakonia yang cukup bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kurang yang perlu ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian adalah aspek kerygma (pewartaan). Dari survei dan dari sesi diskusi pada presentasi hasil penelitian kita mendapat input bahwa Kitab Suci belum menjadi jantung kehidupan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umat kita hanya mendalami Kitab Suci pada bulan September”. Ini berarti, katanya, penggunaan Kitab Suci dalam komunitas basis masih kurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan yang muncul dari peserta  bahwa  mereka  takut salah menafsirkan kitab suci karena wewenang itu ada pada magisterium, namun yang harus didorong adalah “bagaimana hidup kita dilihat dalam terang kitab suci”. Intervensi yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah “kita berusaha mengumpulkan teks-teks, perikop-perikop kitab suci yang berkaitan dengan kehidupan komunitas basis, teks-teks tersebut itu dibagikan kepada umat untuk dipakai pada waktu doa mingguan”.&lt;br /&gt;Agar komunitas basis itu sungguh menjadi sebuah organisme yang hidup, perlu ada pendampingan berkelanjutan, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Ketua DPRD Nagekeo Thomas Tiba Owa mengatakan, untuk memberdayakan komunitas basis diperlukan keterlibatan semua pihak. Banyak orang enggan menjadi pengurus komunitas basis karena gensi dan menghindar dari tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua kita adalah umat Allah dan kita perlu mengambil bagian dalam tugas bersama tersebut,” katanya.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6804382413166364896?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6804382413166364896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/aspek-kerygma-perlu-ditingkatkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6804382413166364896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6804382413166364896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/aspek-kerygma-perlu-ditingkatkan.html' title='Aspek Kerygma Perlu Ditingkatkan'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi-MGlsEXI/AAAAAAAAAOs/yDLCr_Z4JF4/s72-c/herman+tambuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3016219376523479773</id><published>2010-08-15T21:20:00.001-07:00</published><updated>2010-08-15T21:23:11.999-07:00</updated><title type='text'>Muspas: Retret Agung dan Hari-Hari Kerja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi9GXz04DI/AAAAAAAAAOk/k5SgP5xO6do/s1600/romo+cyrilus+lena.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi9GXz04DI/AAAAAAAAAOk/k5SgP5xO6do/s200/romo+cyrilus+lena.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505858461628686386" /&gt;&lt;/a&gt;ENDE -- DIREKTUR  Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende Romo Cyrilus Lena Pr mengatakan, Musyawarah Pastoral (Muspas) VI adalah sebuah retret agung karena seluruh peserta Muspas “melakukan reflekasi bersama” disamping sebagai “hari kerja untuk menghasilkan perencanaan pastoral keuskupan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Cyrilus dalam konferensi pers di Puspas Keuskupan Agung Ende, Sabtu (3/7) menegaskan kembali komitmen keuskupan untuk mendorong partisipasi umat  untuk terlibat penuh dan aktif-sadar dalam seluruh reksa pastoral Gereja Keuskupan Agung Ende.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan, katanya, dalam reksa pastoralnya ingin menjadikan umat sebagai subjek dari pastoralnya. Karena itu Muspas adalah musyawarah umat sehingga fokusnya juga adalah umat. “Allah menyatakan DiriNya  dalam kehidupan riil umat sehingga  Allah dialami oleh umat melalui kehidupannya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umat akan menjadi subjek pastoral dan mereka juga yang melaksanakannya  sehingga umat menjadi saksi kebenaran, keadilan dan cinta kasih,” katanya.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3016219376523479773?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3016219376523479773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/muspas-retret-agung-dan-hari-hari-kerja.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3016219376523479773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3016219376523479773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/muspas-retret-agung-dan-hari-hari-kerja.html' title='Muspas: Retret Agung dan Hari-Hari Kerja'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGi9GXz04DI/AAAAAAAAAOk/k5SgP5xO6do/s72-c/romo+cyrilus+lena.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8603257883285354141</id><published>2010-08-15T21:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-15T21:17:13.710-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='universitas katolik'/><title type='text'>Catholic Education prefect: Only universities with strong Catholic identity will last</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;20th Anniversary of Ex Corde Ecclesiae&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatican City, Aug 13, 2010 / 03:04 pm &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/news/catholic-education-prefect-only-universities-with-strong-catholic-identity-will-last/"&gt;(CNA/EWTN News)&lt;/a&gt;.- "Only the Catholic university that conserves its identity will have a future," said the prefect of the Congregation for Catholic Education just days before the 20th anniversary of John Paul II's document “Ex Corde Ecclesiae.” Cardinal Zenon Grocholewski, in speaking about the continued relevance of the document on Catholic higher education, explained that if a Catholic university loses its identity, it becomes just like any other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Apostolic Constitution “Ex Corde Ecclesiae,” which established guidelines for the functioning of Catholic universities, was presented by Pope John Paul II 20 years ago this Sunday. Cardinal Zenon Grocholewski, prefect of the Congregation for Catholic Education and prefect emeritus of the Apostolic Signatura, spoke with CNA about the importance of the document on Friday.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;According to Cardinal Grocholewski, two motivations led John Paul II to write the document. The first was the "importance" that he attributed to the Catholic university, which, he said, the Pope himself explains best at the end of the document in an exhortation for Catholic witness. The second reason, the prefect pointed out, was that John Paul II believed it was necessary to create legislation outlining the nature and mission of Catholic universities, while giving them juridical norms for their creation and the composition of their faculty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Success Stories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ex Corde Ecclesiae” has produced "great results," he said, most of all we can see this in the foundation of so many Catholic universities "with a clear disposition" since its publication in 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citing the creation of more than 250 Catholic universities during Pope John Paul II's pontificate, he said, "many of these have had a guideline from the very beginning, a clear vision of what a Catholic university should be."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This has been especially significant in African and ex-Communist countries, he explained. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I think that many universities, also based on this document, have strengthened their identities, which is very important," he added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fidelity to the Magisterium&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CNA asked the cardinal about certain challenges that have come up in the course of applying norms for John Paul II's ideal for the Catholic university, such as the need for a "mandatum," a statement from the local bishop that assures theologians are in communion with the Church's teachings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The cardinal prefect said that this is a question of methodology as with any other field of study. He explained that "to be a theologian, one must believe in the Sacred Scriptures and Tradition and must be united to the Magisterium (teaching) of the Church."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is a rather risky assumption if a single person wishes to be more important than the Magisterium of the Church," he remarked.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catholic Identity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When asked about the requirement for Catholic institutions of higher learning to promote their Catholic identity, even with non-Catholic faculty members, the cardinal replied that all professors have a "responsibility" in this sense to the Church, and before science and the world. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"In the Catholic university people who are not Catholic can also teach, but they are obligated to respect the Catholic identity."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reflecting on the application of the Apostolic Constitution today, Cardinal Grocholewski said that it remains "current everywhere." He considers it to be an "stupendous" document that "gives spirit to the Catholic university." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To the cardinal, "the Catholic university that conserves its own identity, as was delineated in Ex Corde, truly has a future and will contribute to the good of society," while seeking to be an interlocutor between cultures and a force for progress. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stressing the importance of Catholic schools retaining their roots, the cardinal said that "if the Catholic university loses its identity, it's similar to all the other universities, practically it becomes less significant and this is a big challenge, or a big problem."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He noted that his congregation has received protests from people who attended Catholic universities, who have said that the education being offered was not in line with Church teaching. They have said that if the institution does not offer a Catholic education while claiming to be Catholic, it is "hypocritical and lying."&lt;br /&gt;"I think they are right," said the cardinal prefect," and the same goes for Catholic grade schools, he said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I think that only the Catholic university that conserves its identity will have a future."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ex Corde Ecclesiae,” he said, "does not demand a 'grand reform,' the document is current, it is a very realistic approach, and in itself it has a great dynamism to make the Catholic university important in today's world ... where, as we know there is a cultural and moral relativism that creates so much damage."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is needed in the modern context of permissibility and relativity, he said, is "the Catholic university that defends the truth, the objective truth."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Model Catholic University&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no specific model Catholic university in the world, noted Cardinal Grocholewski. Universities should not compare themselves to each other, he also advised, "rather they should turn to the document which is fundamental for the Catholic university, which is 'Ex Corde Ecclesiae'.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"There," he said, "the ideal of the Catholic university is outlined, and I think that studying this document is much more productive" than looking to the "diverse realities" of other universities for direction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asked about Pope Benedict XVI's perspective on Catholic education today, the cardinal prefect said he is "a great enthusiast of the Catholic university. He practically rejoices when he sees that the Catholic university, (as) it progresses, preserves its identity ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The current Pope, he said, has encouraged him to continue "to fight for the Catholic university."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8603257883285354141?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8603257883285354141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/catholic-education-prefect-only.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8603257883285354141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8603257883285354141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/catholic-education-prefect-only.html' title='Catholic Education prefect: Only universities with strong Catholic identity will last'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4525980974913334284</id><published>2010-08-11T20:09:00.000-07:00</published><updated>2010-08-11T20:11:08.087-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catholic health systems'/><title type='text'>Report says quality of Catholic health systems higher than others</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1003243.htm"&gt;By Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASHINGTON (CNS) -- Catholic and other church-owned health systems demonstrate greater quality and efficiency than not-for-profit or investor-owned systems, according to a new analysis by Thomson Reuters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The analysis released Aug. 9 divided 255 U.S. health systems into four ownership categories and then compared them according to eight performance measures, including mortality rates, complications, patient safety, readmission rates and average length of stay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Catholic and other church-owned systems are significantly more likely to provide higher quality performance and efficiency to the communities served than investor-owned systems," said a report prepared by David Foster of Thomson Reuters' Center for Healthcare Improvement in Ann Arbor, Mich.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Catholic health systems are also significantly more likely to provide higher quality performance to the communities served than secular not-for-profit systems," it added. "Investor-owned systems have significantly lower performance than all other groups."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sister Carol Keehan, a Daughter of Charity who is president and CEO of the Catholic Health Association, said that in Catholic hospitals, "quality is a primary commitment flowing from mission."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Everyone from the sponsors, boards, clinicians and support staff takes it very seriously," she told Catholic News Service Aug. 9. "We are pleased to see this independent confirmation of the success of our efforts."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foster's report said the responsibility for quality of care is delegated to local hospital governing boards in most health systems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Our data suggest that the leadership teams (board, executives, and physician and nursing leaders) of health systems owned by churches may be the most active in aligning quality goals and monitoring achievement across the system," he said. "Investor-owned health system boards and/or executive leadership may be adopting a responsibility for quality more slowly."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The report said further study is needed "to definitely determine why these differences exist and what effect they will have on the systems' future health."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The data analyzed in the report was drawn from an earlier study by Thomson Reuters that named the nation's 100 top hospitals, based on a variety of performance benchmarks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4525980974913334284?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4525980974913334284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/report-says-quality-of-catholic-health.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4525980974913334284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4525980974913334284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/report-says-quality-of-catholic-health.html' title='Report says quality of Catholic health systems higher than others'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6547586895188432137</id><published>2010-08-10T20:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T20:23:21.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Kaum Muda Mendapat Perhatian Muspas</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kaum Muda Perlu Mendapat Perhatian Gereja &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDE (FLORES POS) -- Reksa pastoral untuk orang muda Katolik (OMK) cukup mendapat perhatian peserta terutama dari kelompok kaum muda dalam sesi diskusi setelah presentasi tim Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Agung Ende pada hari kedua Muspas VI, Rabu (7/7) di aula Paroki Mautapaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGIXl9WpEEI/AAAAAAAAAOc/ZBmfi9IF6JE/s1600/peserta+muspas+dari+kaum+muda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGIXl9WpEEI/AAAAAAAAAOc/ZBmfi9IF6JE/s200/peserta+muspas+dari+kaum+muda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503987635492294722" /&gt;&lt;/a&gt;Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas Keuskupan Agung Ende Romo Feri Deidhae Pr dalam presentasi hasil survei menyebutkan bahwa keterlibatan kaum muda di dalam kehidupan komunitas umat basis masih belum maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan salah satunya, paling tidak dari survei yang dilakukan, jumlah orang muda (berusia 15-45 tahun dan belum menikah) di cukup banyak komunitas umat basis sangat kurang, rata-rata 7 persen dan di beberapa paroki hampir nol persen.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Fenomena ini memproyeksikan masa depan gereja hanya mengandalkan orang tua dan anak-anak. Selain itu masyarakat Keuskupan Agung Ende akan mengalami kekurangan tenaga kerja serta kaum intelektual (brain drain). Data ini diperkuat dengan jumlah usia non produktif  yang cukup tinggi sebesar 42,65 persen,” kata tim survei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung Ende Mgr  Vincentius Sensi Potokota dalam sambutan pembukaan Muspas, Selasa (6/7) malam di Paroki Mautapaga juga menyinggung masalah serupa bahwa banyak tenaga-tenaga produktif dari keuskupan ini meninggalkan desa atau tempat kelahiran mereka untuk bekerja di luar Flores. Migrasi tenaga kerja ke luar Flores seperti ini tentu membawa persoalan tersendiri. Bahkan ketika mereka kembali ke Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marlyn, seorang peserta dari kelompok kaum muda dalam sesi diskusi mengatakan, dia berterima kasih karena tim mengangkat masalah kaum muda. Karena itu dia minta Muspas merencanakan pastoral kaum muda karena “kaum muda adalah masa depan gereja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veronika yang akrab disapa Veny, juga peserta dari kelompok kaum muda mengatakan, telah banyak terjadi krisis iman dan moral  di kalangan kaum muda. Dia berharap pada Muspas kali ini peserta mengkritisi situasi dan problem kaum muda dan merencanakan strategi pastoral yang memperkuat komitmen kaum muda dalam kehidupan menggereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pekan mudika yang digelar tiga tahun sekali tidaklah cukup untuk membina kaum muda. Dia minta kaum muda diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan “untuk membina sumber daya kaum muda yakni pembinaan yang sesuai dengan jiwa dan semangat orang muda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasinta dari OMK Kevikepan Bajawa juga setuju bahwa kegiatan Tri Hari Mudika tidak cukup untuk mengumpulkan dan membina kaum muda, sebab “banyak sekali terjadi perubahan-perubahan situasi saat ini”. Tiga hari kegiatan Mudika itu menyedot banyak biaya dan tenaga. “Memang ada kontribusi bagi masyarakat di tempat  kegiatan berupa kegiatan fisik,” namun menurut dia,  “pembinaan mental kaum muda perlu dilakukan secara periodik dan terencana”.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6547586895188432137?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6547586895188432137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/kaum-muda-mendapat-perhatian-muspas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6547586895188432137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6547586895188432137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/kaum-muda-mendapat-perhatian-muspas.html' title='Kaum Muda Mendapat Perhatian Muspas'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGIXl9WpEEI/AAAAAAAAAOc/ZBmfi9IF6JE/s72-c/peserta+muspas+dari+kaum+muda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-490581537756516979</id><published>2010-08-10T20:10:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T20:12:50.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Muspas Harus Hasilkan Dokumen Perencanaan Terukur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGIVDnjeE8I/AAAAAAAAAOM/ZmsAuSfiEb4/s1600/domi+mere.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGIVDnjeE8I/AAAAAAAAAOM/ZmsAuSfiEb4/s200/domi+mere.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503984846501712834" /&gt;&lt;/a&gt;ENDE -- MUSYAWARAH Pastoral (Muspas) VI sebagai kesempatan evaluasi, menyusun arah dasar dan strategi pastoral Keuskupan Agung Ende lima tahun ke depan hendaknya menghasilkan dokumen perencanaan yang hasilnya dapat terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Panitia Muspas VI dokter Dominikus M Mere, Selasa (6/7) di aula pertemuan Muspas mengatakan, apa yang ingin dicapai dari pertemuan ini adalah adanya strategi dan program kerja lima tahun yang punya tolok ukur dan indikator yang jelas sehingga nanti pada Muspas VII dapat dievalusi dan terukur pula pencapaiannya. “Sebab Muspas sama dengan rencana jangka panjang menengah (RPJM),” katanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat menghasilkan dokumen dan program kerja yang demikian, dia berharap seluruh peserta tetap terfokus pada kerangka acuan (term of reference) yang dibuat panitia. “Kita tidak boleh keluar dari kerangka acuan tersebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, jika pembahasan dalam Muspas keluar dari kerangka acuan yang diberikan, “kita tidak akan menghasilkan dokumen perencanaan  yang baik. Akibatnya perencanaan kita tidak terukur dan kita akan terus berada dalam proses. Sebab itu kita butuh indikator yang jelas”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-490581537756516979?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/490581537756516979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/muspas-harus-hasilkan-dokumen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/490581537756516979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/490581537756516979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/muspas-harus-hasilkan-dokumen.html' title='Muspas Harus Hasilkan Dokumen Perencanaan Terukur'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGIVDnjeE8I/AAAAAAAAAOM/ZmsAuSfiEb4/s72-c/domi+mere.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1820973347329485915</id><published>2010-08-10T06:58:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T07:03:33.158-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Kehidupan Komunitas Umat Basis Makin Maju</title><content type='html'>*Banyak Masalah Akan Digeluti dalam Diskusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDE (FLORES POS) -- Kehidupan komunitas umat basis di Keuskupan Agung Ende yang tersebar di 56 paroki (Ende 25 paroki dan Bajawa 31 paroki) dengan jumlah komunitas umat basis 4.531 (Ende 1.929 KUB dan Bajawa 2.602 KUB) sudah makin maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dilihat dari survei yang dilakukan tim Pusat Pastoral (Puspas) yang dilakukan selama setahun dalam rangka Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFbjWI1CVI/AAAAAAAAAOE/LNAtD5yXEWU/s1600/presentasi+penelitian.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 190px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFbjWI1CVI/AAAAAAAAAOE/LNAtD5yXEWU/s320/presentasi+penelitian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503780882419616082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Puspas Romo Feri Deidhae Pr bersama tim mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan hampir 400-an peserta Muspas yang memadati aula Paroki Mautapaga, Rabu (7/7). Herman Tambuk, Romo Feri Dheidae Pr, Romo Aleks Tabe Pr, Romo Yet Koten Pr, Romo Remigius Misa Pr dengan moderator Romo Stef Wolo Itu Pr, mempresentasikan hasil survei mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Secara umum dapat dikatakan KUB mengalami perkembangan maju. Perkembangan ini mungkin dipengaruhi oleh upaya-upaya pembenahan yang dilakukan selama lima tahun dan pemekaran komunitas umat basis serta peningkatan frekuensi serta jenis kegiatan,” kata tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kemajuan ini tidak disertai dengan potensi pengurus KUB yang menurut survei ini “agak buram” karena indeksnya 2,93 ( di bawah titik tengah). “Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan pengurus KUB yang mayoritas sekolah dasar (33,1%) dan sekolah lanjutan pertama (18,6%), pengurus belum mengikuti pelatihan (47,98%), kemampuan pengurus yang terbatas dalam menangani masalah di KUB dan pelaksanaan tugas yang dirasa belum sesuai harapan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas basis sebagai komunitas doa telah mengalami kemajuan, tetapi aspek kerygma (pewartaan) secara khusus pendalaman kitab suci belum maksimal. “Kebanyakan KUB mendalami kitab suci hanya pada bulan September”.  Menariknya bahwa komunitas basis sebagai komunitas perjuangan sudah mulai tampak dalam pertemuan untuk membahas masalah bersama di KUB, namun “tidak tuntas sampai menemukan solusi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas yang dibangun dalam KUB juga mulai tampak terutama solidaritas kematian, kebiasan tolong menolong. Ada warna persaudaraan dalam KUB. Partisipasi umat dalam kehidupan komunitas basis juga tinggi seperti partisipasi dalam kegiatan rohani, partisipasi dalam kegiatan sosial (89,51%) dan partisipasi umat dalam pengumpulan dana (88,27%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya kinerja pengurus KUB, dari survei diketahui, disebabkan kurangnya pendampingan. Dari survei KUB diketahui cukup banyak fungsionaris KUB (47,98%) belum pernah mengikuti pelatihan, meskipun banyak umat yang menilai bahwa pengurus KUB yang pernah mengikuti pelatihan semakin baik dalam kinerjanya jika dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya (67,8%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kemajuan-kemajuan ini, juga masih ditemukan masalah-masalah seperti kemiskinan, kesehatan, lingkungan hidup, migrasi ilegal. “Ciri KUB sebagai komunitas basis perjuangan mesti diwujudkan dalam keterlibatan dan kompetensinya menangani masalah-masalah yang dihadapi anggotanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kemajuan yang telah dicapai tapi masih banyak pula persoalan baik internal maupun eksternal Gereja Keuskupan Agung Ende yang harus disikapi komunitas basis. Mulai Rabu (7/7) kemarin, peserta Muspas terlibat aktif dalam diskusi-diskusi yang intens untuk menyikapi masalah-masalah pastoral gereja Keuskupan Agung Ende dan menyusun arah dasar dan strategi pastoral lima tahun ke depan.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1820973347329485915?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1820973347329485915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/kehidupan-komunitas-umat-basis-makin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1820973347329485915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1820973347329485915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/kehidupan-komunitas-umat-basis-makin.html' title='Kehidupan Komunitas Umat Basis Makin Maju'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFbjWI1CVI/AAAAAAAAAOE/LNAtD5yXEWU/s72-c/presentasi+penelitian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2647871091878855450</id><published>2010-08-10T06:53:00.001-07:00</published><updated>2010-08-10T06:55:07.078-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Tanda-Tanda Kedewasaan Iman Sudah Muncul</title><content type='html'>Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFaJ7K8w_I/AAAAAAAAAN8/l5jj3X5p36s/s1600/robert+mirsel.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFaJ7K8w_I/AAAAAAAAAN8/l5jj3X5p36s/s200/robert+mirsel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503779346172396530" /&gt;&lt;/a&gt;ENDE -- SOSIOLOG, yang juga dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Pater Robert Mirsel SVD menilai, dari presentasi hasil survei yang dilakukan tim pastoral Keuskupan Agung Ende, sudah ada tanda-tanda yang mencerminkan dan merefleksikan bahwa iman umat makin dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai presentasi hasil survei tim pastoral Keuskupan Agung Ende, Rabu (7/7/2010) di aula Paroki Mautapaga, dia mengatakan, komunitas-komunitas basis di Keuskupan Agung Ende tidak lagi melihat agama sebagai “hal dari luar” melainkan “sudah menjadi bagian integral” dari kehidupan umat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Dalam kehidupan sehari-hari kita lihat agama tidak lagi menjadi sesuatu yang sekunder atau tempelan melainkan bagian integral dari kehidupan harian umat, meski dari hasil survei menyebutkan bahwa doa dan urusan administratif di komunitas umat basis mendapat persentase tinggi dibandingkan merefleksikan kitab suci”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang, dari survei kelihatan bahwa agama tidak lagi sekadar ritual namun sudah makin mencerminkan wajah gereja yang cukup dewasa dalam hal iman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, presentasi data-data survei ini hendaknya menjadi “satu momen penyadaran supaya jangan hanya dimengerti secara intelektual tapi membangkitkan sense of belongings, rasa memiliki bahwa inilah masalah yang kita hadapi dan kita membangun komitmen bersama untuk mengatasinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah klasik yang kita sering hadapi seperti yang disebutkan dalam survei yakni kemiskinan, masalah kaum muda, dan kawin pintas, misalnya, tidak perlu bertanya siapa yang paling yang bertanggung jawab apakah komunitas basis atau fungsionaris pastoral. “Sebaliknya Muspas ini harus menjadi momen metanoia kolektif dan pribadi untuk melihat berbagai kemajuan dan mengusahakan yang belum maksimal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara metodologis survei sudah bagus. Menariknya, katanya, dalam Muspas ini fungsionaris pastoral dinilai oleh umat dan fungsionaris pastoral menilai dirinya sendiri (self assessment).*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2647871091878855450?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2647871091878855450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/tanda-tanda-kedewasaan-iman-sudah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2647871091878855450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2647871091878855450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/tanda-tanda-kedewasaan-iman-sudah.html' title='Tanda-Tanda Kedewasaan Iman Sudah Muncul'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFaJ7K8w_I/AAAAAAAAAN8/l5jj3X5p36s/s72-c/robert+mirsel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4345283738928855365</id><published>2010-08-10T06:44:00.000-07:00</published><updated>2010-08-10T06:49:41.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muspas'/><title type='text'>Uskup Agung Membuka Muspas VI</title><content type='html'>*Kemiskinan Masih Menjadi Masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDE (FLORES POS) -- Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota membuka Musyawarah Pastoral (Muspas) VI Keuskupan Agung Ende dalam sebuah perayaan ekaristi di Paroki Mautapaga, Selasa (6/7/2010) sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFYZ3JwNFI/AAAAAAAAAN0/v4l3AUhYicY/s1600/uskup+agung+ende.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFYZ3JwNFI/AAAAAAAAAN0/v4l3AUhYicY/s200/uskup+agung+ende.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503777420948288594" /&gt;&lt;/a&gt;Hadir dalam perayaan ekaristi pembukaan Muspas VI ini Vikjen Keuskupan Agung Ende Pater Yosef Seran SVD, Provinsial SVD Ende Pater Konrad Kebung Beoang SVD, Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr dan Vikep Bajawa Romo Hengky Sareng Pr, Direktur  Puspas Romo Cyrilus Lena Pr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemerintah hadir Bupati Ende Don Bosco M Wangge, Sekda Ngada Moses Meda, Ketua DPRD Ngada Kristoforus Loko, Ketua DPRD Nagekeo Gaspar Batu Bata dan ketua DPRD Ende Marsel  Petu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Muspas VI berlangsung selama setahun sejak pencanangannya oleh Uskup Sensi pada tanggal 16 Agustus 2009 di Gereja Katedral Ende. Tema perayaan ekaristi “Demikian Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung ini dalam kotbah ekaristi pembukaan mengatakan, Muspas bukanlah hal baru karena “Kita sudah menyelenggarakan Muspas untuk kesekian kalinya”.  Namun Uskup Sensi mengatakan, Muspas harus bisa mengakomodasi dan menerima aspirasi dari umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup mengajak peserta Muspas untuk menyandarkan diri pada kekuatan Allah untuk membahas dan merancang perencanaan pastoral keuskupan lima tahun ke depan. “Karena Pastoral Gereja adalah karya kasih Allah”. “Kita merefleksikan pastoral kita di masa lalu dan bersama-sama dalam Muspas merefleksikan apa maunya Tuhan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia minta agar peserta dalam pergumulannya selama Muspas sungguh mendengar Roh Allah sendiri, sebab Roh Allah berembus ke mana dia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutannya Uskup Agung ini tidak menampik berbagai kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam kehidupan komunitas basis seperti adanya partisipasi aktif dari para fungsionaris pastoral dan umat beriman. “Saya bangga dengan kemajuan ini”. &lt;br /&gt;“Sudah banyak komunitas umat basis dan paroki yang makin kuat dan mandiri. Tidak kurang juga umat berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan menggereja. Mereka begitu bersemangat. Malah ada DPP awam jauh lebih keras dari para imam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Uskup mengingatkan bahwa masih banyak umat Katolik di Keuskupan Agung Ende dililit kemiskinan. Masalah ini merupakan pekerjaan rumah pastoral yang masih perlu dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih banyak rencana aksi yang belum cukup digerakkan untuk membuat perubahan dan kita belum mampu mengentas kemiskinan yang dialami mayoritas umat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja, katanya, sudah melakukan kampanye hidup hemat dan menabung. Bahkan Keuskupan mendirikan credit union Gerbang Kasih. Gereja Katolik, kata Uskup, mengambil bagian dalam prakarsa pangan lokal untuk menghindari umat dari kelaparan. Bahkan para uskup se-Nusa Tenggara mengikarkan pastoral yang peduli petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup merasa cemas dengan makin banyaknya generasi muda yang tidak terserap oleh lapangan kerja sehingga harus meninggalkan tempat kelahirannya mencari kerja di luar Flores. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, gereja Keuskupan Agung Ende berhadapan dengan masalah hak asasi manusia, politik, dan lingkungan hidup. “Muspas juga akan diisi oleh permenungan tentang masalah-masalah klasik yang dihadapai oleh umat dan kita dipanggil untuk menjawabi situasi tersebut sehingga Gereja menjadi tanda keselamatan bagi semua orang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Umat sebagai Subjek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Uskup menegaskan lagi bahwa umat tidak hanya dan tidak lagi menjadi fokus dari karya pastoral Gereja tetapi menjadi subjek pastoral. Hal ini dimungkinkan oleh Roh Tuhan karena Roh Tuhan bertiup ke mana saja dia mau. Karena itu Gereja perlu mendengar suara dari umat sederhana karena suara mereka merupakan percikan Roh Allah, sehingga Muspas harus menjadi ruang bagi Roh Allah untuk berbisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konkretnya perlu ada keterbukaan dan lapang hati untuk saling mendengarkan. Kita belajar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Bupati Ende Don Bosco M Wangge dalam sambutannya mengatakan,  pemerintah dan Gereja mengemban tugas yang sama yakni mensejahterakan rakyat, meski berbeda bidang kerja. Dia bilang, Muspas punya makna strategis terutama dalam kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan UU No. 32/2004 mengenai asas desentralisasi, yang berbasiskan akar rumput dengan semangat kemandirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati mengajak Gereja Katolik untuk terus membangun kerja sama terutama di bidang pertanian dan secara bersama-sama mendorong gerakan swasembada pangan terutama pangan lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati mengatakan pemerintah menerima berbagai kritikan dan saran berkaitan dengan kebijakan pemerintah kalau hal itu muncul di dalam Muspas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati berterima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh Gereja dalam membangun masyarakat dan dia berharap kerja sama ini terus ditingkatkan ke depan. “Kita tidak dapat menyangkal peran Gereja dalam membangun manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua umum panitia Domi M Mere dalam laporannya mengatakan, persiapan Muspas berlangsung selama setahun. Selama setahun itu pula panitia bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta menginap di rumah-rumah umat untuk mempererat kebersamaan dalam keluarga sebagai unit terkecil dari komunitas basis.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4345283738928855365?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4345283738928855365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/uskup-agung-membuka-muspas-vi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4345283738928855365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4345283738928855365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/08/uskup-agung-membuka-muspas-vi.html' title='Uskup Agung Membuka Muspas VI'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TGFYZ3JwNFI/AAAAAAAAAN0/v4l3AUhYicY/s72-c/uskup+agung+ende.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6758226531717945292</id><published>2010-07-04T20:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T20:26:29.629-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soccer'/><title type='text'>Growth in immigrant communities seen fostering love for soccer in US</title><content type='html'>By Paul Sanchez&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1002719.htm"&gt;Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PORT CHESTER, N.Y. (CNS) -- Before and during the 2010 World Cup games being played in South Africa until July 11, there have been numerous articles and editorials in the American press about what has traditionally been a lack of interest in the World Cup in the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These sentiments were boldly expressed in a May 6 article in The New York Times headlined "Most Popular Soccer Team in the U.S.: Mexico?" It detailed the successes of the Mexican national team and the pride Mexicans in the United States have for that team.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But what seems missing in a lot of the coverage is how the growth of this country's immigrant population may be responsible for a growing U.S. interest in the sport, because immigrants are bringing with them their passion for their national sport.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Not to mention that many of these immigrants also are bringing their Catholic faith to their new home. Many come from predominantly Catholic countries, such as Latin American nations, and account for much of the recent growth of the U.S. Catholic Church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(And not a few stories in the Catholic press have highlighted the strong Catholic faith of many of the current players.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latin America was well represented among the 32 teams that qualified for the 2010 World Cup. And among the eight teams heading into the Cup's quarterfinals were Brazil, Uruguay, Argentina and Paraguay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One U.S. community noted for its diverse Latin American population is Port Chester in Westchester County. Virtually all Latin American nations seem to be represented there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One popular locale for the area's massive Brazilian community to watch the games has been Churrascaria Copacabana, a steakhouse with many television screens in the outside bar area.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anderson Moretti, a native of Sao Paolo, who is the general manager of Copacabana, feels that the World Cup brings the Brazilian community in the United States closer together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You can see all the families coming together to watch the matches. It is as big in the Brazilian community here as it is in the U.S. People like to dress up in the colors and team jerseys," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moretti said that after a Latino country is eliminated, people from that country will root for another Latino country to win it all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The New York City borough of the Bronx is noted for having communities of almost every immigrant group imaginable, with Latino groups being the most prevalent. However, in the Belmont section of the Bronx, a traditional Italian-American stronghold, both Italian-born people and people of Italian descent had geared up for the World Cup long in advance of the opening game June 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stan Petti, owner of Full Moon Pizzeria, has had a recent poster of the Italian team hanging in his restaurant for months. Petti, a native of Italy's province of Salerno who came to the United States in 1972, has been talking about Italy's chances in the 2010 Cup with his patrons, both Italians and non-Italians, for several months. The restaurant shows many of the games on widescreens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The World Cup is a big event in the Italian community because it is a part of our culture. We have followed the World Cup since we were kids," he said. "Besides, if the Italian team does well, it is nice to show off our flag."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belmont in the past 20 years has seen an influx of Mexican immigrants who live and work in the neighborhood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petti said he sees the World Cup as a unifying force for the Italians, Latino groups and Albanians in the neighborhood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The World Cup certainly brings people of different backgrounds together, and it does not have to be about the players or different teams but also the referee and the country where the game is played," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusty Chorro Serpas, a native of El Salvador who eats lunch regularly at the Full Moon, feels that Salvadorans love soccer so much that they got over the disappointment of their country failing to qualify for the World Cup and were still following the games out of their intense love of soccer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I can come in here almost every day to eat lunch, and every day I can talk about the World Cup with people from different countries -- Mexico, Colombia, Italy, Argentina, Brazil, Portugal and so many more," he said. "The World Cup is both a unifier and a way of life. When it is over, I can't wait for another four years to pass!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6758226531717945292?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6758226531717945292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/07/growth-in-immigrant-communities-seen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6758226531717945292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6758226531717945292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/07/growth-in-immigrant-communities-seen.html' title='Growth in immigrant communities seen fostering love for soccer in US'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-7597397108269540987</id><published>2010-07-04T20:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T20:20:49.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vatican'/><title type='text'>Pope names Quebec cardinal head of Congregation for Bishops</title><content type='html'>By Cindy Wooden&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1002698.htm"&gt;Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VATICAN CITY (CNS) -- Pope Benedict XVI has named Canadian Cardinal Marc Ouellet of Quebec to be the new prefect of the Congregation for Bishops, the office that helps the pope choose bishops for Latin-rite dioceses around the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TDFPdQ3HqvI/AAAAAAAAANs/waeqFL2_ThE/s1600/Cardinal+Marc+Ouellet+of+Quebec.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 187px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TDFPdQ3HqvI/AAAAAAAAANs/waeqFL2_ThE/s200/Cardinal+Marc+Ouellet+of+Quebec.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490256784902302450" /&gt;&lt;/a&gt;Cardinal Ouellet, 66, will succeed Cardinal Giovanni Battista Re, 76, who has headed the congregation since 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The appointment was announced at the Vatican June 30. In addition to serving as prefect of the congregation, Cardinal Ouellet also will be president of the Pontifical Commission for Latin America, which promotes cooperation between the various offices of the Vatican and the Latin American bishops' council.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cardinal Ouellet welcomed his appointment to one of the Vatican's most powerful posts "with gratitude, but also with a sense of fear," at a June 30 news conference at the headquarters of the Archdiocese of Quebec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In that role, he will head the office that advises the pope in choosing the world's bishops.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The holy father has to be very informed, with clarity, with authenticity in order to make a good decision. So it is a difficult task," said Cardinal Ouellet, the primate of Canada and the first North American cardinal to be put in charge of the bishops congregation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The cardinal said that while he views the appointment as "a mark of great confidence," he feels fear because his new post presents him with a "difficult" and "huge" responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The cardinal, stressing the importance of the prefect, said bishops play a key role in the life of the church and have to be clever, prudent and patient in working with the rest of the church community. He said he would help bishops be good bishops while respecting their individual styles and personalities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ouellet said he expects to officially take over as prefect of the Congregation of Bishops at the end of August or the beginning of September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cardinal Ouellet is no stranger to Rome or the Roman Curia, but he also has the direct pastoral experience of leading a large archdiocese.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basilian Father Thomas Rosica, founder and CEO of Canada's Salt and Light Television, said, "The Curia is only as effective as the seasoned shepherds who lead the various departments" and "the Congregation for Bishops, in particular, must embody what it strives to do: prepare shepherds and pastors to the universal church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Under the leadership of Cardinal Ouellet, I believe that the Congregation for Bishops will do great work in a very challenging time," Father Rosica said in an e-mail interview with Catholic News Service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cardinal Ouellet had studied in Rome and returned to the city to teach in 1996. A year later, he was appointed chair of dogmatic theology at the John Paul II Institute for Studies on Marriage and the Family.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 2001, he was named a bishop and appointed secretary of the Pontifical Council for Promoting Christian Unity. He also served on the Commission for Religious Relations With the Jews.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 2002 Pope John Paul II named him archbishop of Quebec and in 2003 he made him a cardinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was one of only two cardinals chosen to deliver major speeches to the two-day World Meeting of Priests that preceded the closing of the Year for Priests with Pope Benedict in early June.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He spoke to the priests June 10 about an "unprecedented wave of challenges against the church and the priesthood following the revelation of scandals whose gravity we must recognize and sincerely work to repair."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"But beyond the necessary purification our sins require, we must also recognize that at the present moment there is open opposition to our service to the truth and there are attacks from both outside and inside that aim to divide the church. We pray together for the unity of the church and for the sanctification of priests, these heralds of the good news of salvation," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cardinal Ouellet has a reputation as an inspiring theologian whose teaching is close to that of Pope Benedict.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope named him a member of the Synod of Bishops on the Eucharist in 2005 and he was elected to head the commission that drafted the synod's final message. In 2008, he hosted the International Eucharistic Congress in Quebec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Born June 8, 1944, in La Motte, Quebec, he earned a degree in theology from the University of Montreal in 1968 and was ordained a priest for the Montreal Archdiocese. He joined the Sulpician order in 1972 and was sent to Rome to study philosophy at the Pontifical University of St. Thomas Aquinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He taught at seminaries in Colombia and Montreal before earning his doctorate in dogmatic theology from Rome's Pontifical Gregorian University in 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He later served as rector of seminaries in Manizales, Colombia, in Montreal and in Edmonton, before returning to Rome to teach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cardinal Ouellet speaks French, English, Italian, German and Spanish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- - -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contributing to this story was Adeshina Emmanuel in Washington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-7597397108269540987?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/7597397108269540987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/07/pope-names-quebec-cardinal-head-of.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7597397108269540987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7597397108269540987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/07/pope-names-quebec-cardinal-head-of.html' title='Pope names Quebec cardinal head of Congregation for Bishops'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/TDFPdQ3HqvI/AAAAAAAAANs/waeqFL2_ThE/s72-c/Cardinal+Marc+Ouellet+of+Quebec.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2691597346688498994</id><published>2010-07-04T20:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-04T20:11:46.592-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catholic'/><title type='text'>Pope announces formation of pontifical council for new evangelization</title><content type='html'>By Cindy Wooden&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1002665.htm"&gt;Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VATICAN CITY (CNS) -- Pope Benedict XVI announced he is establishing a pontifical council for new evangelization to find ways "to re-propose the perennial truth of the Gospel" in regions where secularism is smothering church practice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leading an evening prayer service June 28 at Rome's Basilica of St. Paul Outside the Walls, Pope Benedict said there are areas of the globe that have been known as Christian for centuries, but where in the past few centuries "the process of secularization has produced a serious crisis" in people's sense of what it means to be Christian and to belong to the church.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"I have decided to create a new organism, in the form of a pontifical council, with the principal task of promoting a renewed evangelization in the countries where the first proclamation of faith has already resounded and where there are churches of ancient foundation present, but which are living through a progressive secularization of society and a kind of 'eclipse of the sense of God,'" he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The challenge, he said, is to find ways to help people rediscover the value of faith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope did not say what the formal name of the pontifical council would be and he did not announce who would head it, although in the weeks leading to the announcement, Vatican commentators suggested it would be Italian Archbishop Rino Fisichella, currently president of the Pontifical Academy for Life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pope Benedict made the announcement at the basilica built over what is believed to be the tomb of St. Paul, who dedicated "his entire existence and his hard work for the kingdom of God," the pope said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pontifical Council for Health Care Ministry, established by Pope John Paul II in 1985, was the last pontifical council created.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope's evening prayer service marked the vigil of the feast of Sts. Peter and Paul, the Vatican's patron saints and the symbols of the church's unity and its universality, he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saying he wanted to focus the evening service on the universal aspect of the church, Pope Benedict recalled how Pope John Paul II repeatedly used the phrase "new evangelization" to describe the need for a new commitment to spreading the Gospel message in countries evangelized centuries ago and the need to find new ways to preach the Gospel that correspond both to the truth and to the needs of modern men and women.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope said the social and religious challenges of the modern world cannot be met by human strength and ingenuity alone. In fact, he said, he and other church leaders often feel like the disciples of Jesus faced with a hungry crowd but having only a few fish and a couple loaves of bread to divide among them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jesus showed them that with faith in God nothing is impossible and that a few loaves of bread and fish, blessed and shared, could satisfy everyone," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"But there wasn't -- and there isn't -- only hunger for material food: There is a deeper hunger, which only God can satisfy," the pope said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Men and women today want "an authentic and full life, they need truth, profound freedom, unconditional love. Even in the deserts of the secularized world, the human soul thirsts for God," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welcoming a delegation from the Ecumenical Orthodox Patriarchate of Constantinople, the pope said the task of new evangelization also is tied to the commitment to working for Christian unity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"May the intercession of Sts. Peter and Paul obtain for the whole church an ardent faith and apostolic courage to announce to the world the truth we all need, the truth that is God," the pope prayed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2691597346688498994?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2691597346688498994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/07/pope-announces-formation-of-pontifical.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2691597346688498994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2691597346688498994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/07/pope-announces-formation-of-pontifical.html' title='Pope announces formation of pontifical council for new evangelization'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1188187813194998293</id><published>2010-06-23T23:32:00.000-07:00</published><updated>2010-06-23T23:34:26.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='faith and reason'/><title type='text'>Pope says God can be understood through harmony of faith, reason</title><content type='html'>By Sarah Delaney&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1002597.htm"&gt;Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VATICAN CITY (CNS) -- Christians can come to an understanding of God and his plan through reason that is enlightened by faith, Pope Benedict XVI said as he explained the works of St. Thomas Aquinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the weekly general audience June 23 at the Paul VI audience hall, the pope said the 13th-century saint and doctor of the church showed in his writings how the intellect and faith come together to bring Christians closer to the mystery of God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope, continuing his weekly lessons on the teachings of theologians from the Middle Ages, praised St. Thomas' monumental unfinished work, the "Summa Theologica." He said that in it St. Thomas posed questions that are relevant today. Through methods of inquiry inspired by ancient Greek philosophers, the pope said, he was able to "arrive at precise and lucid conclusions about the truth of faith that are accessible to all of us."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pope Benedict said St. Thomas had taught that man's free will and thought must be "illuminated by prayer, enlightened from above." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said that, according to St. Thomas, moral nature lies in the "free will of man to perform acts of good, integrating reason, will and passion," but to which must be added "the grace of God through the virtue and gifts of the Holy Spirit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To those who doubt faith because it cannot be explained through the senses, St. Thomas answered that human intelligence cannot know everything, and that faith and acknowledgment of the mystery of God were necessary, Pope Benedict explained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In writing about the apostles, the pope said, St. Thomas said that man cannot live and learn without the experience of others. The saint taught that wise, noble and rich people listened to the apostles even though they were poor and simple because their words had been inspired by Jesus Christ, the pope said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St. Thomas taught that "the soul unites with God and becomes a sprout of eternal life," the pope said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said St. Thomas placed great importance on the sacraments, especially the Eucharist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Brothers and sisters," said the pope, "let us love this sacrament, nourishing ourselves with the body and blood of the Lord, to be everlastingly fed by divine grace."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Eucharist shows the "the great mystery of incarnation" and the faith that God appeared to man, in the body of Jesus Christ, "as one of us," the pope said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1188187813194998293?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1188187813194998293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/06/pope-says-god-can-be-understood-through.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1188187813194998293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1188187813194998293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/06/pope-says-god-can-be-understood-through.html' title='Pope says God can be understood through harmony of faith, reason'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2559216611648734873</id><published>2010-06-23T23:22:00.000-07:00</published><updated>2010-06-23T23:26:28.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christian devotion'/><title type='text'>Early evidence of devotion to apostles found in Rome catacombs</title><content type='html'>By Cindy Wooden&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/1002586.htm"&gt;Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ROME (CNS) -- In the basement of an Italian insurance company's modern office building, Vatican archaeologists -- armed with lasers -- discovered important historical evidence about the development of Christian devotion to the apostles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Rome's Catacombs of St. Thecla, in the burial chamber of a Roman noblewoman, they have discovered what they said are the oldest existing paintings of Sts. Peter, Paul, Andrew and John.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Technicians working for the Pontifical Commission for Sacred Archaeology discovered the painting of St. Paul in June 2009 just as the Year of St. Paul was ending.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Barbara Mazzei, who was in charge of the restoration work, said June 22 that she and her team members knew there were more images under the crust of calcium carbonate, but excitement over the discovery of St. Paul in the year dedicated to him led them to announce the discovery even before the rest of the work was completed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenting the complete restoration of the burial chamber to reporters a year later, Msgr. Giovanni Carru said that the catacombs "are an eloquent witness of Christianity in its origins."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Into the fourth century, Christians in Italy tried to bury their dead near the tomb of a martyr. The walls of the tombs of the wealthy were decorated with Christian symbols, biblical scenes and references to the martyr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the Catacombs of St. Thecla, the noblewoman's burial chamber -- now referred to as the Cubicle of the Apostles -- dates from late in the fourth century. The arch over the vestibule features a fresco of a group of figures the Vatican experts described as "The College of the Apostles."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The ceiling of the burial chamber itself features the most typical icon found in the catacombs -- Christ the Good Shepherd -- but the four corners of the ceiling are decorated with medallions featuring the four apostles, said Mazzei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fabrizio Bisconti, the commission's archaeological superintendent, said that in the decorations of the catacombs one can see "the genesis, the seeds of Christian iconography," with designs from the very simple fish as a symbol of Christ to the resurrection image of Christ raising Lazarus from the dead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The discovery of so much attention to the apostles in the Catacombs of St. Thecla documents the fact that widespread devotion to the apostles began earlier than what most church historians believed, he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This is the time when the veneration of the apostles was just being born and developed," he said, and the art in the catacombs no longer presented just the martyrs or biblical scenes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The burial chamber also features frescoes of Daniel in the lion's den, the Three Wise Men bringing gifts to Jesus, Abraham's sacrifice of Isaac and a very large wall painting of the noblewoman herself -- jeweled, veiled and with "an important hairstyle," a symbol of status in ancient Rome, he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazzei said that when restorers first went into the burial chamber in 2008, all the walls were white -- completely covered under the crust of calcium carbonate that ranged from a millimeter thick to 4-5 centimeters deep. The Vatican, however, had watercolors and diary descriptions from the 1800s testifying that there were paintings on the walls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the past, she said, restorers would use tiny scalpels and brushes to remove the white crust, but some of the paint always came away with it. Restorers were left trying to find the right balance between removing enough to see a faint image of a catacomb fresco and destroying it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then along came the laser, Mazzei said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After attending an art restoration conference and listening to presentations on how lasers were being used on frescoes in buildings above ground, she said she suggested to the Vatican that they gather a team of experts to see how lasers would work in the extremely humid catacombs where almost no air circulates.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We went slowly and basically set up an experimental laboratory" in the catacombs, she said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The restoration project was just as painstaking as the scalpel-and-brush method because it involved firing the laser pinpoint by pinpoint across the surface of the cubicle, "but the result is totally different," Mazzei said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She said the two-year project to restore the tiny cubicle cost only about $72,000 because many of the consultants donated their time and the laser company gave the Vatican a steep discount.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisconti said the Vatican has no plans to open the Catacombs of St. Thecla to the public, although the pontifical commission occasionally gives permission for groups to visit as long as they are willing to pay a licensed guide and escort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2559216611648734873?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2559216611648734873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/06/early-evidence-of-devotion-to-apostles.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2559216611648734873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2559216611648734873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/06/early-evidence-of-devotion-to-apostles.html' title='Early evidence of devotion to apostles found in Rome catacombs'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3387847987147894072</id><published>2010-01-04T05:39:00.000-08:00</published><updated>2010-01-04T05:40:46.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paus'/><title type='text'>Paus Minta Kelompok Bersenjata Abaikan Kekerasan</title><content type='html'>Oleh Gerard O'Connell, &lt;br /&gt;Koresponden Khusus di Roma&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0Hvx75nzCI/AAAAAAAAANM/2-GqGxYqNVI/s1600-h/paus+benediktus+XVI.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 146px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0Hvx75nzCI/AAAAAAAAANM/2-GqGxYqNVI/s200/paus+benediktus+XVI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422879067502791714" /&gt;&lt;/a&gt;KOTA VATIKAN (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2010/01/04/vatikan-paus-minta-kelompok-bersenjata-abaikan-kekerasan/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Pesan Tahun Baru dari Paus Benediktus XVI berisi himbauan penuh kasih kepada kelompok-kelompok bersenjata di seluruh dunia untuk mengabaikan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepada setiap orang dan setiap kelompok, saya katakan: hentikan, renungkan, dan abaikan jalan kekerasan," kata Paus.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang ini, langkah ini mungkin tampaknya tidak mungkin, namun jika Anda memiliki keberanian untuk melakukannya, Allah akan membantu Anda dan Anda akan merasakan betapa bahagianya kedamaian itu di dalam hati Anda. Kebahagiaan yang mungkin telah lama Anda lupakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia merupakan tempat sejumlah peristiwa kekerasan, seperti konflik-konflik dengan Taliban di Afghanistan dan Pakistan, kekerasan dan penculikan yang terus terjadi di Filipina selatan, dan hampir setiap hari terjadi pemboman di selatan Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus menyampaikan himbauannya untuk perdamaian itu pada 1 Januari tengah hari setelah merayakan Misa untuk perdamaian di Basilika St. Petrus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Katolik merayakan Hari Tahun Baru sebagai “Hari Perdamaian Dunia” sejak tradisi ini dimulai oleh Paus Paulus VI tahun 1967. Umat Katolik di dunia diminta untuk memikirkan apa yang dapat mereka sumbangkan bagi perdamaian dunia pada hari khusus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kotbahnya, Paus mendesak masyarakat dunia untuk wajah pribadi lain dengan penuh penghormatan, “tanpa mempedulikan warna kulit, kebangsaan, bahasa, dan agamanya" dan melihat di sana seorang pribadi “yang bukan pesaing atau musuh,” tetapi “saudara dalam keluarga manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus juga memaafkan perempuan yang menyerangnya pada Malam Natal dan mengutus sekretaris pribadinya untuk menyampaikan pesan itu kepada perempuan itu secara pribadi. Perempuan itu, Susanna Maiolo, 25, sedang dalam perawatan di sebuah pusat medis yang dirahasiakan. Perempuan itu dibawa ke pusat yang berada di Subiaco, selatan Roma, segera setelah ditangkap di Basilika St. Petrus. Maiolo, yang dikatakan memiliki sejarah gangguan psikologis, meloncati petugas keamanan dan mendorong Paus sehingga Paus jatuh ke tanah. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3387847987147894072?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3387847987147894072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/paus-minta-kelompok-bersenjata-abaikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3387847987147894072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3387847987147894072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/paus-minta-kelompok-bersenjata-abaikan.html' title='Paus Minta Kelompok Bersenjata Abaikan Kekerasan'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0Hvx75nzCI/AAAAAAAAANM/2-GqGxYqNVI/s72-c/paus+benediktus+XVI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5545345152040669857</id><published>2010-01-02T21:06:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T21:07:11.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='frans seda'/><title type='text'>Pesan Seda: Jaga NKRI</title><content type='html'>Kupang, &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/03121637/pesan.seda.jaga.nkri."&gt;KOMPAS&lt;/a&gt; - Dalam pertemuan terakhir, Juli 2009 di Jakarta, Frans Seda memberikan pesan khusus kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya, yakni jangan mudah terprovokasi isu yang ingin memecah belas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Warga NTT harus ikut menjaga keutuhan NKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur NTT mengutarakan hal itu, Jumat (1/1) di Kupang, NTT. Frans Seda memesankan pula agar Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila terus dijaga di kawasan timur Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Beliau berpesan agar NTT dijaga baik-baik pula. Bangun kesejahteraan rakyat melalui peningkatan infrastruktur, sumber daya manusia, ekonomi kerakyatan, kesehatan, dan kerja sama antarkelompok masyarakat,” kata Lebu Raya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung Ende Monsinyur (Mgr) Vincentius Sensi Potokota mengakui, kepergian Frans Seda adalah kehilangan besar untuk bangsa Indonesia, terutama warga NTT. Seda memberikan makna dalam, khususnya dalam menumbuhkan rasa percaya diri bagi warga Flores dan NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dari NTT ada figur Frans Seda, tokoh bangsa yang mengukir banyak prestasi nasional. Ia dapat menjalankan tugas negara dengan baik dari rezim ke rezim. Frans Seda adalah tokoh fenomenal,” kata Sensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensi mengakui, Seda adalah ikon. Kehadiran dan perannya di Indonesia yang besar, dia berasal dari kalangan Katolik, mencerminkan pemberian putra terbaik dari gereja untuk bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia juga menyumbangkan nilai-nilai Kristiani lewat tugas kenegaraan yang dijalankan. Frans Seda memberikan inspirasi bagi pimpinan umat. Dia sering memberikan dukungan dari ketokohan dan keteladanannya sebagai pemimpin,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, Uskup Maumere Mgr Gerulfus Cherubim Pareira menyatakan, rasa pengabdian Frans Seda pada bangsa dan negara sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang saya tidak lupa, pernah ada sorotan tajam diarahkan padanya, ketika menjabat sebagai menteri apa saja yang diperbuatnya untuk NTT? Saya salut pada jawaban Frans Seda, yakni dirinya menjadi menteri bukan saja untuk mengurus NTT, tetapi untuk kepentingan yang lebih luas, membangun bangsa dan negara ini,” ungkap Cherubim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gervatius Portasius Seda, keponakan Frans Seda, menuturkan, secara adat, almarhum adalah tokoh dengan gelar Koro Ria, Panglima Adat. Sebernarnya masyarakat Lekebai, tempat kelahiran Frans Seda, menghendaki almarhum dimakamkan di makam leluhur. Akan tetapi, Frans Seda pernah berpesan, lokasi pemakamannya diserahkan kepada istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengenang Frans Seda, warga Lekebai menggelar misa arwah di Gereja Maria Imakulata, Lekebai, pada Jumat petang dan Sabtu pagi, yang disesuaikan dengan misa arwah di Jakarta. ”Kalau di Jakarta misa pukul 10.00 di Katedral, di Lekebai digelar pukul 11.00,” kata Gervatius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur NTT menggelar misa arwah bersama warga di Kupang, 6 Januari 2010, pula. Selain bagi Frans Seda, misa itu untuk mendoakan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Keduanya memiliki peran besar bagi Indonesia. (kor/sem)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5545345152040669857?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5545345152040669857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/pesan-seda-jaga-nkri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5545345152040669857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5545345152040669857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/pesan-seda-jaga-nkri.html' title='Pesan Seda: Jaga NKRI'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8246473475285249489</id><published>2010-01-02T21:02:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T21:04:34.254-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='frans seda'/><title type='text'>SBY: Frans Seda Tokoh 3 Zaman</title><content type='html'>*Tokoh Kepercayaan Lima Presiden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta,&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/02571050/sby.frans.seda.tokoh.3..zaman#"&gt;KOMPAS&lt;/a&gt; - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan, almarhum Franciscus Xaverius Seda, dikenal sebagai Frans Seda, sebagai tokoh tiga zaman. Hal ini dikatakan Presiden seusai melayat di rumah duka Frans, Jumat (1/1) petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans Seda, mantan Menteri Keuangan dan Ekonom Senior, meninggal dunia, Kamis pukul 05.00, pada usia 83 tahun karena sakit. Jenazah akan dimakamkan Sabtu ini di Pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, dan diberangkatkan dari Gereja Katedral Jakarta pukul 13.00. Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja akan memimpin misa requeim.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Temaluru dari keluarga Seda menyatakan, pemakaman akan berlangsung dalam upacara militer yang dipimpin Menteri Perhubungan Freddy Numberi. Misa tutup peti pukul 07.00. Jenazah Frans Seda juga akan diberikan penghormatan terakhir di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemikir kritis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Yudhoyono menyatakan pula, ”Kita mengenal beliau tokoh tiga zaman. Beliau pernah menjadi menteri Bung Karno dan menteri di berbagai portofolio pada masa Pak Harto. Juga pada era reformasi, berkontribusi dalam pengembangan demokrasi dan pengembangan era baru ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Presiden, Frans Seda adalah tokoh dan pemikir yang kritis, tetapi juga memberikan solusi untuk kepentingan pembangunan. Presiden berbelasungkawa atas wafatnya Frans Seda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Atas nama negara, pemerintah, dan pribadi, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya tokoh bangsa. Semoga diterima di sisi Yang Maha Esa,” kata Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden menambahkan, semua yang masih menjadi cita- cita Frans Seda adalah tanggung jawab semua pihak untuk mewujudkannya demi menuju masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri mengakui ada nasihat dari Frans Seda yang selalu diingatnya. ”Om Frans selalu bilang, saya enggak boleh menyerah,” ungkap Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu.&lt;br /&gt;Megawati tiba di rumah duka di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat sekitar pukul 19.00. Ia mengaku merasa kehilangan Frans Seda, yang saat ini juga menjadi sesepuh PDI-P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megawati mengaku bertemu terakhir kali dengan Frans Seda saat Rapat Kerja Nasional PDI-P tahun lalu. Frans Seda masih bersemangat memberikan masukan bagi partai. Ia masih memiliki ingatan cukup tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Presiden dan Megawati, beberapa tokoh juga melayat di rumah duka. Mereka antara lain Wakil Presiden Boediono, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Pimpinan Kompas Gramedia Jakob Oetama, dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Try menyebut Frans Seda sebagai sosok yang selalu memikirkan ekonomi kerakyatan.&lt;br /&gt;Boediono kepada Johanna Maria Pattinaja, istri Frans Seda, berujar, ”Negara merasa kehilangan, terutama atas jasa di bidang ekonomi. Tabah, ya, Bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wapres, Frans Seda adalah ekonom nasionalis yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kelompok dalam menjalankan tugas dan peran. Ia meminta semua komponen bangsa mencontoh hal itu untuk maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Wapres M Jusuf Kalla, yang sedang di Australia, Jumat, menyatakan duka mendalam atas berpulangnya Frans Seda. Frans Seda dikenalnya gigih dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, khususnya pembangunan di wilayah timur Indonesia. ”Semangat hidup dan semangat memikirkan bangsa ini luar biasa. Kadang kala semangatnya itu berlebihan untuk orang seusia dia,” kata Kalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalla mengisahkan suatu peristiwa dua tahun silam. Dengan menggunakan kursi roda, Frans Seda mengunjunginya di Istana Wapres. Frans Seda bicara soal utang Pemerintah Indonesia yang terlalu besar dan menawarkan diri untuk membicarakan soal itu dengan koleganya di Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.&lt;br /&gt;”Saya bilang, kolega Bapak di sana tentu sudah pensiun. Jadi, Bapak istirahat saja, jaga kesehatan dengan baik,” kata Kalla waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pendiri ”Kompas”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di bidang kenegaraan, Frans Seda turut berperan dalam kelahiran harian Kompas, 28 Juni 1965, bersama PK Ojong dan Jakob Oetama. Jakob menyebutkan, almarhum merupakan sosok yang tidak pernah membosankan untuk diajak berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orangnya tegas, pandai. Saya kenal lama. Pak Frans juga salah satu pendiri Kompas yang selalu menulis tentang keresahan di negeri ini,” ujar Jakob Oetama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakob mengakui terakhir bertemu Frans Seda sekitar setengah tahun lalu saat ia berkunjung ke Kompas. ”Itu hanya sebentar. Beliau sudah sulit bicara,” ujarnya.&lt;br /&gt;Sebagai pejabat negara, Jakob menambahkan, Frans Seda adalah sosok yang tak pernah membedakan daerah satu dengan yang lain. ”Beliau selalu memerhatikan semua daerah, infrastruktur yang rusak diperbaiki, dan tidak ada diskriminasi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lima presiden&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans Seda meninggalkan seorang istri dan dua anak, Francisia Saveria Sika Seda dan Yoanesa Maria Yosefa Seda. Frans Seda yang dilahirkan dari pasangan Paulus Setu Seda dan Sipi Soa Seda, 4 Oktober 1926, di Lekebai, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Flores, sekitar 30 kilometer sebelah barat Kota Maumere, pernah menjadi Menteri Perkebunan (1966), Menteri Pertanian (1966), Menteri Keuangan (1967), dan Menteri Perhubungan (1968).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga menjabat Penasihat Ekonomi untuk tiga presiden, yaitu BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, dan Megawati. Artinya, Frans Seda pernah membantu lima presiden di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno, yang juga melayat ke rumah duka, mengatakan, Frans Seda adalah tokoh bangsa yang nasionalis, melintasi batas agama. ”Umat Katolik banyak belajar dari beliau. Ia juga menjadi orang kepercayaan presiden pertama sampai kelima,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magnis mengaku sering bertemu Frans Seda. ”Kita memerlukan orang nasionalis seperti Pak Frans Seda,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes Temaluru menceritakan, November lalu, Frans Seda sempat dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah karena tenggorokannya sakit sehingga tidak bisa menelan makanan. ”Kira-kira dua minggu di RS, kemudian pulang dan menjalani fisioterapi seperti biasanya. Saat Natal lalu, beliau sempat merayakan bersama keluarga,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes mengakui, sakit yang diderita Frans Seda akibat usia yang kian tua. Ketika Presiden Republik Indonesia (1999-2001) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga teman dekat almarhum, wafat, Frans Seda tak diperbolehkan melihat televisi.&lt;br /&gt;”Kami khawatir Pak Frans Seda akan meminta diantar melayat Gus Dur. Padahal, kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Jadi, sampai akhir hayatnya, beliau tak tahu kabar Gus Dur meninggal,” ungkap Yohanes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie mengutarakan, Frans Seda sebagai tokoh yang pluralis, fleksibel, dan terbuka. Begitu pula mantan Menteri Agama Tarmizi Taher menilai Frans Seda merupakan sosok yang bisa berkomunikasi dengan semua orang tanpa melihat dari mana asalnya. ”Beliau menginginkan umat beragama menjadi satu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Pangestu juga mengaku sangat mengagumi Frans Seda.&lt;br /&gt;(sie/dis/day/Kompas.com/ ryo/ham/sem)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8246473475285249489?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8246473475285249489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/sby-frans-seda-tokoh-3-zaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8246473475285249489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8246473475285249489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/sby-frans-seda-tokoh-3-zaman.html' title='SBY: Frans Seda Tokoh 3 Zaman'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-615928483672161910</id><published>2010-01-02T20:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T21:00:44.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='frans seda'/><title type='text'>Selamat Jalan, Pak Frans Seda!</title><content type='html'>Frans M Parera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0AkN1HN8FI/AAAAAAAAANE/rju43_vqQAo/s1600-h/frans+seda2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0AkN1HN8FI/AAAAAAAAANE/rju43_vqQAo/s200/frans+seda2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422373771368329298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/02/0445012/.selamat.jalan.pak.frans.seda"&gt;KOMPAS&lt;/a&gt; -- Pernah dalam sebuah seminar di Hotel Mulia, Frans Seda membandingkan dirinya dengan Sutami yang bersama Bung Karno membangun jembatan Semanggi di Jakarta. Sutami orang Jawa, dia orang Flores. Usia Sutami pendek, badan kurus seperti kurang gizi. Sementara Frans Seda bisa berusia lanjut, badan tidak kurus dan menjadi cerdas karena sejak kecil selain minum susu ibu juga makan ulat bambu yang tumbuh subur di Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh yang baru saja meninggal dunia pada usia 83 tahun (1926-2009) ini memang berasal dari Indonesia timur, tepatnya dari Pulau Flores, Provinsi NTT. Lahir di desa terpencil Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, pada masa Hindia Belanda dari keluarga pemuka setempat; bapaknya seorang guru. Belajar di Sekolah Guru Tomohon, Manado; pamannya seorang kapitan (camat sekarang), mereka tinggal di rumah beratap sirap bambu dan seng di tengah perkampungan beratap alang-alang atau daun kelapa.&lt;br /&gt;Tak heran jika di dinding ruang tengah tergantung sebuah lukisan berukuran besar Danau Kelimutu di Lio-Ende, tempat kelahiran Frans Seda. Istrinya, Johanna Maria Pattinaja, berasal dari keluarga Manado, Maluku, dan Belanda, tetapi dikenal sebagai kolektor kain-kain tenun NTT.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak Frans Seda meninggal sampai dikuburkan secara kenegaraan hari ini di pekuburan San Diego Hills, Karawang, begitu banyak perhatian dan minat publik terarah pada tokoh nasional ini. Para pelayat berdatangan ke rumah duka di kawasan Pondok Indah. Karangan bunga dari segala relasinya memenuhi halaman rumahnya sampai sepanjang jalan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Memukau Bung Karno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang dirinya, karyanya, prestasinya, serta jasa- jasanya kepada bangsa dan negara meramaikan suasana duka. Sosok ini merajut sebuah collective memory sebagai tokoh tiga zaman. Mulai masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai NKRI berdiri selama lebih dari enam puluh empat tahun usianya. Biografinya memasuki gerbang collective memory sejarah kemanusiaan, masyarakat, bangsa Indonesia, diawali dengan sebuah peristiwa kecil di sekolahnya, yang setingkat SMP di Ndao Ende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa penting itu terjadi sekitar 75 tahun lampau di lingkungan sekolah Katolik tempat dia belajar di Ndao. Pada waktu itu Bung Karno dibuang dari Sukamiskin, Bandung, ke Ende dan ditempatkan di lingkungan kauman Ende, komunitas kecil beragama Islam. Polisi rahasia menyebarkan isu kepada kalangan gereja Katolik di Flores bahwa tokoh yang dibuang itu seorang komunis-marxis. Mereka tahu bahwa musuh utama gereja Katolik sedunia pada tahun tiga puluhan adalah partai komunis internasional dengan misi propaganda ateismenya. Gereja Katolik adalah lembaga politik antikomunis terutama sejak revolusi Bolshevik di Rusia tahun 1917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno dikaitkan sebagai anggota aliran komunis dan ateis. Ketika Bung Karno menyampaikan keinginannya mau mengunjungi SMP Ndao, pemimpin sekolah pada dasarnya menolak kedatangan Bung Karno. Namun, Bung Karno menunjukkan sikapnya dengan sungguh-sungguh mau mengunjungi sekolah Katolik itu, maka kepala sekolah mempersiapkan kedatangan tokoh pergerakan politik itu dengan mengemas acara penerimaan yang sederhana. Seorang murid yang sudah pandai berbahasa Belanda diminta mempersiapkan diri berpidato dalam bahasa Belanda menerima kunjungan Bung Karno yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu. Bung Karno terkesan dengan penampilan seorang anak kecil tetapi cerdas, anggota keluarga kapitan perbatasan Lio dan Sikka/Maumere, Lekebai. Bocah itu bernama Frans Seda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sepuluh tahun kemudian ketika Frans Seda ikut berjuang sebagai Tentara Pelajar di Yogyakarta dan Jakarta mendapat kesempatan bertemu dengan Presiden Soekarno di Yogyakarta. Frans Seda memperkenalkan dirinya dari Flores. Memori Bung Karno dibuka kembali dengan kisah kunjungannya ke Ndao. Nasib Frans Seda berubah karena perkenalan dengan Bung Karno di Yogyakarta dan selanjutnya di Jakarta. Pak Frans Seda menjadi menteri kepercayaan Bung Karno; sahabat dekat Bung Karno dengan keluarga besarnya sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini beberapa pihak sedang memperjuangkan agar Ende menjadi heritage, di mana Bung Karno memikirkan persatuan suku-suku di Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa, bangsa Indonesia. Pancasila lahir di kota itu. Pancasila menjadi abadi juga di kota itu karena Bung Karno empat tahun hadir dan berada di tengah denyut dinamika orang Flores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di Jawa Uskup Soegijopramoto mengambil sikap cepat mendukung perjuangan para pendiri NKRI, maka berbeda sekali sikap uskup-uskup di Indonesia timur yang antikomunis. Biarpun Vatikan merupakan salah satu negara yang mengakui eksistensi NKRI, gereja Katolik Indonesia timur tidak demikian cepat bersimpati dengan NKRI karena adanya PKI sebagai partai resmi NKRI pada waktu itu.&lt;br /&gt;Komunis harus dihadapi dengan gerakan kesejahteraan rakyat yang merata, maka uskup-uskup Flores mengirim anak-anak muda Flores belajar segala macam ilmu di Belanda. Frans Seda disuruh belajar ilmu ekonomi pembangunan, ekonomi kerakyatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pahlawan keuangan RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan nasional Frans Seda meningkat ketika IJ Kasimo surut dari permainan politik istana bersama Natsir dari Masyumi, mereka menolak kehadiran partai komunis dalam kabinet Presiden Soekarno. Dengan dukungan Angkatan Darat yang antikomunis, Frans Seda diterima dalam lingkungan kabinet era Bung Karno, mulai dari menteri perkebunan dan pertanian, melanjutkan kebijakan pertanian yang dirintis dalam Kasimo Plan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para menteri yang menjadi tim pembantu presiden baik era Bung Karno maupun era Soeharto mengenang Frans Seda, diberitakan secara luas di media masa pada tahun enam puluhan ketika dia menjabat sebagai menteri keuangan. Dia dipercayai oleh Soeharto pada awal masa kepresidenannya. Menteri Emil Salim yang amat mengenalnya sampai memberi gelar kepada Frans Seda Pahlawan Keuangan Indonesia. Ini dinyatakan Emil Salim di Unika Atma Jaya, Jakarta, ketika menghormati 80 Tahun Usia Frans Seda,&lt;br /&gt;Lalu mengapa Frans Seda begitu singkat masanya menjadi menteri keuangan pertama Orde Baru? Penyebabnya adalah perbedaan tradisi transparansi dan kontrol yang dipelajari Frans Seda di Belanda tidak klop dengan tradisi rahasia militer rezim Orde Baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah akademis Undang- Undang Keuangan Negara yang disiapkan Frans Seda dan anggota staf Departemen Keuangan ditolak oleh kalangan militer. Mereka menolak maksud baik Frans Seda untuk menyehatkan keuangan negara miskin karena mismanajemen hampir di segala bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pengujung tahun 2009, ketika Indonesia sebagai sebuah sekolah raksasa diguncangkan oleh kehebohan dalam bagian administrasi keuangan, meninggal dua guru inspiratif, guru bangsa yakni Gus Dur dan Frans Seda. Mereka mempunyai kesamaan dan kemiripan membangun kembali moral sekolah ini dengan konsep moral force baru, yakni moralitas dibangun dari agama, intelektualitas/rasionalitas dan keuangan (kapital) untuk kesejahteraan umum karena dibedakan dengan tegas milik publik dan milik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sesudah bergumul dengan berbagai komplikasi penyakit selama beberapa waktu, Frans Seda meninggal dunia di rumahnya di Pondok Indah pada tanggal 31 Desember 2009 pukul 05.00. Berita meninggalnya tokoh nasional ini tersebar cepat di tengah perhatian publik terarah pada proses penguburan jenazah Gus Dur di Jombang. Banyak pelayat datang menjenguk dan mendoakan arwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah pergi seorang manusia yang telah mengisi kehidupannya sebagai the man of values. Bagaimana publik memberikan penghormatan pada tokoh yang baru meninggal ini, sudah memperlihatkan memori kolektif di mana tokoh ini sudah berperan aktif dan mewariskan hal-hal permanen di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Selamat jalan, Pak Frans Seda! RIP!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frans M Parera Editor Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-615928483672161910?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/615928483672161910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/selamat-jalan-pak-frans-seda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/615928483672161910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/615928483672161910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/selamat-jalan-pak-frans-seda.html' title='Selamat Jalan, Pak Frans Seda!'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0AkN1HN8FI/AAAAAAAAANE/rju43_vqQAo/s72-c/frans+seda2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2714159097331483374</id><published>2010-01-02T20:34:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T20:37:44.344-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='newspaper'/><title type='text'>Court overturns ban on non-Muslims using the word ‘Allah’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0Ae3uupDWI/AAAAAAAAAM8/fgkoS3u0Sug/s1600-h/news_paper.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0Ae3uupDWI/AAAAAAAAAM8/fgkoS3u0Sug/s200/news_paper.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422367894139374946" /&gt;&lt;/a&gt;PENANG, Malaysia (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/31/court-overturns-ban-on-non-muslims-using-the-word-%E2%80%98allah%E2%80%99/"&gt;UCAN)&lt;/a&gt; -- The High Court in Kuala Lumpur on Dec. 31 ruled that the national Catholic weekly, “Herald,” can use the word “Allah” to refer to God and that the Home Ministry’s order banning its use is illegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A copy of the 'Herald' weekly&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The court also declared that the word “Allah” is not exclusive to Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“We welcome the court’s decision very much as in the long term it will be not only good for ‘Herald’ but for others as well,” said S. Selvarajah, one of a team of four lawyers involved in the Church’s challenge of the ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Home Ministry in 2007 issued a blanket ban on the use of the word “Allah” in all non-Muslim publications.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Archbishop Murphy Pakiam of Kuala Lumpur, publisher of "Herald," challenged it in a case that began in February.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selvarajah told UCA News the judge made six declarations, one citing Article 11 of the constitution on the right to religious freedom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Article 11 states that we have the right to manage our own religious affairs, thus using ‘Allah’ as part of our worship is our right,” the lawyer said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bishop Antony Selvanyagam of Penang spoke to UCA News immediately after the decision. “I would like to congratulate the Herald’s lawyers and (Herald editor) Father Lawrence Andrew for their efforts to defend the rights of the Church in this matter,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Jerry Dusing, president of the Sabah Evangelical Church of Malaysia and Sabah Council of Churches, said the decision was good for everyone. “We are living in a multi-racial country, thus there must be racial unity and respect among each other,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The government had argued that the use of the word "Allah" in Christian publications was likely to confuse Muslims and draw them to Christianity. The Church claimed the ban violates its constitutional rights to practice its religion freely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Father Andrew said that the word “Allah” has been used by Christians in the region to refer to their God for 400 years.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2714159097331483374?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2714159097331483374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/court-overturns-ban-on-non-muslims.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2714159097331483374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2714159097331483374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2010/01/court-overturns-ban-on-non-muslims.html' title='Court overturns ban on non-Muslims using the word ‘Allah’'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/S0Ae3uupDWI/AAAAAAAAAM8/fgkoS3u0Sug/s72-c/news_paper.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2057918799892066421</id><published>2009-12-30T01:42:00.001-08:00</published><updated>2009-12-30T01:43:22.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lingkungan hidup dan gereja Katolik'/><title type='text'>Agama Provokatur Versus Teologi Kekuasaan</title><content type='html'>Oleh Otto Gusti Madung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi gereja lokal terutama JPIC dari keuskupan dan beberapa kongregasi religius yang cukup gencar menolak tambang beberapa waktu terakhir ini dinilai oleh Bupati Manggarai Barat (Mabar), Drs. Wilfridus Fidelis Pranda, sebagai sebuah bentuk provokasi dan kegiatan mengadu domba masyarakat. Seperti diberitakan harian Pos Kupang, Bupati Pranda dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh JPIC SVD Ruteng, OFM Indonesia, Keuskupan Ruteng, SSpS Flores Barat dan Masyarakat Peduli Mabar pada hari Sabtu, (25/4/2009), menuduh gereja lokal di wilayah Keuskupan Ruteng lewat aksi tolak tambang sebagai provokatur yang mengganggu stabilitas keamanan masyarakat (P&lt;span style="font-style:italic;"&gt;os Kupang&lt;/span&gt;, 27/04/2009).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan yang hadir dalam seminar tersebut sempat mengirimkan sebuah pesan singkat (sms) kepada penulis. Isinya, Bupati Fidelis Pranda meminta pemerintah dan gereja memperhatikan tugas masing-masing. Gereja harus segera meninggalkan arena politik dan lebih berkonsentrasi pada tugas pokoknya. Tugas pokok gereja, demikian Bupati Pranda, bukan urus tambang, tapi memberikan pelayanan sakramental kepada umat agar jiwa mereka bisa masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Fidelis sesungguhnya tidak konsekuen dalam nalar berpikirnya. Di satu sisi ia menganjurkan agar pemerintah dan gereja memperhatikan tugas masing-masing serta tidak boleh mencampuri urusan pihak lain. Di sisi lain, Bapak Bupati menegasi pernyataannya sendiri dengan masuk ke ranah teologi yang bukan bidangnya ketika menarik garis demarkasi tegas antara teologi dan politik. Ketika Bupati Fidelis coba mendefinisikan tugas gereja dan politik, sesungguhnya ia sedang berteologi. Sebab pandangan yang menghendaki pemisahan tegas antara teologi dan politik adalah salah satu model teologi, meskipun bukan model satu-satunya. Pertanyaan, mengapa Bapak Bupati berteologi kalau Bapak memang menghendaki distingsi tegas antara teologi dan politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis berpendapat, Bupati telah mengemukakan dua pandangan sesat serta kerancuan berpikir sehubungan dengan tanggapannya atas kiprah gereja atau agama dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil dan tertindas akibat eksploitasi dan eksplorasi bisnis tambang. Ada banyak hal lagi tentunya yang perlu ditanggapi tentang konsep pembangunan dan politik pertambangan Bupati Manggarai Barat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis ingin membatasi diri pada dua hal saja. Pertama, pandangan tentang gereja sebagai provokator ketika mengkritisi kebijakan publik pemerintah. Kedua, konsep teologi yang menghendaki garis demarkasi tegas antara agama dan politik serta menghendaki peminggiran agama ke ruang privat. Karena pandangan sesat ini dikemukakan oleh seorang pejabat publik, maka penulis merasa perlu memberikan tanggapan secara publik pula demi terciptanya sebuah ruang publik yang rasional, beradab dan bebas represi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja sebagai Provokatur?&lt;br /&gt;Tuduhan provokasi terhadap gereja di atas mengingatkan saya akan perbincangan antara seorang perampok laut dengan Iskandar Agung seperti didokumentasikan St. Agustinus dalam salah satu karya legendarisnya, De Civitate Dei: “Kerajaan-kerajaan tanpa keadilan apa itu selain gerombolan-gerombolan perampok? Oleh karena itu halus dan benar jawaban yang diberikan oleh seorang perampok laut kepada Iskandar Agung, sewaktu sang raja bertanya bagaimana dia itu sampai berani membuat laut menjadi tidak aman. Maka orang itu dengan bangga dan terbuka mengatakan: ‘Dan bagaimana dengan engkau sampai membuat seluruh bumi menjadi tidak aman? Memang, aku dengan perahu kecilku disebut perampok, tetapi engkau dengan angkatan laut besar disebut panglima yang jaya’.” (Franz Magnis-Suseno, 1999, hlm. 193)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan sang perampok laut adalah gugatan atas legitimasi kekuasaan Iskandar Agung. Atas dasar legitimasi apakah Iskandar Agung menganggap perampok laut itu sebagai provokatur dan pengacau stabilitas di wilayah kekuasaannya dan pada saat yang sama menobatkan dirinya sebagai pahlawan dan panglima yang jaya kendati keduanya sesungguhnya melakukan kejahatan yang persis sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog antara sang perampok laut dan Iskandar Agung juga memicu lahirnya pertanyaan tentang legitimasi kekuasaan negara pada umumnya. Negara pada prinsipnya dipandang sebagai lembaga kekuasaan yang legitim jika dibandingkan dengan kelompok para bandit atau perampok yang mungkin memiliki kedaulatan atas wilayah tertentu, tapi kekuasaannya dipandang sebagai ilegitim. Pertanyaannya ialah, apakah dasar dari tuntutan legitimasi negara tersebut? Apakah yang membedakan negara dari kelompok para bandit? Apakah mungkin sebuah negara merosot menjadi lembaga berkumpulnya para bandit? Apakah dasar legitimasi bahwa manusia boleh menguasai manusia lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya untuk Iskandar Agung jelas, faktum kekuasaannya merupakan sumber legitimasi kekuasan satu-satunya. Karena ia berkuasa, maka segala sesuatu yang diperbuatnya harus dipandang legitim dan boleh memandang sang perampok laut sebagai provokatur dan pengacau stabilitas keamanan di wilayah kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas penguasalah yang menjadi sumber legitimasi hukum satu-satunya. Auctoritas, non veritas facit legem – Otoritas dan bukan kebenaran yang menciptkan hukum. Dan kini aura positivisme hukum Hobbesian tersebut tampil kembali di wilayah Manggarai Barat ketika sang bupati menegaskan, investasi tambang harus diterima karena telah sesuai dengan prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kesejajaran antara konsep kekuasaan Iskandar Agung dan Bupati Manggarai Barat. Keduanya melihat faktum kekuasaan sebagai sumber legitimasi hukum tertinggi. Dan berdasarkan konsep kekuasaan demikian, Bupati Fidelis dapat mencap segala bentuk oposisi dan pemikiran alternatif yang mengkritisi kebijakan regim berkuasa sebagai bentuk provokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, produk undang-undang dan peraturan daerah bukanlah aturan tertinggi dalam sebuah tatanan sosial. Bukankah setiap aturan hukum harus merujuk pada prinsip-prinsip yang lebih tinggi seperti asas keadilan, kebebasan, kesetaraan dan kebaikan bersama? Seandainya investasi tambang melanggar asas-asas ini, ia harus dikritisi kendati telah diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang sah. Jika merujuk pada prinsip-prinsip dasar yang lebih tinggi, bukankah para investor tambang dan Pemda yang mengeluarkan isinan adalah provokatur sesungguhnya, dan bukan JPIC atau aktivis anti tambang? Sejarah telah banyak berbicara, industri pertambangan hanya mendatangkan keuntungan bagi para korporasi dan tidak pernah untuk masyarakat setempat. Masyarakat lokal harus puas dengan remah-remah keuntungan ekonomis sembari meratapi keadaan tanah dan laut yang sudah hancur permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati memandang setiap bentuk pemikiran alternatif dan kritis terhadap kebijakan resmi pemerintah sebagai subversif. Aksi tolak tambang para aktivis anti tambang dan lembaga gereja dilihat sebagai bentuk pengkhianatan terhadap dasar negara Pancasila dan UUD 45. Hal ini mengingatkan kita akan stigmatisasi komunis bagi segala bentuk oposisi politik dalam masa pemerintahan fasis dan totalitarian orde baru. Memang Soeharto sudah lama mati, tapi soehartoisme masih kuat dan bertumbuh subur dalam cara berpikir Bupati Manggarai Barat. Sebuah bahaya besar tentunya dan ini harus dikikis bersih demi kelangsungan reformasi dan proses demokratisasi di Manggarai Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teologi Kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meminimalisir resistensi dan melegitimasi konsep pembangunannya Bupati Fidelis memerintahkan gereja untuk meninggalkan ranah politik. Persoalan tambang adalah masalah politik murni. Agama harus dibebaskan dari persoalan sosial-politik dan memusatkan diri pada keselamatan jiwa umat agar masuk surga. Imam yang sibuk urus tambang tidak layak dipanggil pastor, tapi cukup disapa sebagai saudara. Itu kira-kira substansi konsep teologi politik kekuasaan Bupati Fidelis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggiring gereja keluar dari politik serta menghendaki pemisahan tegas antara agama dan politik, sesungguhnya Bupati Mabar sedang membangun sebuah teologi baru. Apa yang sesungguhnya sedang dilakukannya ialah dekonstruksi teologi politik kritis, dan konstruksi teologi kekuasaan guna melegitimasi segala bentuk penindasan dalam masyarakat. Agama dipandang sebagai obat penenang tidur terlepas dari kekerasan realitas sosial dan pergulatan umat manusia melawan ketidakadilan dan penindasan atas martabatnya. Dengan demikian agama sebagai sebuah instansi moral kritis dilumpuhkan. Gereja sebagai kekuatan emansipatoris dan roh pembebas manusia seutuhnya dimandulkan dan dipaksa bungkam sehingga kehilangan kata-kata profetis. Dan persis inilah agama dan gereja yang dikehendaki oleh setiap kekuasaan korup dan politik tanpa wajah kemanusiaan. Gereja yang ditopang oleh teologi kekuasaan yang memasung kebebasan dan membungkam suara kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tugas perutusan gereja jauh lebih luas dari sekadar urusan ritus agar jiwa manusia masuk surga. Ruang gerak tugas perutusan seorang imam bukan sebatas altar misa, tapi juga mencakupi seluruh persoalan sosial, budaya dan politik. Misi keselamatan gereja mencakupi manusia seutuhnya, hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dan dunia. Agama, demikian Konsili Vatikan II, adalah “tanda dan pelindung transendensi manusia”. Panggilan ilahi manusia terungkap dalam tugas dan komitmen sosialnya untuk membela dan memperjuangkan kebebasan dan martabatnya yang tak tergugat (Paul Budi Kleden, 2003, hlm. 203). Maka demi kekudusan martabat manusia itu , gereja juga dipanggil untuk bersuara ketika kekuatan korporatokrasi, yakni perselingkuhan antara politik dan bisnis tambang, datang menerjang kehidupan masyarakat lokal. Di sini gereja berperan sebagai penyuara cita-cita dan visi tentang kehidupan ideal manusia dan masyarakat umum. Pemahaman tentang gereja seperti ini adalah duri tajam di mata setiap penguasa otoriter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bukan obat tidur. Ia bukan opium yang menghantar kita kepada dunia maya penuh ketenangan, tapi kesadaran kritis yang mengajarkan kita tentang hakikat manusia dan dunia sebagai ciptaan Allah. Pemahaman tentang manusia dan dunia yang seharusnya sebagai ciptaan Allah menjernihkan pikiran dan hati untuk menangkap pelbagai bentuk distorsi dan represi sosial seperti kemiskinan, marjinalisasi, pembodohan, ketidakadilan dan penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan gereja dalam dunia dan masyarakat tidak sebatas bentuk pelayanan pastoral dan sosial-karitatif. Ia harus mampu menukik lebih dalam, mempertanyakan dan membongkar secara radikal sistem-sistem yang menciptkakan ketidakadilan, pendindasan dan penderitaan itu (Paul Budi Kleden, 2003, hlm. 196). Atau keterlibatan gereja, untuk meminjam termini George Junus Aditjondro, bukan sebatas “diakonia palang merah” tapi harus sampai pada “diakonia palang pintu” demi mencegah jatuhnya tumbal-tumbal pembangunan lantaran sistem yang tak adil dan menindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan JPIC dan gereja pada umumnya dalam membela hak-hak masyarakat lokal yang dirugikan oleh industri pertambangan dan kebijakan publik pemerintah adalah tugas hakiki perutusan gereja. Gereja yang beriman pada Allah yang inkarnatoris, Allah yang mengambil bagian dalam pergulatan sejarah manusia termasuk lembaran sejarah paling buram seperti terungkap dalam peristiwa salib. Keterlibatan yang sulit dan penuh risiko karena harus berhadapan dengan monster ganas kekuatan korporatokrasi. Dijuluki gereja provakator dalam situasi kritis memerangi sistem yang menindas bukan kutukan, tapi berkat. Sebab kita mengikuti Allah yang tersalib!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gusti Otto adalah rohaniwan dan pengajar pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Opini Flores Pos | 4 Mei 2009 | pp 10, 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2057918799892066421?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2057918799892066421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/agama-provokatur-versus-teologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2057918799892066421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2057918799892066421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/agama-provokatur-versus-teologi.html' title='Agama Provokatur Versus Teologi Kekuasaan'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6326125982061033369</id><published>2009-12-30T01:37:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T01:39:39.682-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Kartel Politik dan Gerakan Perlawanan</title><content type='html'>Oleh Dr. Otto Gusti Madung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIRI khas lanskap perpolitikan Indonesia pasca tumbangnya rezim Orde Baru adalah stabilitas hubungan antarelite politik. Para elite dan partai politik boleh bertarung dan saling menyerang sebelum pemilihan umum, namun setelah pemilu berakhir mereka berembuk dan membangun koalisi besar. Hampir tidak pernah terjadi konflik dan pertarungan antarelite partai yang bermuara pada perebutan kekuasaan. Sistem oposisi pun mandul. Garis batas antara partai pemerintah dan partai oposisi kabur kalau bukan hilang sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dipandang relatif stabil dibandingkan dengan negara-negara lain yang sedang mengalami transisi menuju demokrasi. Di Filipina, misalnya, pasca turunnya Presiden Marcos, Presiden Aquino mengalami sekurang-kurangnya tujuh kali percobaan kudeta. Mengapa Indonesia sepi dari kudeta? Apakah kita sudah sungguh matang dalam berdemokrasi? &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fenomena 'kartel politik' merupakan salah satu teori yang dapat menjelaskan stabilitas hubungan antarelite atau antarpartai politik di Indonesia. Kartel adalah sebuah term dalam ilmu ekonomi. Kartel mengkoordinasi hubungan antara beberapa perusahaan dengan tujuan meminimalisasi persaingan, mengontrol harga dan menggenjot keuntungan bisnis para anggota kartel (Bdk. Antonius Made Tony Supriatma, Prisma 28 Oktober 2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh sistem kartel politik tampak dalam monopoli kekuasaan berupa koalisi besar yang mengeliminasi kemungkinan terbentuknya oposisi. Para lawan politik dirangkul. Partai-partai oposisi berkepentingan untuk masuk dalam partai penguasa demi meminimalisasi kerugian yang diakibatkan oleh kekalahan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem ini partai paling religius sekalipun rela membangun koalisi dengan partai sekular. Sebab kartel politik mengharamkan diskursus seputar ideologi dan program partai. Semuanya seragam dan bekerja sama dalam suasana saling pengertian. Tidak ada persaingan antarpartai politik, kejahatan berupa korupsi dan kolusi ditolerir lantaran semua partai politik berada di haluan yang sama dengan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartel politik akhirnya bermuara pada hancurnya fungsi institusi-institusi demokratis. Institusi-institusi demokratis tetap dipelihara sebatas simbol tanpa substansi. Pemilu tetap dijalankan secara regular, namun tidak membawa perubahan konkret bagi hidup rakyat kebanyakan. Itulah sebabnya, kendati institusi-institusi demokratis tampaknya bekerja, namun persoalan-persoalan menyangkut hidup rakyat kebanyakan seperti penegakan hak-hak asasi manusia, pemberantasan korupsi dan peradilan yang bersih tetap tak tersentuh kerja institusi-institusi tersebut. Ingar-bingar kompetisi antarpartai dalam pemilu akan berubah menjadi kolusi antarelite segera setelah pemilu berakhir. Demokrasi tak lebih dari ritus prosedural minus isi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem pasar, konsumen dirugikan oleh kartel karena harus membeli barang dengan harga yang ditentukan secara sepihak oleh pemain pasar. Politik kartel mengorbankan massa-rakyat karena penyelenggaraan negara semata-mata dibuat untuk kepentingan elite politik. Terdapat toleransi dan saling pengertian luar biasa di kalangan politisi. Kekuasaan tidak lagi membutuhkan pertanggungjawaban. Aspirasi rakyat tidak lagi masuk dalam kalkulasi penyelenggaraan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk massa-rakyat kartel politik membuahkan kemalangan yang sama seperti yang ditimbulkan oleh sebuah rezim otoritanian, yakni penyingkiran dari seluruh proses dan hasil pembangunan. Jika rezim totalitarian Orde Baru misalnya memakai metode 'penyingkiran' terhadap para lawan politiknya, kartel politik dewasa ini merangkul semua elite dari latar belakang ideologis berbeda. Namun untuk rakyat biasa hasilnya tetap sama, kemiskinan dan kemelaratan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik kartel menghasilkan massa rakyat yang relatif jinak ibarat massa mengambang di era Orde Baru. Bedanya, jika rezim Orde Baru membutuhkan represi untuk membungkam massa kritis, politik kartel cukup menerapkan metode manipulasi dan persuasi lewat penggelembungan citra dan semboyan 'politik santun' di media massa. Hasilnya adalah massa rakyat yang jinak yang tidak mampu melakukan perlawanan terhadap sistem politik yang menindas. Dari sudut pandang 'penjinakan massa' dapat dipahami mengapa misalnya para aktivis kritis korban penculikan rela meninggalkan idealismenya dan melacurkan diri dengan menjadi agen dari para penculiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah masih ada secuil harapan untuk dapat keluar dari dominasi total 'penjiknakan massal' dan patologi sosial kartel politik ini? Masih. Dari partai-partai politik tentu kita tidak dapat berharap banyak karena mereka sudah membangun 'koalisi besar' untuk mengamankan diri. Harapan satu-satunya adalah masyarakat sipil yang punya idealisme untuk memperjuangkan hak-hak dasar warga negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Prita dan inisiatif Posko Koin Peduli Prita adalah simbol perjuangan masyarakat sipil yang tertindas melawan arogansi kekuasaan modal dan kebobrokan lembaga peradilan kita. Demikian pun kampanye para aktivis 'Kami Cicak, Berani Lawan Buaya' adalah setetes embun harapan di tengah sulitnya menghilangkan tumor ganas korupsi di negeri ini. Juga masih segar kiranya dalam ingatan kita ketika Maret tahun ini masyarakat Lembata memaksa Jusuf Merukh dan Bupati Lembata 'untuk menandatangani surat pernyataan 'tidak menambang' di wilayah Lembata' (George J. Aditjondro, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen-elemen perlawanan ini tentu perlu diorganisir secara baik agar menjadi sebuah sistem perlawanan. Tanpa organisasi sebuah perlawanan cenderung musiman dan tidak bertahan lama. Masyarakat sipil yang kritis dan giat dalam deliberasi publik  sulit 'dijinakkan' dan akan dijauhkan dari segala bentuk manipulasi massa kartel politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dr Gusti Otto Madung adalah  dosen  STFK Ledalero&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Artikel ini dimuat di Pos Kupang edisi 15 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6326125982061033369?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6326125982061033369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/kartel-politik-dan-gerakan-perlawanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6326125982061033369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6326125982061033369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/kartel-politik-dan-gerakan-perlawanan.html' title='Kartel Politik dan Gerakan Perlawanan'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1151473253851412460</id><published>2009-12-30T01:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T01:34:40.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama dan politik'/><title type='text'>Agama dan Ruang Publik</title><content type='html'>Oleh Dr. Otto Gusti Madung SVD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG rekan dari di Bristol, Inggris, menulis email dan bercerita tentang debat publik pada tanggal 22 Oktober 2009 lalu di Inggris yang melibatkan para pemikir papan atas dunia yakni Juergen Habermas, Charles Taylor, Judith Butler dan Cornel West.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi tersebut diberi judul "Rethinking Secularism: The Power of Religion in the Public Sphere" - Memikirkan Kembali Sekularisme: Kekuasaan Agama di Ruang Publik". Menurut rekan tadi, diskusi keempat cendikiawan kelas dunia ini akan turut menentukan dan bahkan menggiring wacana "Agama dan Ruang Publik' beberapa tahun ke depan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang sekurang-kurangnya sejak peristiwa 11 September 2001 diskursus seputar agama pada umumnya dan secara khusus peran agama di ruang publik kembali menjadi titik perhatian masyarakat sekular. Bahkan pemikir seperti Juergen Habermas yang menyebut dirinya 'buta secara religius' sejak awal tahun 2001 menjadikan tema agama sebagai fokus penelitian filosofisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habermas bahkan tak sungkan bertemu dengan para pemikir dan teolog yang secara ideologis sesungguhnya berseberangan dengannya. Tahun 2004, misalnya, ia bertemu dan berdebat dengan Kardinal Josef Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) tentang syarat-syarat etis konsep negara hukum. Kemudian tahun 2007 ia kembali berdiskusi tentang agama dengan para profesor Yesuit di Hochschule fuer Philosophie Muenchen, Jerman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya kekerasan atas nama agama seperti aksi terorisme dan gerakan fundamentalisme agama memaksa para ilmuwan dan pemikir untuk meninjau kembali peran dan posisi agama dalam masyarakat moderen. Sekularisme telah meminggirkan agama ke ruang privat. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari pihak agama yang menganggap haknya untuk berkiprah di ruang publik telah dipangkas oleh ideologi Laicité. Bahkan reaksi muncul dalam pelbagai fenomen kekerasan seperti tindakan martirium bom bunuh diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk konteks kita di Indonesia, hubungan antara agama dan ruang publik tampil dalam wajah ekstrem yang lain. Bukan peminggiran agama ke ruang privat seperti dalam masyarakat sekular yang terjadi, melainkan surplus agama di public space. Pengamatan rekan saya, Emanuel Embu, tepat sekali ketika mengritik praktik devosi perarakan patung Kristus Raja (dalam kenyataannya adalah Patung Hati Kudus) baru-baru ini di Keuskupan Maumere yang dalam jangka waktu tertentu telah menutupi ruas jalan umum lintas Flores (Pos Kupang, Rabu, 25/11/2009). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, kendaraan umum dan pribadi yang menggunakan jalan umum harus menunggu berjam-jam. Kita bisa bayangkan apa yang terjadi seandainya waktu itu sebuah mobil ambulans harus mengantar pasien sakit berat ke rumah sakit dan harus antri berjam-jam karena jalan ditutup oleh umat yang sedang beribadah. Pengalaman rekan Eman ini mengingatkan saya akan pengalaman pada awal tahun 2001 di Jakarta ketika anggota pasukan FPI (Front Pembela Islam) dan beberapa kelompok ektrem lainnya menutupi jalan-jalan umum ibu kota untuk kepentingan kegiatan keagamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa kebebasan beragama merupakan salah satu butir penting paham hak-hak asasi manusia. Bahkan di Indonesia kebebasan beragama dan beribadat menurut agamanya mendapat perlindungan dan jaminan konstitusional. Namun kebebasan individual dan kelompok bukan tak terbatas. Kebebasan absolut atau kesewenang-wenangan akan menciptakan apa yang oleh filsuf Jerman, Immanuel Kant (1724-1804),  sebagai kondisi prejuridical society atau masyarakat tanpa hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat tanpa hukum, yang berlaku adalah hukum rimba. Di sini hak dan kebebasan mereka yang lemah selalu terancam untuk dirampas oleh mereka yang kuat. Di bawah hukum rimba kaum minoritas tak pernah merasa aman dari ancaman hegemoni kaum mayoritas. Ibarat domba dan serigala yang dibiarkan bebas tanpa aturan, serigala sudah pasti akan memangsa domba tanpa ampun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan hukum yang mengatur agar kebebasan seseorang atau kelompok orang tidak menjadi ancaman bagi kebebasan orang lain. Setiap umat beragama bebas dan berhak mempraktikkan ritus dan devosinya tanpa harus mendapat ancaman dari golongan lain. Namun kebebasan beragama tak pernah boleh menjadi faktor pembenar untuk melecehkan kebebasan dan hak orang lain untuk menggunakan jalan umum misalnya. Kualitas kehidupan religius kita sangat ditentukan oleh kadar toleransi dan sejauh mana kita mampu melindungi kelompok paling lemah atau terpinggirkan. Kesadaran bahwa jalan umum adalah public space yang boleh digunakan baik oleh orang saleh maupun para ateis merupakan kualitas kemanusiaan yang sudah seharusnya mendapat perhatian kaum religius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan bersama membutuhkan aturan main agar kebebasan dan hak setiap individu dan kelompok masyarakat dilindungi. Hukum yang rasional adalah hukum yang mampu melindungi dan mengatur kebebasan warga negara agar tidak menjadi ancaman bagi hak-hak orang lain. Tepat sekali jika Immanuel Kant mendefinisikan hukum sebagai 'rangkaian syarat-syarat, di dalamnya kesewenang-wenangan (Willkuer) seseorang dipertemukan dengan kesewenang-wenangan orang lain atas dasar undang-undang kebebasan yang berlaku umum" (Kant, 1965). Kebebasan saya menemukan batasnya ketika praktik kebebasan itu menjadi ancaman untuk kebebasan orang lain. Batasannya adalah hukum yang berlaku umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif utama pembentukan hukum dan negara ialah untuk memberikan perlindungan atas kebebasan individu. Hukum tersebut harus ditaati oleh semua. Dengan itu situasi hukum rimba dapat diakhiri dan umat manusia dapat memasuki wilayah juridical society, suatu masyarakat di mana keadilan dan hukum berdaulat. Hukum yang dikendalikan oleh rasio praktis manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juridical society hanya bisa dibangun jika agama-agama juga dapat mendefinisikan dan menempatkan diri secara tepat di tengah konteks sosial yang plural. Ruang publik selalu ditempati oleh macam-macam agama dan pandangan hidup. Konflik sosial akan muncul jika sebuah agama atau ideologi tertentu berambisi memonopoli seluruh public space yang plural tersebut. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Otto Gusti Madung adalah Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Artikel ini pernah dimuat di Pos Kupang edisi, Senin 30 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1151473253851412460?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1151473253851412460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/agama-dan-ruang-publik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1151473253851412460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1151473253851412460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/agama-dan-ruang-publik.html' title='Agama dan Ruang Publik'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4600022046414083192</id><published>2009-12-30T01:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T01:23:04.278-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='natal oekumene'/><title type='text'>Uskup Turang Ajak Perangi Korupsi</title><content type='html'>Oleh Leonard Ritan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KUPANG (FLORES POS) -- Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang mengajak seluruh masyarakat NTT untuk memerangi kemiskinan sehingga NTT bisa terbebas dari kasus korupsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup mengatakan itu pada perayaan Natal Oekumene 2009 berrtempat di pelataran Gereja Katolik Assumpta, Selasa (29/12). Perayaan Natal Oekumene ini diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) bersama Pemerintah Provinsi NTT. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Uskup Turang mengungkapkan, umat atau masyarakat NTT harus memaknai perayaan Natal dan Tahun Baru 2010 dengan gerakan bersih iman. Sebab dengan gerakan bersih iman orang dapat bebas dari korupsi, kecurigaan, pencemaran ekologi, kebencian dan kecemburuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal-hal semacam itu harus kita hindari dengan memulai gerakan bersih iman dalam diri semua umat. Saya meminta agar semua umat beragama yang ada di daerah ini untuk tetap menjaga kerukunan dan toleransi beragama sehingga bisa memberikan rasa aman saat beribadah,” ajak Uskup Turang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kerukunan dan toleransi beragama di NTT patut disyukuri karena tidak ada gangguan selama melaksanakan ibadah Natal.  Walau demikian, rasa aman itu karena dijaga oleh aparat kepolisian dengan senjata-senjata.  “Apakah itu yang dinamakan rasa aman,” tanya Uskup Turang retoris.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Uskup Turang meminta agar semua umat mengintrospeksi diri. Karena  Yesus datang untuk membawa perdamaian di muka bumi, bukan untuk membangun kekuatan atau lainnya. Sehingga kerukunan dan toleransi beragama dalam menjalankan ibadahnya tidak harus ada penjagaan dari aparat keamanan, tapi benar-benar dimaknai dalam diri setiap umat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait tema perayaan natal Oekumene 2009, “Yesus Baik dengan Semua Orang”, Uskup Turang menjelaskan, tema dimaksud diangkat untuk mengajak semua umat manusia agar bisa berbuat baik kepada semua orang. Tuhan Yesus baik kepada semua orang, maka setiap orang juga harus baik kepada semua orang tanpa melihat latar belakang orang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Ketua GMIT NTT Pendeta Eben Nubantimo dalam suara gembalanya meminta kepada semua umat beragama di daerah ini untuk tetap menjaga kebersamaan antarsesama umat beragama. Kebersamaan dengan saudara-saudara yang beragama lain seperti Islam, Hindu, Budha dan lainnya haruslah juga dijaga. Karena pada prinsipnya, semua agama di muka bumi adalah sama. Sehingga perbedaan agama tidak perlu diperdebatkan antara satu sama lain, karena semuanya sama-sama menyatakan kebesaran Tuhan. Harus diingat, Tuhan datang tidak untuk berdebat atau menyerang manusia, tetapi datang untuk merangkul semua orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eben Nubantimo menambahkan, menjaga kebersamaan antarumat beragama dan semua orang merupakan tugas gereja, baik bagi orang yang banyak uang maupun orang yang banyak utang. Hal tersebut bukan merupakan persoalan tapi yang terpenting semua orang harus berbuat bagi sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun belakangan ini, Keuskupan Agung Kupang dan GMIT bersama gereja-gereja denominasi merayakan Natal Oekumene. Perayaan seperti ini dimaksudkan untuk menggali kebersamaan untuk menerima satu sama lain. Karena semua agama mengajarkan Tuhan yang satu dan sama, hanya berbeda soal bagaimana mengangkat aspek kualitatif dari Tuhan. &lt;br /&gt;“Kita perlu belajar kepada Allah yang baik. Selanjutnya kita mengambil aspek kebaikan Allah itu  sambil belajar perbedaan diantara sesama,” ujar Eben Nubantimo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Eben Nubantimo menyampaikan, pada prinsipnya semua agama mengajarkan tentang kebaikan Allah. Hanya saja sering terjadi perbedaan pemahaman dalam menerjemahkannya sehingga terjadi perbedaan pemahaman. Moment Oekumene seperti ini hendaknya tetap dijalankan untuk menanamkan nilai kebersamaan.*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4600022046414083192?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4600022046414083192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/uskup-turang-ajak-perangi-korupsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4600022046414083192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4600022046414083192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/uskup-turang-ajak-perangi-korupsi.html' title='Uskup Turang Ajak Perangi Korupsi'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6610194937604543556</id><published>2009-12-29T06:07:00.001-08:00</published><updated>2009-12-29T06:09:06.211-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Christmas'/><title type='text'>President condemns violence in Christmas message</title><content type='html'>JAKARTA (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/29/president-condemns-violence-in-christmas-message/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- President Susilo Bambang Yudhoyono has condemned sectarian violence in his message at a national Christmas celebration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Participants at the national Christmas celebration&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Let us get rid of any behavior that is against universal religious teachings,” he said, noting that such teachings “uphold truth, justice and responsibility.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An angry mob recently attacked construction workers at St. Albert chapel building in Bekasi, West Java, causing around 60 million rupiah (US$6,200) worth of damage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his address at the Dec. 27 celebration, the president said “such violent acts overstep the limits of propriety” and go against the moral and ethical teachings “of all religions.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referring to the celebration’s theme, “The Lord is good to all (Psalm 145:9a),” President Yudhoyono told the 6,000 Christians gathered that it “gives an inspiration to all of us to always strengthen the spirit of togetherness, solidarity and partnership.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He went on to say, “Let us respect the 1945 Constitution and Pancasila (five principles) as foundations of our lives.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila, enshrined in the preamble to the 1945 Constitution, comprises belief in one God, a just and civilized humanity, the unity of Indonesia, democracy guided by consensus, and social justice for all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The annual celebration is organized by a team consisting of both Catholics and Protestants with the minister of religious affairs and other government officials advising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The chairman of the Indonesian Bishops' Conference, Bishop Martinus Dogma Situmorang of Padang; Jesuit Cardinal Julius Darmaatmadja of Jakarta; and executive secretary of the Communion of Protestant Churches in Indonesia Reverend Gomar Gultom attended the event.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Government ministers and ambassadors also joined the celebration held at the Jakarta International Convention Centre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6610194937604543556?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6610194937604543556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/president-condemns-violence-in.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6610194937604543556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6610194937604543556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/president-condemns-violence-in.html' title='President condemns violence in Christmas message'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4989191607099708466</id><published>2009-12-29T03:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T03:36:48.032-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teolog'/><title type='text'>Dominican theologian Father Schillebeeckx dies at 95</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/briefs/cns/20091228.htm#head10"&gt;VATICAN CITY (CNS)&lt;/a&gt; -- Dominican Father Edward Schillebeeckx, a theologian whose work had a huge impact on the Dutch church, died at the age of 95 Dec. 23 in Nijmegen, Netherlands, where he lived since 1957. The Dominican taught in the department of dogmatic and historical theology at the Catholic University of Nijmegen, now known as Radboud University Nijmegen, from 1957 until his retirement in 1983. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;He served as theological adviser to the Dutch bishops during the Second Vatican Council and was seen as the main inspiration behind the Dutch catechism for adults. The catechism was published in 1966 after approval by the country's bishops, who wanted the text to reflect the council's new approach to questions of faith. But the Vatican criticized the text, ordered a study of it and in 1972 insisted on its withdrawal from use in Catholic schools. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In its obituary, Radboud University Nijmegen described Father Schillebeeckx as "as a pioneer who connected faith, church and theology with modern humanity in a secular society." But his efforts to "rethink the Christian faith in the light of contemporary culture" -- as Vatican Radio described his work Dec. 27 -- led to three separate investigations by the Congregation for the Doctrine of the Faith between 1968 and 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4989191607099708466?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4989191607099708466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/dominican-theologian-father.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4989191607099708466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4989191607099708466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/dominican-theologian-father.html' title='Dominican theologian Father Schillebeeckx dies at 95'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2959849071327490767</id><published>2009-12-29T03:32:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T03:33:23.092-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catholic'/><title type='text'>FBI report says religion not exempt from being target of hate crimes</title><content type='html'>By Carol Zimmermann&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0905605.htm"&gt;Catholic News Service&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASHINGTON (CNS) -- According to a recent FBI report, religious groups are not exempt from being targets of hatred.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The FBI's report on hate crime statistics for 2008, released in late November, showed that the majority of hate crimes in the U.S. were motivated by racial bias but that religious groups and homosexuals were the next largest targets.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The overall number of reported hate crimes -- more than 7,700 -- increased about 2 percent in 2008. Although racially motivated hate crimes -- the largest category -- decreased by less than 1 percent, crimes against religious groups increased by 9 percent and crimes based on sexual orientation increased 11 percent over the previous year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hate crimes include acts of vandalism or property damage, intimidation or physical attacks. The FBI downplays year-to-year comparisons of hate crimes compiled since 1992, saying the increased figures could simply be the result of more local agencies tracking crimes. Civil and human rights groups say the figures are not accurate enough because not all hate crimes are reported.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Perez, head of the Justice Department's Civil Rights Division, told reporters Dec. 17 that he was committed to putting a stop to violence stemming from hatred and bias and planned to hire 100 additional staffers to assist with the expanded federal hate crime laws.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In documented crimes against religious groups in 2008, Jews were targeted the most -- 66 percent -- while Muslims accounted for 13 percent and Catholics were victims of 5 percent of hate crimes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Anti-Defamation League said the new figures show a need for a national initiative to combat hate crimes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Donohue, president of the Catholic League for Religious and Civil Rights, told USA Today that attacks on Catholics could be motivated by the church's opposition to abortion and same-sex marriage. As Catholics become more vocal on issues, he said, they become targets for those who disagree with them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The sense of a growing anti-Catholic sentiment was the focus of an Oct. 29 blog entry by New York Archbishop Timothy M. Dolan. The entry was an expanded version of an op-ed he submitted to The New York Times that was not published.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the entry, the archbishop likened anti-Catholicism to "a national pastime," citing frequent examples of anti-Catholic bias in the pages of The New York Times. He also said the bias was prevalent in the "so-called entertainment media."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laurie Goodstein, one of the reporters singled out in the archbishop's blog, responded by saying she was disturbed to read his characterization that her work and that of her colleagues was anti-Catholic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You write as though the Catholic Church is some sort of special target, when in fact any institution that is accused of wrongdoing receives critical coverage and commentary," she said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anti-Catholic bias, perceived or real, is hardly new. Several years ago in a column for America magazine, Jesuit Father James Martin, the magazine's culture editor, noted that "examples of anti-Catholicism in the United States are surprisingly easy to find."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He cited multiple examples in entertainment and advertising and placed the bias in a broader perspective, saying: "Anti-Catholicism in the United States is simply not the scourge it once was, nor is it today as virulent as anti-Semitism, homophobia or racism."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some say the increase of prejudice and hate crimes toward specific groups has been fueled by the economic downturn and the often polarizing discourse in American society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The FBI's report on hate crimes was released just weeks after President Barack Obama signed into law the Matthew Shepard and James Byrd Jr. Hate Crimes Prevention Act, which expands federal hate crimes legislation to include crimes committed because of the victim's gender, gender identity or sexual orientation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Previously, the federal hate crimes law only protected those attacked on the basis of race, color, religion or national origin. An expansion of the law was initially introduced in 2001 and had been reintroduced every year since.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The expanded legislation was named after two men killed in separate hate crimes. Shepard, 21, died in October 1988 after being beaten by two men in Laramie, Wyo., because he was gay. Byrd, a 49-year-old African-American man, was killed in June 1998 by three men in Texas who dragged him behind their pickup truck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the subject of expanding federal hate crimes laws, religious groups were divided.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some vocalized their support, stressing that religious principles demand equal protection of all people while other groups expressed concern that the measure would threaten their constitutional right to speak out on moral issues.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some religious leaders questioned the possibility of being prosecuted if someone committed a hate crime because of a sermon or pastoral counseling labeling homosexuality as immoral, but constitutional specialists have dispelled this concern, stressing the free speech protection of the First Amendment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although Catholic Church officials did not take a stand on the issue, a Catholic priest defended the legislation during a Capitol Hill rally in 2007 when the legislation was reintroduced to Congress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominican Father Charles Bouchard, past president of Aquinas Institute of Theology in St. Louis, said attempts to expand the legislation were not meant to "create special rights" or "endorse any lifestyle."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead, he said the expanded hate crimes legislation was a means to "simply offer appropriate legal protection for persons who are victims of violence because of who they are and ensure that workers are judged on the basis of their job performance and not the basis of prejudice."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2959849071327490767?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2959849071327490767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/fbi-report-says-religion-not-exempt.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2959849071327490767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2959849071327490767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/fbi-report-says-religion-not-exempt.html' title='FBI report says religion not exempt from being target of hate crimes'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2119741927169227989</id><published>2009-12-29T03:29:00.001-08:00</published><updated>2009-12-29T03:29:46.318-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pope'/><title type='text'>Vatican to decide fate of woman who knocked down pope</title><content type='html'>By Carol Glatz&lt;br /&gt;Catholic News Service&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VATICAN CITY (&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0905679.htm"&gt;CNS&lt;/a&gt;) -- The Vatican will decide how to proceed with the young woman responsible for knocking down Pope Benedict XVI during Christmas Eve Mass only after it reviews medical and Vatican security reports, said Vatican spokesmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Critical to the prosecutor's decision will be the doctors' evaluation concerning the woman's mental state and whether or not she was "of sound mind," Father Ciro Benedettini, vice director of the Vatican press office, told Catholic News Service Dec. 28. The prosecutor will also take into consideration eyewitness accounts, he said.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;When the Vatican prosecutor has all the information, including a medical evaluation, he can recommend acquitting her of any crime, handing her over to Italian or Swiss authorities, or handing down a sentence, Father Benedettini said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The prosecutor will send his recommendation to the Vatican tribunal, which will then make the final ruling, he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susanna Maiolo, 25, jumped a security barrier at the start of the Dec. 24 liturgy as Pope Benedict processed into St. Peter's Basilica. As Vatican security guards tackled her to the ground, she was able to pull on the pope's vestments, causing him to lose his balance and tumble to the marble floor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The woman, who has Italian and Swiss citizenship, was taken away by papal guards. She was not armed but she showed signs of mental instability, according to a Vatican statement Dec. 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immediately after the incident the pope was back on his feet and appeared unharmed. The Mass and other papal events took place as scheduled.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maiolo was transferred Dec. 25 to a psychiatric hospital in Subiaco, about 45 miles outside of Rome, for what the Vatican called "mandatory clinical treatment."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maiolo "remains under compulsory clinical treatment and the case remains under the jurisdiction of the Vatican judiciary," said Jesuit Father Federico Lombardi, Vatican spokesman, in a written statement Dec. 26. Because the incident occurred on Vatican territory, it is up to the Vatican's judicial system to determine whether or not to initiate legal proceedings. The Vatican can turn the case over to Italy for prosecution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Vatican statement said its prosecuting attorney "will have to take into consideration the reports from doctors and Vatican security personnel, and, in light of these, evaluate possible further steps to take."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the pope was unharmed by the attack, French Cardinal Roger Etchegaray, 87, suffered a broken hip and spent Christmas in Rome's Gemelli hospital. He underwent surgery and received a total hip replacement Dec. 27. The operation was successful and the cardinal's condition was good, the Vatican said in a written statement later that day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatican sources confirmed that Maiolo was the same person who attempted to rush the pope at midnight Mass in 2008, but had been tackled by guards before she could reach the pontiff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When asked what kind of precautions the Vatican was going to take in order to prevent Maiolo from having an opportunity to repeat something similar at future papal events, Father Benedettini told CNS that for security reasons the Vatican would not reveal what strategies it intended to take.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Domenico Giani, director of Vatican security services, told the Italian daily Il Messaggero Dec. 27 that the number of people "that are stopped because they get too close to the Holy Father are many, even if we do not publicize it." Giani was the guard that tackled Maiolo in 2008 and 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Father Lombardi told reporters Dec. 27, "The pope cannot be shielded 100 percent unless a wall were created between the pope and the faithful, which is unthinkable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Security measures could be intensified, but this will be decided by the appropriate parties. However, it's necessary to dispel the illusion that there is zero risk," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because the pope wants to be close to the people, Vatican guards cannot always keep "similar episodes from happening" in the future, Father Lombardi added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2119741927169227989?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2119741927169227989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/vatican-to-decide-fate-of-woman-who.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2119741927169227989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2119741927169227989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/vatican-to-decide-fate-of-woman-who.html' title='Vatican to decide fate of woman who knocked down pope'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5973776603111101105</id><published>2009-12-29T03:26:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T03:27:48.952-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pope'/><title type='text'>Pope's Christmas marked by calls for charity, security incident</title><content type='html'>By John Thavis&lt;br /&gt;Catholic News Service&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VATICAN CITY (&lt;a href="http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0905676.htm"&gt;CNS&lt;/a&gt;) -- Pope Benedict XVI celebrated Christmas with a call for unselfish charity and solidarity with the suffering, and underlined the message two days later by lunching with the poor at a Rome soup kitchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope's Christmas was marred by a security scare on Christmas Eve, when a mentally unbalanced woman rushed the 82-year-old pontiff and knocked him to the marble floor of St. Peter's Basilica. The pope was unharmed but French Cardinal Roger Etchegaray suffered a broken hip when he fell in the confusion.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The incident occurred as the pope processed into the basilica at the start of the 10 p.m. Mass. Amateur videos posted on YouTube showed a woman wearing a red sweatshirt leaping over the security barrier and grabbing the pope's vestments, as Vatican security guards swarmed above them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The alarmed congregation inside the basilica broke into applause when the pope quickly rose to his feet and continued the procession down the main aisle, looking somewhat shaken. The liturgy proceeded without further incident.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatican sources confirmed that the woman was the same person who attempted to rush the pope at Midnight Mass last year, but was tackled by guards before she could reach the pontiff. The woman, 25-year-old Susanna Maiolo, an Italian and Swiss citizen, was taken into custody for psychiatric evaluations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his Christmas Eve homily, the pope said conflict in the world stems from the fact that "we are locked into our own interests and our desires." He said many people have become "religiously tone-deaf" and unable to perceive God, absorbed by worldly affairs and professional occupations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"For most people, the things of God are not given priority.... And so the great majority of us tend to postpone them. First we do what seems urgent here and now. In the list of priorities God is often more or less at the end. We can always deal with that later, we tend to think," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite this mentality, he said, a path for discovering and appreciating God exists for everyone. It is a path marked with signs, he said, and at Christmas God's sign is that "he makes himself small; he becomes a child; he lets us touch him and he asks for our love."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On Christmas Day, the pope delivered his message and blessing "urbi et orbi" -- to the city of Rome and to the world -- from the central balcony of St. Peter's Basilica. He prayed for peace in world trouble spots like the Holy Land, Iraq, Sri Lanka and the Democratic Republic of Congo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Europe and North America, he said, the church "urges people to leave behind the selfish and technicist mentality, to advance the common good and to show respect for the persons who are the most defenseless, starting with the unborn."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope said the church began with Christ's birth "in the lowly cave of Bethlehem" and through the centuries has become a light for humanity, most recently as it has experienced a "grave financial crisis" and a more general moral crisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope then offered Christmas greetings in 65 languages, saying in English: "May the birth of the Prince of Peace remind the world where its true happiness lies; and may your hearts be filled with hope and joy, for the savior has been born for us."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope's Christmas message included a call for "an attitude of acceptance and welcome" for the millions of people who migrate from their homelands, driven by hunger, intolerance or environmental degradation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On Dec. 27, the pope lunched with a mostly immigrant group at a Rome soup kitchen and language school run by the Sant'Egidio Community, a Catholic lay organization. The white-robed pontiff came with a carload of gifts that he presented to more than 30 children served by the center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The pope was cheered as he entered the dining room for a meal of lasagna, meatballs and lentils, followed by cake and spumante. He listened during the meal to personal stories of persecution, arduous immigration routes and homelessness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among those seated at the pope's table was Qorbanali Esmaili, a 34-year-old political refugee from Afghanistan; Roukia Daud Abdulle, a 63-year-old Somali woman who came to Italy so that her disabled son could receive care; and Boban Trajkovic, 24, who lives in a Gypsy camp on the outskirts of Rome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The event in the popular Rome quarter of Trastevere drew hundreds of residents who cheered the pope when he arrived and watched video pictures of part of his visit on a giant TV screen outside. They applauded when the pontiff greeted 25-year-old Aniello Bosco, who gets around the neighborhood in a wheelchair; he was abandoned by his family because of a disability.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I am here to tell you that I am close to you and I love you, and that your experiences are not far from my thoughts," the pope said in a speech, before being serenaded with a Christmas carol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outside the center, the pope stopped to personally greet many of the residents who packed the adjacent street. Despite the Christmas Eve incident at the Vatican, no attempt was made to keep people at a distance from the pontiff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Earlier Dec. 27, the pope marked the feast of the Holy Family at his noon blessing at the Vatican, saying that like modern immigrants, Jesus, Mary and Joseph endured many trials and hardships. He emphasized that the family is the primary "school" of values for younger generations today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the best services Christians can offer is the example of a sound family, "founded on marriage between a man and a woman," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On Dec. 26, the feast of St. Stephen, the pope noted that the saint, known as the first martyr, was also the church's first deacon, who gave special service to the poor. His example shows that love for the poor is a privileged way to live the Gospel and witness it credibly to the world, he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5973776603111101105?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5973776603111101105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/popes-christmas-marked-by-calls-for.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5973776603111101105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5973776603111101105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/popes-christmas-marked-by-calls-for.html' title='Pope&apos;s Christmas marked by calls for charity, security incident'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6929566263251441873</id><published>2009-12-27T02:36:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T02:37:27.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan lingkungan hidup'/><title type='text'>Lingkungan Hidup dan Pelayanan Kaum Miskin Menjadi Perhatian Utama Uskup</title><content type='html'>LEGAZPI CITY, Filipina (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/14/filipina-lingkungan-hidup-dan-pelayanan-kaum-miskin-menjadi-perhatian-utama-uskup/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Perhatian terhadap orang miskin dan perlindungan terhadap lingkungan hidup akan berperan penting dalam pelayanan Mgr Joel Baylon sebagai uskup Legazpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keuskupannya, para petani "kehilangan lahan yang dapat mereka sebut sebagai tanah mereka sendiri karena berbagai kegiatan pertambangan merusak harta milik mereka" dan para nelayan "jatuh miskin karena berbagai perusahaan besar," kata prelatus berusia 55 tahun itu dalam Misa pelantikannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai Gereja, kita hendaknya berani berbicara atas nama kebenaran dan membela mereka yang tertindas atau dieksploitasi,” katanya dalam acara 10 Desember di Katedral St. Gregorius Agung di Legazpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanian dan perikanan merupakan mata pencaharian utama banyak orang di wilayah Albay di Propinsi Bicol, tempat keuskupannya berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Paus Benediktus XVI mengangkatnya sebagai uskup Legazpi Oktober lalu, dia waktu itu menjadi uskup Masbate, wilayah propinsi termiskin menurut sensus 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah kepemimpinannya, Gereja di Masbate memprotes bahaya yang ditimbulkan oleh lubang-lubang menganga akibat pertambangan, terutama emas, di kota Aroroy. Perlawanan Gereja menjadi intensif awal tahun ini setelah kematian dua anak yang memperkuat kecurigaan bahwa limbah racun dan kimia merembes ke berbagai sumber air minum dan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Baylon mengatakan kepada UCA News di saat pelantikan itu bahwa Keuskupan Legazpi akan terus menentang pertambangan di Pulau Rapu-Rapu jika pertambangan itu merusak lingkungan hidup dan membahayakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bantuan Universitas Ateneo de Naga milik Yesuit dan berbagai lembaga swadaya masyarakat, katanya, Gereja memperoleh data dan “bukti ilmiah bahwa pertambangan merusak flora dan fauna yang rentan di wilayah itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menekankan bahwa Gereja menjadi “penasehat” tanpa kuasa membuat kebijakan. "Kita tidak bisa memaksa perusahaan-perusahaan itu untuk hengkang dari pulau itu." Namun, "kita akan terus mendorong pengadaan dialog dengan semua pihak terkait -- petani, penambang, serta pemerintah lokal dan regional yang berkuasa menjalankan berbagai keputusan itu,” kata prelatus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Baylon mengatakan bahwa dia juga akan melibatkan orang muda dalam melindungi hutan. Uskup itu mengetuai Komisi Kepemudaan dari Konferensi Waligereja Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelatus itu berasal dari Propinsi Camarines Sur, juga di wilayah Bicol. Dia ditahbiskan imam tahun 1978 dan menjadi uskup setelah melayani Gereja selama 20 tahun, termasuk menjadi sekretaris Kedutaan Vatikan di Manila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara lebih dari 3.000 orang yang menghadiri Misa pelantikannya itu terdapat juga Presiden Gloria Macapagal-Arroyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Lagazpi terdapat 36 imam yang melayani lebih dari 1,13 juta umat Katolik di 43 paroki. Mereka dibantu oleh 156 suster, 12 bruder, dan 86 seminaris.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6929566263251441873?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6929566263251441873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/lingkungan-hidup-dan-pelayanan-kaum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6929566263251441873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6929566263251441873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/lingkungan-hidup-dan-pelayanan-kaum.html' title='Lingkungan Hidup dan Pelayanan Kaum Miskin Menjadi Perhatian Utama Uskup'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4834973838918064058</id><published>2009-12-13T17:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T17:36:09.674-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teolog'/><title type='text'>Gereja Berkabung atas Kematian Teolog Kawakan</title><content type='html'>PUNE, India (UCAN) -- "Tidak ada teolog yang lebih hebat dari Pastor Neuner di India," kata Uskup Agung Agra Mgr Albert D'Souza kepada sekitar 1.500 pelayat yang menghadiri Misa pemakaman mendiang Pastor Josef Neuner SJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kepada UCA News kemudian, Uskup Agung D'Souza mengatakan, mediang ilmuwan Yesuit itu membawa "udara segar" ke dalam Gereja Katolik India, dengan ketajaman dan kedalaman pandangannya tentang iman.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pastor Neuner, tokoh penting dalam Konsili Vatikan Kedua (1962-1965) dan seorang pembimbing rohani dari Beata Teresa dari Kolkata, wafat pada tanggal 3 Desember di usia 101 tahun. Dia dimakamkan pada hari berikutnya di pemakaman Jnana-Deepa Vidyapeeth (JDV), seminari kepausan di Pune, India bagian barat, tempat dia mengajar selama beberapa dekade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Job Kozhamthadam, ketua JDV, mengatakan dalam eulogianya pada Misa pemakaman di kapel seminari itu bahwa sebuah "tradisi penting" teologi di India berakhir dengan wafatnya rekan Yesuit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor yang dilahirkan di Austria itu selalu memperlihatkan cara-cara baru untuk melayani Gereja dan masyarakat di India, negeri yang dipilihnya tahun 1938. "Tujuannya adalah untuk membangun sebuah Gereja India dengan sebuah teologi Kristen India yang asli," jelas Pastor Kozhamthadam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misionaris itu menghabiskan tujuh tahun di penjara di India ketika Perang Dunia Kedua, karena dia berasal dari negara berbahasa Jerman. Namun, dia dia memanfaatkan saat itu untuk mempelajari bahasa Sansekerta, berbagai kitab suci Hindu seperti Bhagavad Gita dan buku-buku Upanishad, serta sistem filsafat India, kata Pastor Kozhamthadam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Neuner juga mengilhami generasi-generasi para pastor dan suster dengan ajaran, retret, dan bimbingannya. Salah satu di antara mereka itu adalah Beata Teresa dan Kongregasi Misionaris Cinta Kasih serta sejumlah anggota Society of the Helpers dari Kongregasi Maria dan berbagai lembaga sekular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pastor Kozhamthadam, Gereja India berhutang budi kepada Pastor Neuner karena turut memberi kontribusi dalam transformasi yang mulus dari “Gereja kolonial” yang tua “menjadi Gereja India yang asli."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia lakukan umumnya melalui JDV, sebelumnya Pontifical Athenaeum, yang didirikan di Kandy, Sri Lanka, tahun 1893. Lembaga pendidikan ini berpindah ke Pune tahun 1955, delapan tahun setelah India merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Neuner membuat seminari itu melihat ke depan dan terbuka secara kreatif terhadap keanekaragaman sosial, budaya, dan politik, kata ketua JDV itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Kuruvilla Pandikattu SJ, seorang dosen JDV, menambahkan bahwa Pastor Neuner memotivasikan ratusan mahasiswa teologi untuk menyesuaikan pesan Kristen dalam realitas India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruder Mani Mekkunnel dari Kongregasi Montfortan, sekretaris nasional Konferensi Religius India, mengatakan bahwa Pastor Neuner adalah "lokomotiv pembaruan Gereja” dan mempengaruhi Gereja India secara mendalam setelah Konsili Vatikan Kedua.*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4834973838918064058?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4834973838918064058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/gereja-berkabung-atas-kematian-teolog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4834973838918064058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4834973838918064058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/gereja-berkabung-atas-kematian-teolog.html' title='Gereja Berkabung atas Kematian Teolog Kawakan'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8201211345441919643</id><published>2009-12-11T19:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:59:52.507-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perubahan iklim'/><title type='text'>Kehidupan di Garis Depan Perubahan Iklim</title><content type='html'>Komentar UCAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brie O'Keefe, pejabat program aksi untuk Progressio, sebuah badan amal internasional dengan akar-akar Katolik yang berbasis di London, mengatakan, Asia berada dalam posisi yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim. Dia mendesak negara-negara kaya untuk segera bertindak guna mengurangi emisi karbon global dan menolong negara-negara miskin untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim sebagai hal yang mendesak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;LONDON (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/09/asia-kehidupan-di-garis-depan-perubahan-iklim/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Para pemimpin dunia, aktivis, pelayan masyarakat, kaum muda, perempuan, dan pemimpin agama memadati dengan ribuan kemah untuk mengambil bagian dalam pertemuan di Copenhagen yang menurut pakar ekonomi Inggris Lord Stern merupakan "pertemuan terpenting sejak Perang Dunia Kedua."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara pemerintah-pemerintah berusaha mengambil langkah-langkah untuk mengurangi tingginya temperatur global yang direkomendasikan oleh para ilmuwan, di bagian lain dunia sudah berhadapan dengan fakta bahwa perubahan iklim sudah mulai terjadi. Dan tidak ada tempat lain yang merasakan hal ini lebih genting ketimbang sejumlah tempat di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hampir semua pembicaraan tentang perubahan iklim yang diselenggarakan pada bulan November di Barcelona, Spanyol, Joseph Hadler dari NGO Forum for Drinking Water Supply and Sanitation di Bangladesh berbicara tentang apa yang sudah dialami negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya berada di sini sebagai korban perubahan iklim, negara saya kini sedang menghadapi banyak persoalan semacam itu sekarang ini dan berbagai persoalan itu sangat diakibatkan oleh perubahan iklim. Kini sepanjang tahun kami menghadapi situasi angin ribut,” kata Hadler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun di media dan lainnya, banyak orang memperdebatkan ilmu di balik perubahan iklim, fakta berbicara sendiri. Dua peristiwa angin topan telah menghantam Bangladesh dalam tiga tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali angin topan yang luar biasa itu telah menghancurkan infrastruktur dan kehidupan manusia di banyak bagian wilayah pesisir Bangladesh, jelas Hadler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya air laut ke daratan juga biasa terjadi. Karena air asing masuk ke daratan, tanaman produktif rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intergovernmental Panel on Climate Change, badan yang bertugas untuk mengakses resiko-resiko seputar pemanasan global, memperkirakan bahwa karena lebih banyak karbon mencemarkan atmosfir, cuaca ekstrim seperti angin topan menjadi lebih sering dan lebih intens terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang diinginkan Hadler – seperti yang juga diinginkan banyak lembaga swadaya masyarakat yang menghadiri pembicaraan-pembicaraan di Copenhagen pekan ini – tidaklah sekedar menghasilkan daftar prediksi bagaimana hal-hal buruk akan terjadi, tetapi aksi konkret:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya di sini justru untuk menyadarkan dunia bahwa saya ini korban, negeri saya menjadi korban, dari apa yang sedang kami hadapi dan berbagai alasan di balik semua itu. Para pemimpin (dunia) harus memikirkan semua ini dan melakukan sesuatu bagi negara-negara korban seperti Bangladesh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah benua, Asia berada pada tempat yang sangat menderita akibat dampak perubahan iklim. Di banyak negara tempat Progressio berkarya, seperti Timor Leste, yang 80 persen orang mudanya menganggur dan 40 persen penduduknya hidup kurang dari satu dolar per hari, sumber daya yang tersedia hanya sedikit untuk bisa menunjang proyek-proyek yang akan melindungi mereka dari masa depan lingkungan hidup yang berubah yang diprediksi sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, isu adaptasi, bagaimana komunitas-komunitas bisa “beradaptasi” untuk membuat mereka mampu menghadapi dampak perubahan iklim, menyoroti satu dari berbagai poin penting menyangkut negosiasi-negosiasi iklim internasional yang diadakan hingga saat ini - tanggung jawab sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan suatu ironi yang aneh bahwa negara-negara itu umumnya bertanggungjawab karena penciptaan perubahan iklim akan menjadi yang terakhir karena konsekuensi-konsekuensi perubahan iklim itu sendiri, yang membuat negara-negara miskin dipersalahkan karena mengabaikan usaha untuk menghadapi perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, banyak pemerintah dari negara-negara maju menolak permintaan disisihkannya dana adaptasi perubahan iklim di negara-negara termiskin di dunia. Negara-negara maju lebih suka menggunakan bantuan internasional untuk memerangi kemiskinan dan serempak mengurangi emisi karbon di negara-negara sedang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin Gereja kembali menyuarakan bantuan internasional untuk mulai memperhatikan planet bumi secara berkelanjutan. Dalam pertemuan tingkat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang perubahan iklim yang pernah diadakan di New York pada bulan September, Paus Benediktus XVI berbicara dalam sebuah pesan lewat video tentang tanggung jawab kita untuk memperhatikan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lingkungan hidup ini dianugerahkan Allah untuk semua orang, maka pemanfaatannya menyiratkan tanggungjawab pribadi terhadap kemanusiaan secara keseluruhan, khususnya terhadap kaum miskin dan terhadap generasi-generasi mendatang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biaya sosial dan ekonomi dari pemborosan sumber daya bersama harus diakui secara transparan dan ditanggung oleh mereka yang melakukannya, bukan oleh orang lain atau generasi-generasi mendatang. Pelestarian lingkungan hidup, dan perlindungan sumber daya iklim, mewajibkan semua pemimpin untuk bertindak secara bersama, dengan menghormati undang-undang dan dengan meningkatkan solidaritas dengan berbagai kawasan dunia yang paling lemah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun ada banyak himbauan seperti itu, masih saja ada berbagai hambatan politik yang menghambat tindakan cepat menyangkut perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copenhagen, kata para aktivis, merupakan kesempatan terbaik kita untuk membuat kesepakatan, tetapi mungkin bukan kesempatan terakhir. Perubahan iklim tidak segera lenyap begitu saja, tetapi keputusan-keputusan yang dibuat sekarang akan menjadi acuan seberapa baik kita menghadapi hal itu di tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barcelona, Hadler berbicara tentang desa-desa di seluruh Bangladesh yang rusak dan dipindahkan ke pedalaman untuk menghindari masuknya air laut ke daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin memperingatkan para pemimpin dunia,” katanya. “Kita tidak bisa lagi menggali kuburan di desa-desa kami, karena sudah berada di bawah laut, maka kami memindahkan jenazah-jenazah ke tempat lain untuk mengebumikan mereka. Inikah masa depan kita?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika negara-negara kaya tidak bertindak sekarang untuk mengurangi emisi karbon dan untuk membantu negara-negara miskin menyesuaikan diri sebagai hal yang mendesak, maka kisah seperti yang dituturkan oleh Hadler akan juga menjadi umum. Itulah sebabnya pertemuan Copenhagen harus berhasil.   ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8201211345441919643?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8201211345441919643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/kehidupan-di-garis-depan-perubahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8201211345441919643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8201211345441919643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/kehidupan-di-garis-depan-perubahan.html' title='Kehidupan di Garis Depan Perubahan Iklim'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8489474982279848490</id><published>2009-12-11T19:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:59:14.670-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dialog'/><title type='text'>Dialog Antaragama Harus Melibatkan Kelompok Radikal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SyMTovM2KaI/AAAAAAAAAMc/eMA2sSolugU/s1600-h/Cardinal+Tauran.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SyMTovM2KaI/AAAAAAAAAMc/eMA2sSolugU/s200/Cardinal+Tauran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414192767615510946" /&gt;&lt;/a&gt;VATIKAN (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/07/vatikan-%E2%80%9Cdialog-antaragama-harus-melibatkan-kelompok-radikal%E2%80%9D/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Para tokoh Muslim, yang bertemu dengan Jean-Louis Kardinal Tauran, ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, ketika dia berkunjung ke Indonesia, menunjukkan ketekadan untuk membentuk hubungan lintas agama yang kuat, kata seorang anggota dewan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Pastor Markus Solo SVD, seorang imam Indonesia yang bekerja di seksi Dialog Kristen-Muslim Asia di dewan itu, berpendapat bahwa dialog lintas agama di Indonesia mesti juga melibatkan kelompok-kelompok radikal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam komentar untuk UCA News ini, dia juga mengatakan bahwa pernyelesaian berbagai persoalan yang melibatkan kelompok-kelompok semacam itu hanya bisa terlaksana dalam kelompok agama mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Solo menemani Kardinal Tauran dalam kunjungan resmi kardinal itu ke Indonesia dari 24 November hingga 1 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berikut ini adalah refleksi-refleksi imam itu:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saya ingin menjelaskan bahwa Jean-Louis Kardinal Tauran dan saya datang ke Indonesia atas nama Takhta Suci dan itu berarti mewakili Gereja Katolik Roma universal. Ini harus dikatakan sehingga bisa membantu kaum Muslim membedakan umat Katolik dari umat Protestan. Patut disayangkan bahwa banyak kaum Muslim di Indonesia masih tidak bisa membedakan antara keduanya, dan ini terkadang menimbulkan salah pengertian dan menciptakan persepsi keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID, Pontifical Council for Interreligious Dialogue) tahun 2007, Kardinal Tauran mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu dengan baik bahwa dialog dengan kaum Muslim tidak bisa mengabaikan Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia – 22 persen penduduk Muslim dunia. Kedua, Indonesia mengalami ketegangan-ketegangan lintas agama antara Kristen dan Muslim, terutama setelah pemerintahan Soeharto (1966-98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis sosial-ekonomi 10 tahun terakhir telah menimbulkan sentimen-sentimen agama dan memperburuk hubungan Kristen-Muslim di sejumlah tempat di Indonesia. Konflik-konflik berdarah dengan motif agama di sejumlah tempat seperti Jawa, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan berdampak negatif terhadap hubungan Kristen-Muslim walaupun kenyataannya konflik-konflik ini bukan konflik agama. Hubungan-hubungan yang buruk itu menimbulkan kecurigaan dan prasangka selama bertahun-tahun, dan ini tercermin dalam ketakutan terhadap misi dan evangelisasi, dalam larangan pembangunan tempat-tempat ibadat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun harus diakui bahwa hanya segelintir kelompok yang menggunakan agama untuk suatu agenda tertentu – baik itu bersifat politik maupun agama – dan menimbulkan berbagai masalah dan kekacauan di seluruh negeri. Namun, berkat Tuhan, mayoritas umat Kristen dan kaum Muslim adalah orang-orang yang berkehendak baik yang moderat dan berpikiran terbuka terhadap pluralitas yang merupakan bagian integral dari realitas di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatikan sadar akan situasi hubungan Kristen-Muslim di Indonesia, dan tahu baik buruknya. Karena alasan-alasan inilah, Kardinal Tauran senang mewujudkan keinginannya untuk mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan para tokoh Muslim serta para pemimpin resmi agama-agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal Tauran dan saya mengadakan serangkaian pertemuan dengan para tokoh Muslim di Masjid Istiqlal, Wahid Institute, organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Jakarta; di Denpasar di Bali, Makassar di Sulawesi; dengan Universitas Negeri Islam Sunan Kalijaga dan Sultan di Yogyakarta; dan di DEPLU (Departemen Luar Negeri) di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembicaraan-pembicaraan ini, saya setulusnya mengatakan bahwa semua tokoh Muslim dan berbagai rekan yang kami temui dalam kunjungan itu memperlihatkan kehendak baik dan kesiapan untuk bekerja sama dengan umat Kristen guna menciptakan landasan hubungan antaragama yang mantap, kuat dan moderat di Indonesia. Kehendak baik ini juga membuka kemungkinan untuk melibatkan kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis. Ini merupakan suatu perkembangan penting yang muncul dari pengalaman-pengalaman masa krisis hubungan antaragama beberapa tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada semacam keinginan dan kesadaran baru untuk menciptakan suatu tatanan baru dan untuk memberi suatu wajah baru Indonesia yang rukun dan damai. Ini pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Namun saat kekuatan moderat – yang terdiri dari orang-orang yang berkehendak baik di seluruh negeri – terbentuk dan didukung oleh persahabatan yang jujur, tulus, dan penuh penghormatan, maka Indonesia akan mampu memerangi terorisme dan kelompok-kelompok radikal yang bertindak membabi-buta dan memperalat agama untuk tujuan terselubung yang pada dasarnya bertentangan dengan kepentingan bersama masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal Tauran mendukung hal ini dan di berbagai tempat menyoroti pentingnya Pancasila, falsafah yang kuat dan mendasar, yang menjadi kekayaan tersendiri dari Indonesia. Pancasila, yang menjadi simbol penting pemersatu kebhinekaan bangsa, harus dihidupkan kembali dan dihormati oleh segenap masyarakat Indonesia tanpa mempedulikan agama, kebudayaan, suku, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menekankan pentingnya Pancasila, Kardinal Tauran mengatakan dengan tegas kepada mereka yang bertemu dengannya bahwa dia berdoa semoga Pancasila akan senantiasa menjadi landasan dan falsafah yang mendasari hak dan tanggungjawab segenap warga negara dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga perlu dikatakan bahwa dalam kedua agama [Kristen dan Islam] ada kesamaan pandangan dan gagasan tentang perdamaian dan kerukunan, seperti telah disampaikan dalam berbagai sambutan dan pembicaraan. Perdamaian itu bukan sekedar tidak ada perang dan teror, tetapi merupakan rangkuman berbagai kebaikan, terutama keamanan. Perdamaian merupakan buah keadilan. Sebaliknya, perang dengan segala rentetan kekejaman yang memilukan, merupakan salah satu tragedi terburuk yang dapat terjadi di berbagai bangsa dan komunitas. Perdamaian bertumbuh bagaikan suatu tanaman berharga. Dia butuh perawatan terus menerus. Manusia perlu mempromosikan budaya perdamaian di mana saja dan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdamaian yang nyata memiliki tiga hal fundamental: transformasi dari toleransi ke cinta, saling menghormati, dan kerja sama. Indonesia telah bertahun-tahun mempraktekkan toleransi. Namun toleransi juga memiliki konotasi negatif. Dia mengandaikan bahwa mereka yang perlu dan mesti ditolerir adalah mereka yang salah dan mengganggu. Toleransi dalam kebersamaan antaragama di Indonesia mungkin menimbulkan salah pengertian bahwa agama-agama yang bukan agama seseorang itu salah, dan karena itu harus ditolerir. Kita mengoreksi semua salah pengertian, praduga, dan kecurigaan ini dengan mencintai satu sama lain sebagai saudara yang memiliki satu bangsa, satu negara, satu bahasa, dan kekayaan budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bagaimana orang Indonesia memenuhi hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, umat Kristen dan kaum Muslim – dan segenap masyarakat Indonesia – mesti memiliki dan memastikan adanya kekuatan masyarakat yang berkehendak baik. Mereka mesti membentuk landasan bagi masyarakat yang moderat dan berpikiran terbuka di seluruh negeri untuk bekerja sama secara nasional dalam sebuah jaringan yang dapat meminimalkan pengaruh kelompok-kelompok radikal dan mempromosikan sebuah Indonesia yang rukun dan damai di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Indonesia mesti mengembangkan dirinya sendiri berlandaskan kebudayaan aslinya sendiri, yang menghormati kejujuran, ketulusan, kerukunan, gotong royong, keramahan, kesopanan, dan tidak memaksakan atau bahkan mengagung-agungkan kebudayaan asing, yang hanya akan menimbulkan perpecahan dari apa yang telah menjadi bagian integral dari identitas Indonesia. Umat Kristen dan kaum Muslim di Indonesia mesti secara bersama berjuang untuk menghayati dan mengamalkan iman mereka secara Indonesia sehingga rasa memiliki sebagai satu keluarga diperkuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dialog lintas agama di Indonesia mesti melibatkan kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis. Mereka ini tidak berada di luar agama; mereka adalah bagian dari agama. Penyelesaian berbagai persoalan dengan kelompok-kelompok radikal hanya dapat terjadi dalam komunitas agama masing-masing. Eksistensi kelompok radikal di Indonesia dan jaringan internasional mereka, sayangnya, masih menjadi masalah terbesar. Orang-orang yang berkehendak baik di berbagai jenjang masyarakat mesti bekerja sama dengan sadar dan bijak sehingga tidak memberi peluang bagi kelompok-kelompok radikal untuk berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Indonesia bisa “mempertobatkan” kelompok-kelompok radikal, Indonesia akan bisa hidup damai dan rukun, dan memberi kontribusi penting bagi perdamaian dunia. Ini membutuhkan kehendak baik, dan keterlibatan yang sangat menentukan dari orang-orang yang berkehendak baik, para pemimpin agama, serta politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Indonesia mesti menghidupkan kembali Pancasila, yang mewakili nilai-nilai kemanusiaan yang agung dan luhur yang menjamin identitas asli semua orang Indonesia. Hidup sesuai Pancasila akan mengilhami masyarakat dunia dan bahkan mengajarkan mereka bagaimana menghayati, menghormati, dan mempertahankan kebhinekaan atau pluralitas dalam cara-cara penuh kerukunan dan kedamaian, karena dunia sendiri perlahan-lahan menjadi semakin pluralistik. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8489474982279848490?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8489474982279848490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/dialog-antaragama-harus-melibatkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8489474982279848490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8489474982279848490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/dialog-antaragama-harus-melibatkan.html' title='Dialog Antaragama Harus Melibatkan Kelompok Radikal'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SyMTovM2KaI/AAAAAAAAAMc/eMA2sSolugU/s72-c/Cardinal+Tauran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6141258516405094716</id><published>2009-12-11T19:38:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:41:03.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iklim'/><title type='text'>Paus Serukan Aksi Konkret Menyangkut Iklim</title><content type='html'>Oleh Gerard O’Connell &lt;br /&gt;Koresponden Khusus di Roma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SyMQqSDCZmI/AAAAAAAAAMU/-alTG0lMzG4/s1600-h/pope+benedictus+xvi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SyMQqSDCZmI/AAAAAAAAAMU/-alTG0lMzG4/s200/pope+benedictus+xvi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414189495614596706" /&gt;&lt;/a&gt;KOTA VATIKAN (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/07/vatikan-paus-serukan-aksi-konkret-menyangkut-iklim/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Paus Benediktus XVI menyerukan kepada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengeluarkan aksi konkret guna mengatasi pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam konferensi di Copenhagen itu, paus menyerukan kepada semua orang yang berkehendak baik untuk “menghormati hukum yang telah ditempatkan Tuhan dalam alam ciptaan.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keutuhan ciptaan “menuntut penentuan gaya hidup moderat dan bertanggungjawab,” karena peduli dan hormat “terhadap orang miskin dan generasi masa depan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara kepada ribuan peziarah di Basilika St. Petrus pada hari Minggu, 6 Desember, Paus mengungkapkan harapan bahwa hasil konferensi itu “mudah-mudahan mengeluarkan aksi-aksi yang menghormati ciptaan dan meningkatkan pengembangan bersama yang bertanggungjawab, yang dilandaskan pada martabat pribadi manusia dan terarah kepada kebaikan bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konferensi PBB itu berlangsung 7-18 Desember. Acara itu akan dihadiri oleh lebih dari 100 kepala negara dan wakil-wakil dari hampir 192 negara anggota PBB, termasuk negara-negara besar Asia -- Cina dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takhta Suci, yang memiliki status pengamat resmi di PBB dan hubungan diplomat penuh dengan 176 negara, hadir dalam konferensi dengan delegasi beranggota lima orang, termasuk para pakar dalam bidang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delegasi itu dipimpin Uskup Agung Celestino Migliore, pengamat tetap Takhta Suci untuk PBB di New York, yang akan berbicara dalam konferensi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caritas Internasional, organisasi induk dari 150 lebih organisasi karitatif dan pembangunan resmi Katolik di seluruh dunia, juga ikut pertemuan tingkat tinggi tentang iklim itu sebagai sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Caritas membawa delegasi, di antaranya ada sejumlah uskup dari 25 negara termasuk Bangladesh, Kamboja, India, dan Indonesia. Mereka akan melobi pemerintah untuk mencapai “kesepakatan adil dan efektif” tentang apa yang perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Catholic International Cooperation for Development and Solidarity (CICDSE), Caritas mendorong pemerintah menggunakan "kesempatan satu-satunya dalam satu generasi untuk menyelamatkan keluarga manusia dari akibat kerusakan iklim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Paus Benediktus menambah dukungan moral bagi berbagai seruan yang pernah dilontarkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan para ilmuwan kepada para pemimpin politik dunia, yang mendesak mereka untuk menyepakati aksi yang dibutuhkan untuk menanggapi pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama konferensi PBB itu adalah untuk menyepakati cara-cara guna mempertahankan suhu rata-rata dunia kurang dari 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah ilmuwan mengingatkan bahwa kenaikan suhu yang dari ini agaknya akan berdampak buruk pada planet bumi, khususnya bagi negara-negara yang lebih miskin di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mendesak para pemerintah dunia untuk menerima proposal pengurangan 40 persen emisi karbon pada tahun 2020 karena khawatir bahwa Amerika Serikat dan Cina - pembuat polusi terbesar dunia - akan menolaknya dengan hanya menyetujui pengurangan 20 persen.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6141258516405094716?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6141258516405094716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/paus-serukan-aksi-konkret-menyangkut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6141258516405094716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6141258516405094716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/paus-serukan-aksi-konkret-menyangkut.html' title='Paus Serukan Aksi Konkret Menyangkut Iklim'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SyMQqSDCZmI/AAAAAAAAAMU/-alTG0lMzG4/s72-c/pope+benedictus+xvi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6474277010339315673</id><published>2009-12-11T19:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:36:20.260-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kaum muda'/><title type='text'>Orang Muda Katolik Ingin Advis Praktis dari Gereja</title><content type='html'>HO CHI MINH CITY, Vietnam (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/12/04/vietnam-orang-muda-katolik-ingin-advis-praktis-dari-gereja/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Kebanyakan orang muda Katolik melihat Misa itu membosankan dan sangat menginginkan nasehat praktis tentang bagaimana hidup sebagai orang Kristen setiap hari, demikian temuan sebuah survey baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua dari 170 orang muda Katolik yang disurvei hanya pergi ke gereja karena merasa itu sudah menjadi kewajiban. Mereka juga berpendapat bahwa kotbah-kotbah yang sekedar menjelaskan bacaan-bacaan Misa itu sesungguhnya membosankan dan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Komisi Keluarga dari Keuskupan Agung Ho Chi Minh City, yang menyelenggarakan survei itu, berusaha memperhatikan berbagai hambatan yang ditemuinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komisi itu mengadakan sebuah seminar pada 28 November tentang bagaimana menarik orang muda ke Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marie Nguyen Kim Quyen, seorang mahasiswi psikologi, adalah satu di antara 300 orang muda Katolik yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan dalam pertemuan itu bahwa para imam hendaknya menciptakan suatu suasana persahabatan dan menyampaikan kotbah singkat, menarik, dan dapat dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kotbah-kotbah hendaknya diarahkan pada bimbingan umat dalam kehidupan iman mereka, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang muda butuh semacam Misa yang bersifat partisipatoris, di mana mereka bisa menjawab berbagai pertanyaan tentang bacaan-bacaan Misa dan isu-isu moral yang diangkat oleh imam, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marie Lan Chi, seorang peserta dalam lokakarya itu, adalah salah satu dari 1.000 orang muda yang secara teratur menghadiri Misa Minggu yang dirayakan oleh seorang imam dari tarekat Sakramen Mahakudus di sebuah gereja setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami merasa gembira menghadiri Misa yang memungkinkan kami bergandengan tangan ketika mendoakan doa Bapa Kami, berjabat tangan, dan saling memberi senyum dalam acara Salam Damai,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kadang-kadang juga melihat foto-foto, video klip, atau pementasan yang menyampaikan sebuah pesan, selain mendengarkan kotbah imam yang membantu mereka menyelesaikan berbagai persoalan setiap hari, kata mahasiswi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lokakarya itu, sejumlah orang muda menyampaikan pandangan mereka tentang kegiatan-kegiatan Gereja dan harapan-harapan mereka dari para religius dan klerus setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Louis Nguyen Anh Tuan, ketua komisi itu, mengatakan kepada UCA News, lokakarya itu merupakan suatu kesempatan bagi orang muda untuk mengungkapkan harapan-harapan mereka tentang kegiatan-kegiatan liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan meminta para imam untuk membenahi kotbah-kotbah mereka dan untuk merayakan Misa secara menarik bagi orang muda,” kata imam berusia 47 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Tuan berencana mengadakan sebuah lokakarya lagi dan mengundang para imam setempat untuk berbicara dengan kaum muda. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6474277010339315673?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6474277010339315673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/orang-muda-katolik-ingin-advis-praktis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6474277010339315673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6474277010339315673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/orang-muda-katolik-ingin-advis-praktis.html' title='Orang Muda Katolik Ingin Advis Praktis dari Gereja'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2687652328472529294</id><published>2009-12-11T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:33:56.950-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lingkungan'/><title type='text'>Masalah Lingkungan, Masalah Agama</title><content type='html'>KOLOMBO (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/11/26/sri-lanka-masalah-lingkungan-masalah-agama/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Sebuah pertemuan lintas agama, termasuk juga pencinta lingkungan, mahasiswa, dan para diplomat, menggarisbawahi bahwa semua orang bertanggungjawab dalam melindungi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan yang dilakukan selama empat hari dengan tema ‘Selamatkan Planet Bumi’ di dekat kota Kolombo itu, mengangkat berbagai isu yang akan dibahas pada Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen bulan Desember. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin Buddha, Kristen, Muslim dan Hindu menegaskan bahwa perlindungan terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip keagamaan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Noel Dias dari Keuskupan Agung Kolombo mengatakan Kitab Kejadian telah mengajarkan bahwa Adam dan Hawa telah diberi kuasa oleh Tuhan untuk menguasai bumi. Tapi ini bukan berarti mereka sebagai pemilik, melainkan sebagai pelayan dan pemelihara bumi dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga diungkapkan Uskup Anglikan Duleep de Chickera. Dia mengatakan, agama-agama di dunia mendukung konsep bahwa manusia adalah pengurus bumi. Dan itu harus dipahami oleh semua komunitas di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swami Shanker Kamalanathan, seorang imam Hindu mengatakan: "Agama Hindu sangat dekat dengan alam dan melihat Tuhan dalam segala sesuatu yang ada di alam semesta.” Karena itu dia mengajak semua orang untuk mencegah bahaya konsumerisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Olande Ananda, seorang biksu agama Buddha mengingatkan bahaya besar yang  bisa terjadi apabila hubungan antara manusia dan alam rusak akibat ketamakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut imam Muslim Moulawi Nilam, pandangan Islam tentang ekologi sama dengan pandangan Kristen. Dia juga meminta para mahasiswa untuk menggunakan kemampuan mereka untuk menciptakan dunia yang lebih baik. “Ilmu pengetahuan, teknologi dan profesionalisme yang anda miliki harus bisa mengatasi ketakutan dan  sikap sinis manusia,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta besar Amerika untuk Sri Lanka, Patricia A. Butenis, sependapat dengan pandangan para pemuka agama. Dia mengatakan setiap individu adalah pemelihara lingkungan dan harus mengambil tindakan positif untuk kehidupan di masa mendatang yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta pada rapat yang berakhir pada 22 November tersebut menyepakati beberapa tindakan praktis yang harus diambil untuk melindungi lingkungan hidup, termasuk pencegahan terhadap konsumerisme, konservasi air, penanaman pohon dan pengurangan penggunaan bahan bakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Lingkungan Hidup dan Kekayaan Alam Patali Champika menegaskan bahwa kekayaan alam sama seperti warisan budaya manusia yang harus dilindungi. **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2687652328472529294?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2687652328472529294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/masalah-lingkungan-masalah-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2687652328472529294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2687652328472529294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/masalah-lingkungan-masalah-agama.html' title='Masalah Lingkungan, Masalah Agama'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6645298857478743747</id><published>2009-12-11T19:27:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:29:25.800-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><title type='text'>Cara Baru Meng-Gereja</title><content type='html'>Oleh Virginia Saldanha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUMBAI, India (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/11/13/asia-%E2%80%93-cara-baru-meng-gereja/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Saat orang merayakan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin pada November 1989, berita penuh dengan kenangan euforik serta analisa kritis. Uskup Agung Berlin, Georg Kardinal Maximilian Sterzinsky mengatakan bahwa masih ada banyak perbedaan fundamental menyangkut berbatasan bekas Jerman Timur-Barat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dari Jerman Barat “jauh lebih individualistik dalam cara mereka berpikir dan bagaimana mereka mengungkapkan dirinya," demikian pengamatan kardinal itu. Sebaliknya, "orang dari Jerman Timur memiliki cara merasa dan berpikir yang lebih bersifat kolektif."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang di Asia akan membuat pembedaan serupa antara Timur dan Barat pada atlas dunia. Di Timur, kita berpikir dalam term keluarga dan komunitas, sementara orang Barat agaknya lebih individualistik. namun, ini sedang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi tua di Barat merindukan keluarga dan komunitas, sementara media dan pasar mempengaruhi dunia melebihi para tokoh anggota e-generasi yang lebih muda dalam membuat pilihan menyangkut tantangan pastoral yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tanda-tanda zaman menjelang akhir abad ke-20 – individualisme dan materialisme yang berkembang – selagi menyusuri jalan pengabdian dari dialog iman rangkap tiga dengan realitas ekonomi, kebudayaan, dan agama-agama lain, Sidang Umum ke-5  FABC tahun 1990 mengartikulasikan visi mereka bagi Gereja di Asia. FABC melihat sebuah Gereja yang partisipatoris dan turut bertanggung jawab sebagai sebuah persekutuan dari komunitas-komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah anggota konferensi-konferensi yang termasuk dalam FABC menjadikan visi itu suatu "Cara Baru Meng-Gereja" sebagai preferensi pastoralnya. Sejalan dengan ini, kantor AsIPA (Asian Integrated pastoral Approach), bagian dari Kantor FABC untuk Keluarga dan Kaum Awam, sibuk mengadakan berbagai program pelatihan dan penciptaan modul-modul untuk digunakan oleh para penggerak Komunitas Basis Kristiani (SCCs, Small Christian Communities) dan Komunitas Basis Gerejani (BECs, Basic Ecclesial Communities).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;India telah menggunakan AsIPA sebagai DIIPA (Developing and Indian Integral Pastoral Approach). Dan Uskup Auksilier Bombay Mgr Bosco Penha mengembangkan sebuah pendekatan lain di keuskupan agungnya. Pendekatan itu dibagikan dengan keuskupan-keuskupan lain dan negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Filipina, Bukal ng Tipan (mata air perjanjian), sebuah pusat yang mempromosikan keterlibatan umat awam dalam Gereja, telah memasukan metodologinya sendiri agar cocok dengan lingkungan setempat, dengan memperhatikan BECs di Filipina sebelum munculnya AsIPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengalaman pribadi saya berdasarkan sejumlah kunjungan ke Jerman, serta hidup di Eropa bersama keluarga para putri saya, memberikan saya suatu perasaan yang kuat bahwa suatu gerakan yang disesuaikan dengan SCC dapat menghidupkan kembali iman umat di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mengakhiri Sidang Umum AsIPA ke-5 baru-baru ini di Davao, Filipina selatan, kehadiran sejumlah besar para pemimpin BEC setempat mengingatkan kami bahwa benih BECs/SCCs diteburkan lebih dahulu di wilayah ini 40 tahun lalu. Itu semua merupakan suatu tanggapan terhadap krisis politik yang menggerogoti Filipina selama kekuasaan teror dari Marcos. Komitmen profetik dari para pemimpin perintis BEC waktu itu tidak boleh dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, struktur-struktur Cara Baru Meng-Gereja terlaksana. Umat yang terlibat menghargai peran mereka karena menjadi bagian dari Gereja ini. Perubahan dari fokus individualistik tempo dulu yaitu menyelamatkan jiwa sendiri berubah menjadi menghidupi komunitas iman. Perubahan ini diterima dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan merupakan proses yang memerlukan waktu dan kesabaran. Ada sejumlah kisah sukses tentang iman yang hidup dalam SCCs yang terus memberi pengharapan dan kehidupan untuk gerakan ini di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan proyek AsIPA, melalui asosiasi badan Gereja Jerman “Missio,” Gereja di Jerman akhirnya tertarik dengan cara baru meng-Gereja ini. Sepuluh peserta Eropa dari Jerman, Swiss, dan Inggris hadir dalam Sidang Umum itu untuk belajar bagaimana mereka dapat menyesuaikan pendekatan pastoral ini untuk situasi mereka sendiri, yang semakin bersifat lintas agama dan lintas budaya. Menarik untuk dicatat bahwa ada “misi yang berubah arah” - dari Timur ke Barat - dalam Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi saya berdasarkan sejumlah kunjungan ke Jerman, serta hidup di Eropa bersama keluarga para putri saya, memberikan saya suatu perasaan yang kuat bahwa suatu gerakan yang disesuaikan dengan SCC dapat menghidupkan kembali iman umat di sana.&lt;br /&gt;Karena berasal dari India, saya melihat adanya nilai-nilai Kristen yang kuat yang mendukung masyarakat Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individualisme dan materialisme agaknya mengikis nilai-nilai ini, namun saya kira umat ingin meningkatkan persahabatan. Mereka butuh satu sama lain, namun khawatir melanggar "garis privacy yang sakral."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan besar yang perlu dijawab di Barat adalah: Di mana privacy itu berakhir dan komunitas ini berawal? Ketika anak-anak masih kecil, ketika orang menjadi renta dan dalam krisis, ketika kita ingin berpesta dan berkabung, kita butuh komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja menjamin komunitas. Tetapi komunitas ini perlu dikembangkan melampaui “tembok-tembok” Gereja. Zaman telah berubah. Gereja harus mengakui, dia bisa berharap bahwa generasi muda sekarang ini kembali ke model Gereja yang lama. Cara-cara lama dalam memikirkan dan mengoperasikan sebuah paroki itu justru membentuk sebuah Tembok Berlin konseptual yang perlu dirobohkan sehingga umat dapat menghayati iman mereka sedemikian rupa yang lebih sesuai dengan zaman hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekecewaan yang sedang meningkat di kalangan umat awam menyangkut kualitas para imam. Para gembala ini bisa menjadi orang-orang yang mengeluarkan orang muda dari Gereja di Asia. SCCs atau Komunitas-Komunitas Iman bisa membantu mempertahankan orang-orang muda di dalam Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menonjol di antara berbagai kualitas orang muda di mana saja adalah kejujuran dan keinginan besar untuk keluar menolong orang lain. Ini merupakan kualitas yang dibutuhkan dalam membangun dan memelihara komunitas. Jika dimanfaatkan secara kreatif, Gereja baik di Timur maupun di Barat dapat menjadi sumber yang memberi semangat pada iman yang hidup.&lt;br /&gt;"Cara lama dalam memikirkan dan mengoperasikan sebuah paroki itu justru membentuk sebuah Tembok Berlin konseptual. Ini perlu dirobohkan sehingga umat dapat menghayati iman mereka sedemikian rupa yang lebih relevan dengan zaman hidup kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja perlu menaruh minat yang lebih besar terhadap pendidikan kaum awam dengan menyisihkan sumber dana dan sumber daya. Pada saat pedoman dibuat sesuai tempat, kaum awam yang dibina secara memadai dalam bagaimana menghayati imannya perlu diandalkan untuk menjalankan tugas. Mereka dapat menghayati iman mereka di dalam komunitas mereka tanpa dimonitor setiap saat apakah mereka melakukan hal yang benar atau salah. Ini akan terus dibutuhkan baik di Timur maupun Barat, yang panggilan imamat mengalami kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan SCC/BEC di Asia akan maju berkat kaum awam, terutama kaum perempuan di akar rumput. Di keuskupan-keuskupan yang tidak memiliki cukup imam, para penggerak awam ini menjadi iman komunitas tetap hidup dan melayani kebutuhan-kebutuhan pastoral, dengan cukup imam datang untuk merayakan Ekaristi secara tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa runtuhnya Tembok Berlin bukanlah suatu aksi yang direncanakan, itu spontan terjadi. Namun kerinduan mendalam roh manusia di kedua sisi untuk melihat tembok itu roboh tidak bisa diperdebatkan. Kerinduan itu kemudian bertumbuh menjadi suatu gerakan yang dipahami sebagai isyarat untuk aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa dapat diharapkan bahwa kerinduan besar dalam hati manusia di seluruh dunia untuk membangun suatu tata dunia yang baru, akan berkembang menjadi suatu gerakan yang menciptakan perubahan yang diinginkan untuk menjadikan Cara Baru Meng-Gereja itu suatu realitas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Virginia Saldanha tinggal di Mumbai, India. Dia adalah sekretaris eksekutif Kantor Keluarga dan Awam FABC, dan mantan sekretaris eksekutif Komisi Perempuan dalam Konferensi Waligereja India.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6645298857478743747?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6645298857478743747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/cara-baru-meng-gereja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6645298857478743747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6645298857478743747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/cara-baru-meng-gereja.html' title='Cara Baru Meng-Gereja'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3680197490006042086</id><published>2009-12-11T19:23:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:24:57.017-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media'/><title type='text'>Komunikator Katolik di Kongres Dunia Fokus pada Anak dan Media</title><content type='html'>CHIANG MAI, Thailand (&lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/10/19/asia-komunikator-katolik-di-kongres-dunia-fokus-pada-anak-dan-media/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;) -- Isu-isu media dan hak anak menjadi sorotan berbagai presentasi pada pembukaan Kongres SIGNIS se-Dunia yang tengah berlangsung di Chiang Mai, Thailand bagian utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang muda "pada dasarnya harus berhak untuk ikut dan mengambil bagian dalam media," tegas Augustine Loorthusamy, ketua asosiasi Katolik sedunia untuk profesional dan akademisi di bidang audiovisual, penyiaran, dan media baru.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Loorthusamy menyampaikan presentasi pembukaannya pada 18 Oktober untuk lebih dari 300 kaum awam, imam, dan religius yang terlibat dalam kerasulan komunikasi. Kongres yang akan berakhir 21 Oktober itu bertema: "Media for a Culture of Peace -- Children's Rights, Tomorrow's Promise" (Media untuk Kebudayaan Perdamaian – Hak Anak, Janji Hari Esok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin SIGNIS memaparkan klaim demi klaim bahwa kerasulan komunikasi bersifat sentral bagi Gereja. Dia melihat bahwa adanya "kelesuan yang tersebar luas" dan tidak adanya dukungan untuk kerasulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menghimbau peserta untuk menjembatani generasi muda dan generasi tua, awam dan klerus, media sekular dan media religius, serta antara agama-agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada jeritan anak-anak di banyak bagian dunia yang menjadi keprihatinan utama kongres itu, dia mencatat bahwa "setiap hari lebih dari 24.000 anak mati kelaparan atau sebab-sebab yang terkait dengan kelaparan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zilda Arns Neumann dari Brazil mempresentasikan isu kelaparan secara lebih rinci ketika dia berbicara tentang karyanya dalam menurunkan tingkat kekurangan gizi dan kematian di kalangan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neumann, seorang dokter spesialis anak dan kesehatan masyarakat, adalah pendiri dan koordinator Pastoral da Crianca (pastoral anak-anak) yang diinspirasikan oleh Gereja Katolik. Organisasi otonom yang diprakarsai oleh Konferensi Waligereja Brazil tahun 1983 ini berkarya di Brazil dan banyak tempat lain di dunia untuk memberdayakan keluarga-keluarga miskin dan memotivasi para pemimpin komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan kongres itu meliputi lokakarya audiovisual dan pementasan untuk sekitar 100 siswa remaja dari tiga sekolah Katolik di Chiang Mai. Sementara itu, 10 jurnalis muda di bidang video dari negara-negara Asia Tenggara mendokumentasikan kongres itu dari perspektif individual mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung Salvatore Pennacchio, Duta Besar Vatikan untuk Thailand dan representatif Takhta Suci untuk beberapa negara lain di Asia Tenggara, memimpin Misa pembukaan. Sejumlah uskup dan 50 imam turut berkonselebrasi dalam Misa itu.&lt;br /&gt;Kongres itu akan ditutup dengan sebuah acara penganugerahan penghargaan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut website-nya, misi SIGNIS adalah "melibatkan diri dengan para profesional media dan mendukung para komunikator Katolik untuk turut mentransformasi kebudayaan-kebudayaan kita dalam terang Injil melalui peningkatan martabat manusia, keadilan, dan rekonsiliasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi yang resminya merupakan Asosiasi Katolik Dunia untuk Komunikasi itu memiliki anggota dari 140 negara. Organisasi itu dilahirkan pada bulan November 2001 melalui merger dari Organisasi Katolik Internasional untuk Sinema dan Audiovisual (OCIC, akronim bahasa Prancis) dan Unda ("gelombang" dalam bahasa Spanyol), serta Asosiasi Katolik Internasional untuk Radio dan Televisi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3680197490006042086?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3680197490006042086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/komunikator-katolik-di-kongres-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3680197490006042086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3680197490006042086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/komunikator-katolik-di-kongres-dunia.html' title='Komunikator Katolik di Kongres Dunia Fokus pada Anak dan Media'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8129468313289769530</id><published>2009-12-11T19:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T19:22:34.725-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama dan politik'/><title type='text'>Kardinal Daftar Kualitas yang harus Dimiliki Presiden Mendatang</title><content type='html'>MANILA (&lt;a href="http://www.ucanews.com/category/languages/indonesian/"&gt;UCAN&lt;/a&gt;)-- Gaudencio Kardinal Rosales dari Manila mengatakan, siapa saja “yang takut akan Allah,” bermoral, tidak terlibat dalam hal-hal yang melawan hukum, tahu cara menghargai kehidupan, dan melayani kaum miskin adalah orang yang pantas dipilih sebagai presiden pada tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal menawarkan kriteria-kriteria ini dalam sebuah wawancara di Radio Veritas 846 milik Gereja pada 13 Oktober ketika media memberitakan nama-nama yang mungkin menjadi calon presiden dalam pemilihan umum pada bulan Mei 2010.&lt;br /&gt;Tanggal 30 November merupakan batas akhir bagi rakyat untuk mendaftarkan calon-calon presiden mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Banyak sekali orang dari masyarakat yang muncul dengan mengatakan bahwa mereka akan ikut bersaing dalam pemilihan presiden, dan siapa saja yang ingin menjadi presiden Filipina mendatang harus memiliki empat kualitas ini,” kata Kardinal Rosales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kardinal, sangatlah penting bagi rakyat untuk sadar akan apa yang mereka cari dalam seorang calon pada tahap awal proses pemilihan umum, dengan menyebut apa yang dibutuhkan negara dari kepemimpinan yang baik di masa ekonomi yang sulit ini.&lt;br /&gt;Pada bulan Januari, Keuskupan Agung Manila berencana mengeluarkan sebuah daftar yang lebih menyeluruh tentang kualitas-kualitas untuk membimbing para pemilih dalam memilih calon mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardinal Rosales mengatakan, kualitas pertama yang harus dilihat para pemilih dalam seorang calon adalah apakah pribadi itu takut akan Allah.&lt;br /&gt;"Jika seseorang hanya mengumbar-ngumbar Allah agar populer, maka kita tidak perlu memilih orang seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berikut adalah moralitas. Seorang calon yang baik harus menghormati kehidupan dan memperhatikan kaum miskin, dan tidak terlibat dalam hal-hal yang melawan hukum.&lt;br /&gt;"Jika seorang calon memiliki keempat kualitas itu maka dia adalah orang yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin karena orang itu tahu cara menghargai bukan saja negara dan rakyat, tetapi juga kehidupan,” kata prelatus dari Manila itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari wawancara kardinal itu, Senator Jose "Jinggoy" Estrada mengatakan kepada wartawan bahwa ayahnya, presiden Joseph Estrada yang dipecat, akan mengumumkan pencalonan diri menjadi presiden pada 14 Oktober. Namun dia memutuskan untuk menunda pengumuman itu sampai selesai memberi bantuan kepada para korban angin topan di Filipina utara, kata senator itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan presiden yang dituduh korupsi ketika menjabat, dipecat tahun 2001 segera setelah terjadi berbagai protes menentang gagalnya pengadilan memecatnya.&lt;br /&gt;Dia kemudian terbukti bersalah dan dipenjarakan, namun Presiden Gloria Macapagal-Arroyo memberi pengurangan hukuman kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain yang telah mengumumkan rencana mereka untuk mencalonkan diri menjadi presiden adalah Senator Benigno " Noynoy" Aquino III, putra mantan presiden Corazon Aquino; Senator Manuel Villar; Menteri Pertahanan Gilbert Teodoro; dan Eduardo Villanueva, pemimpin gerakan injili Jesus is Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajak pendapat terakhir dari Social Weather Stations, sebuah lembaga riset sosial non-profit, menyatakan bahwa 60 persen rakyat Filipina menginginkan Aquino menjadi presiden mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Villar menyusul, dan diikuti oleh Estrada, dan akhirnya Teodoro.&lt;br /&gt;Jajak pendapat yang dilakukan 18-21 September itu mengambil 1.800 responden dewasa untuk menyebut tiga orang yang menjadi pilihan utama presiden mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8129468313289769530?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8129468313289769530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/kardinal-daftar-kualitas-yang-harus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8129468313289769530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8129468313289769530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/12/kardinal-daftar-kualitas-yang-harus.html' title='Kardinal Daftar Kualitas yang harus Dimiliki Presiden Mendatang'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3530719533355899460</id><published>2009-07-01T05:15:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T05:16:15.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahun imam'/><title type='text'>Gereja Akan Menyoroti Pentingnya Para Imam</title><content type='html'>KARACHI, Pakistan (UCAN) -- Keuskupan-keuskupan di Pakistan telah memulai Tahun untuk Para Imam dengan sebuah komitmen untuk mengadakan program-program yang menekankan pentingnya imamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Benediktus, awal tahun ini, mengumumkan bahwa satu tahun khusus untuk para imam akan dimulai 19 Juni, pesta Hati Yesus yang Mahakudus. Paus juga menulis sebuah surat khusus untuk semua imam, yang dikeluarkan 18 Juni di Vatikan, untuk menjelaskan tentang tahun khusus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung Karachi Mgr Evarist Pinto memimpin Misa konselebrasi khusus bersama 25 imam di Gereja Hati Kudus di kota di bagian selatan Pakistan itu. Keuskupan Agung Karachi memiliki 37 imam diosesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbagai program akan dilakukan di seluruh negeri itu untuk menyadarkan umat akan identitas, misi, dan panggilan seorang imam,” kata Uskup Agung Pinto dalam perayaan 19 Juni itu. "Pentingnya seorang imam itu terletak pada pelayanan terhadap umat dengan penuh komitmen dan kasih," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Prelatus itu kemudian membagikan souvenir kepada para imamnya yang memperingati tahun khusus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan Faisalabad di Pakistan bagian timur juga mengadakan Misa khusus di Katedral Santo Petrus dan Paulus pada 19 Juni, yang dihadiri oleh sekitar 20 imam diosesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan tahun syukuran atas panggilan imamat, untuk meninjau kembali berbagai kekeliruan masa lalu dan mulai lagi dengan penuh kesegaran menuju masa depan,” kata Pastor Bashir Francis, mantan vikjen Faisalabad, dalam sambutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat paus untuk tahun khusus ini dibacakan, dan keuskupan mengumumkan kegiatan-kegiatan selama tahun khusus ini untuk mempromosikan panggilan imamat di semua 18 parokinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Aftab James Paul, direktur Komisi Dialog Antaragama, mengatakan kepada UCA News bahwa keuskupan itu berencana mengadakan sebuah seminar tentang tahun khusus ini di setiap paroki. Selain itu, keuskupan juga akan “menyusun buku-buku tentang martabat kehidupan seorang imam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Spanduk-spanduk dengan ayat-ayat Kitab Suci terkait dengan imamat akan dipajang di gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan Katolik” untuk mempromosikan panggilan di kalangan orang muda, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Paul mencatat bahwa Pakistan mengalami kekurangan imam. Negeri itu memiliki 164 imam diosesan yang melayani lebih dari 1 juta umat Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Kristen itu kurang dari 2 persen dari 160 juta penduduk Pakistan, yang sekitar 95 persennya adalah kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/06/23/pakistan-gereja-akan-menyoroti-pentingnya-para-imam/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3530719533355899460?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3530719533355899460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/07/gereja-akan-menyoroti-pentingnya-para.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3530719533355899460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3530719533355899460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/07/gereja-akan-menyoroti-pentingnya-para.html' title='Gereja Akan Menyoroti Pentingnya Para Imam'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4861898228993483881</id><published>2009-07-01T05:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T05:14:03.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imam katolik'/><title type='text'>Para Imam Perlu Belajar Terus Menerus”</title><content type='html'>JAKARTA (UCAN) -- Para imam di Indonesia mengatakan bahwa Tahun Imam yang diluncurkan baru-baru ini merupakan sebuah kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas guna membantu mereka dalam pelayanan pastoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tugas imam tidak hanya berhenti pada ritual-ritual tapi harus meng-umat, menjawab kebutuhan umat, dan update teologi dan ilmu lain yang berhubungan dengan pelayanan seorang imam," kata Pastor Yohanes Nikolaus Haryanto SJ, sekretaris jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Haryanto, yang juga mengetuai pelayanan pastoral mahasiswa di Keuskupan Agung Jakarta, mengatakan: "Jangan merasa bahwa saya sudah menyelesaikan filsafat dan teologi maka saya tidak perlu membaca atau berefleksi lagi. Kita harus ingat bahwa banyak orang awam juga sudah mulai belajar teologi."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seraya menyebut bahwa umat paroki sering memberi hadiah kepada para imam di hari ulang tahun mereka, ia menyarankan: “Umat jangan menghadiahkan baju, tapi buku bacaan apa saja karena jaman sekarang menuntut seorang pastor untuk banyak membaca supaya ada variasi dan inovasi di setiap pelayanan kepada umat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Bonifasius Rampung, rektor Seminari Menengah Pius XII di Kisol, Flores bagian barat, sependapat. "Kebiasaan membaca menjadi hal yang utama. Apalagi sekarang perkembangan sarana komunikasi sangat maju. Kita harus memanfaatkannya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Heribertus Samuel OFMCap dari Paroki St. Fransiskus Asisi di Tebet, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa Tahun Imam adalah "sebuah kesempatan istimewa bagi kami untuk mereflesikan pelayanan kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menceritakan bahwa sebagai seorang imam yang berkarya di Kota Jakarta, ia kadang-kadang mengalami kesalahpahaman. "Ketika saya melayani terlalu dekat dengan kelompok atau orang tertentu, (saya) dinilai pilih kasih, diskriminasi, atau affair dengan orang tertentu. Padahal ini tugas saya sebagai pastor harus melayani umat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia mengatakan bahwa ia terinspirasi oleh teladan St. Yohanes Maria Vianney, santo pelindung para pastor paroki, yang melayani umat awam secara sederhana dan setia. Paus Benediktus XVI, saat mengumumkan secara resmi Tahun Imam, menulis surat khusus kepada semua imam, seraya mengutip panjang lebar kehidupan santo asal Prancis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Keuskupan Agung Jakarta membuka Tahun Imam dengan sebuah Misa pada 22 Juni di Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta. Sekitar 200 imam dan lebih dari 500 umat awam menghadiri Misa yang dipersembahkan secara konselebrasi oleh Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan pensiunan Uskup Fransiskus Xaverius Hadisumarta OCarm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat gembala tertanggal 12 Juni untuk para imam di Jakarta, kardinal mengatakan bahwa keuskupan agung telah menetapkan tema-tema khusus untuk berbagai Misa dan doa-doa khusus untuk para imam yang akan dipersembahkan selama tahun khusus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus meluncurkan Tahun Imam pada 19 Juni, pesta Hati Yesus Maha Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/06/25/indonesia-%e2%80%9cpara-imam-perlu-belajar-terus-menerus%e2%80%9d/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4861898228993483881?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4861898228993483881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/07/para-imam-perlu-belajar-terus-menerus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4861898228993483881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4861898228993483881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/07/para-imam-perlu-belajar-terus-menerus.html' title='Para Imam Perlu Belajar Terus Menerus”'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4229313847790569681</id><published>2009-07-01T05:09:00.000-07:00</published><updated>2009-07-01T05:10:49.373-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dialog'/><title type='text'>Menjembatani Jarak antara Vatikan dan Asia</title><content type='html'>KOTA VATIKAN (UCAN) -- Vatikan dan negara-negara Asia “tidak banyak memberi perhatian satu sama lain,” demikian duta besar Jepang untuk Takhta Suci. Dia yakin bahwa kedua pihak akan sangat saling menguntungkan jika semakin saling terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kagefumi Ueno dengan latar belakang pendidikan Tokyo dan Cambridge, yang mewakili negaranya untuk Takhta Suci sejak November 2006 itu, baru-baru ini berbagi pandangannya dengan UCA News di Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengungkapkan pandangan serupa, walaupun mungkin kurang tajam, dalam sebuah kuliah pertengahan Mei, untuk para diplomat dari 16 negara Asia yang menghadiri sebuah kursus politik internasional Takhta Suci di Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negara-negara Asia agaknya kurang memberi perhatian besar dalam hubungan mereka dengan Takhta Suci,” katanya, karena agama Kristen hanya minoritas kecil, dan umumnya dianggap “asing” di benua Asia yang dihuni dua pertiga penduduk dunia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, negara-negara Asia berikut ini mempunyai hubungan diplomatik dengan Takhta Suci: Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Jepang, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Mongolia, Nepal, Pakistan, Singapura, Filipina, Korea Selatan, Sri Lanka, Taiwan, Tajikistan, Thailand, Timor Leste, Turkmenistan, dan Uzbekistan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hanya Indonesia, Jepang, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, dan Timor Leste memiliki kedutaan dan duta besar di Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang berikut ini belum punya hubungan diplomatrik dengan Takhta Suci: Afghanistan, Bhutan, Brunei, Cina, Laos, Myanmar, dan Vietnam, sekalipun Vietnam agaknya akan memilikinya dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ueno, Takhta Suci hendaknya memudahkan negara-negara untuk memiliki duta besarnya di Roma dengan memodifikasi posisinya yang disepakatinya dengan Italia dalam Lateran Treaty tahun 1929, yang menyatakan bahwa sebuah negara tidak bisa memiliki duta besar yang sama untuk Italia dan Takhta Suci. Waktu telah berubah, katanya, dan secara ekonomis jelas itu lebih mudah bagi sejumlah negara jika mereka memiliki duta besar untuk Takhta Suci yang juga diakui untuk Italia dan begitu sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika Anda memiliki seorang duta besar di Switzerland atau Paris, maka secara praktis – bukan teori – dia menyempatkan satu atau dua persen dari waktunya untuk Vatikan, tetapi jika duta besar itu berada di sini di Roma, maka sekalipun perhatiannya tersita pada hubungan dengan Italia, namun duta besar itu setidaknya menyempatkan 10 atau 20 persen dari perhatiannya untuk Vatikan,” katanya. “Jelas, saya kira Vatikan tidak senang mendengar pandangan ini, namun pandangan ini perlu diungkapkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ueno, yang mengaku sebagai seorang yang memiliki "filsafat Buddha-Shinto" itu, memberi sejumlah alasan mengapa negara-negara Asia hendaknya memiliki duta besar untuk Takhta Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama berhubungan dengan "kekuatan moral" dari Paus dan Takhta Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomat Jepang itu mengatakan, dia sangat terkesan segera setelah tiba di Roma ketika, bersama para duta besar lainnya dari 175 negara, dia mendengarkan Paus Benediktus XVI menyampaikan pesan Tahun Baru tentang situasi internasional. Paus menyinggung 45 "isu penting"mulai dari isu-isu global seperti kemiskinan, pelucutan senjata, penciptaan perdamaian, konflik, pemukiman kembali, hak asasi manusia, kelompok-kelompok minoritas, imigrasi, perubahan cuaca, sampai kepada isu-isu yang mempengaruhi Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya salah satu dari sejumlah besar pesan yang disampaikan paus setiap tahun, catat Ueno, "dan bahkan jika Anda membuang pesan-pesan keagamaan – yang negara saya sangat tidak berminat – masih ada banyak, banyak pesan yang sangat bernilai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Ueno menyimpulkan bahwa "Paus – dan Takhta Suci – adalah semacam kebaikan publik" dari komunitas internasional. Paus “sangat menghargai” komunitas internasional karena “dia mengungkapkan nilai-nilai moral bahkan dalam bidang politik," dan "dapat mengatakan sesuatu yang bahkan melawan Washington atau Moscow atau Beijing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suara moral paus, nilai moralnya diterima begitu saja oleh kaum Muslim dan Buddha serta Protestan dan Katolik, dan netralitas paus, dalam beberapa hal, juga diterima begitu saja. Itu penting,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada banyak orang yang bisa memainkan suatu peran demikian,” tegas Duta Besar Ueno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan inilah, dia percaya "bahkan negara-negara Asia hendaknya memiliki kedutaan di sini untuk memantau apa yang dikatakan oleh Paus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua yang saya kira dapat membenarkan negara-negara Asia untuk memiliki duta besar untuk Takhta Suci adalah "keterbukaan jaringan media Katolik" yang menyiarkan kata-kata Paus ke seluruh penjuru dunia, jauh melampaui kantor-kantor berita Barat yang besar yang sesungguhnya bisa melakukan itu. "Roma ini semacam pusat jaringan media yang sangat bagus," tegasnya, dan fakta ini juga dapat mendorong negara-negara Asia untuk menempatkan kedutaan mereka di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiaran pesan paus ke seluruh dunia merupakan satu hal, tetapi apakah kenyataannya para pemimpin dunia mendengarkan Paus dan memperhatikan apa yang dikatakan Paus? Duta besar Jepang itu percaya bahwa “untuk jangka pendek, jawabannya biasanya tidak, tapi untuk jangka panjang mungkin ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duta Besar Ueno kenal dan sangat menyegani mendiang Stephen Kardinal Fumio Hamao asal Jepang, yang pernah mengepalai Dewan Kepausan untuk Pelayanan Pastoral bagi Migran dan Orang dalam Perjalanan, dan “dalam beberapa hal” menerima padangannya bahwa “jarak” antara Roma dan Asia tidak sekedar “bersifat fisik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ueno sependapat dengan kardinal itu bahwa “setidaknya di Jepang, ada sejumlah unsur keagamaan, atau lebih tepat, unsur kebudayaan yang menghambat banyak orang Jepang menjadi Kristen atau Katolik." Duta besar itu mengatakan, Kardinal Hamao pernah mengklaim bahwa ada "cara-cara yang lebih fleksibel" untuk mengkomunikasikan Injil, dan menasehati agar "Vatikan hendaknya mempertimbangkan suatu pendekatan yang lebih fleksibel untuk orang Jepang dan bahkan untuk orang-orang Asia, sehingga situasi kultural menyangkut tempat lebih serius dipertimbangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hamao berpendapat bahwa pendekatan fleksibel ini secara serius belum terjadi selama ini,” katanya. Namun, kardinal itu tidak sendirian dalam mengungkapkan hal ini, lanjut duta besar itu. Yang lain juga telah mengungkapkan pandangan serupa, termasuk novelis Katolik Jepang terkenal, Shusaka Endo (1923-1996), dan sejumlah pemimpin Gereja Katolik Jepang, seperti Uskup Agung Osaka Mgr Leo Ikenaga Jun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ueno, yang menulis sebuah buku tentang peradaban-peradaban, percaya bahwa Vatikan dapat menjembatani “jarak” dengan tanah airnya, Jepang, dengan memanfaatkan “banyak imam” dalam berbagai tarekat religius “yang bukan saja sangat baik tentang Jepang, tetapi juga diakui berpengetahuan mendalam tentang kebudayaan Jepang, sentimen-sentimen Jepang, dan sebagainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatikan sudah memiliki “banyak sumber daya manusia” dalam berbagai strukturnya, catatnya, “namun banyak dari mereka itu anggota tarekat religius” dan “tidak dimanfaatkan oleh Vatikan." Dia yakin, jika Vatikan memanfaatkan pengetahuan orang-orang ini, meminta nesehat-nasehat mereka, dan memilih “pendekatan yang lebih antropologis,” maka seluruh pendekatan Vatikan terhadap Jepang “mungkin diubah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyatan aktual, sekalipun Ueno tidak mengatakan demikian, Vatikan sudah menggunakan pendekatan seperti itu terhadap Cina. Pada tahun 2007, Paus Benediktus membentuk Komisi Cina untuk memberi nasehat kepadanya menyangkut hal-hal terkait dengan situasi Gereja di Cina daratan, dan untuk komisi telah mengangkat bukan saja para pejabat Vatikan tetapi juga uskup-uskup Cina, sekalipun tidak ada satu pun uskup dari Cina daratan dan anggota tarekat religius yang pakar tentang Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Vatikan mengikuti apa yang diusulkan duta besar Jepang itu, maka Vatikan akan membentuk sebuah komisi serupa untuk Jepang, dan mungkin juga untuk negara-negara Asia lainnya. Ini bisa memiliki konsekuensi yang jauh untuk evangelisasi di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/06/30/vatikan-kolom-ucan-menjembatani-jarak-antara-vatikan-dan-asia/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4229313847790569681?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4229313847790569681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/07/menjembatani-jarak-antara-vatikan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4229313847790569681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4229313847790569681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/07/menjembatani-jarak-antara-vatikan-dan.html' title='Menjembatani Jarak antara Vatikan dan Asia'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2188428364152170403</id><published>2009-06-04T20:51:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T20:59:45.533-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musdikat'/><title type='text'>Paroki Wolotopo Selenggarakan Musdikat</title><content type='html'>Dalam Rangka 25 Tahun Imamat Romo Herman Embuiru Wetu Pr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ENDE (FLORES POS)&lt;/span&gt; -- Paroki Wolotopo, Keuskupan Agung Ende menggelar Musyawarah Pendidikan (Musdikat) untuk menggalang tanggung jawab bersama semua pihak dalam membangun pendidikan di paroki tersebut. Pertemuan yang digelar Sabtu (30/5) bertempat di aul a paroki ini menghadirkan sekitar 150 peserta dari beberapa stasi di paroki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiXY5eEHKI/AAAAAAAAAL8/xHwzbQeU0S0/s1600-h/paroki+wolotopo3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343687411874667682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiXY5eEHKI/AAAAAAAAAL8/xHwzbQeU0S0/s200/paroki+wolotopo3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pastor Paroki Wolotopo Romo Stef Wolo Itu Pr kepada &lt;em&gt;Flores Pos&lt;/em&gt; sebelum acara dimulai mengatakan, pertemuan ini dimaksudkan untuk menggugah kesadaran bersama agar umat sungguh menjadi pelaku perubahan di daerahnya masing-masing. Karena selama ini orang hanya berpikir bahwa pelaku perubahan itu hanyalah para pemimpin. Padahal masyarakat juga bisa menjadi pelaku perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal yang mau diperoleh dari pertemuan ini adalah membangun sikap dan tanggung jawab bersama untuk memajukan pendidikan. Paling kurang dalam pertemuan ini ada langkah konkret untuk sebuah perubahan. Selama ini kerja sama belum maksimal untuk membangun tanggung jawab bersama dalam pendidikan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan mengambil tema “Musyawarah Pendidikan demi Perubahan di Masa Depan”, menghadirikan pembicara Kepala Dinas PPO Ende Fransiskus Hapri, Ketua Litbang Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende Romo Feri Deidhae Pr, Ketua Yayasan Tananua Hironimus Pala, Ketua Yasukel Romo Herman Embuiru Wetu Pr, dan Marsel Dala. Moderator Eman Laba, Aloysius Kelen, Petrus Puli, dan Amatus Peta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiXsWuehmI/AAAAAAAAAME/i4GQtqaZKkY/s1600-h/peserta+musdikat1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343687746145650274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiXsWuehmI/AAAAAAAAAME/i4GQtqaZKkY/s200/peserta+musdikat1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Vikep Ende Romo Ambros Nanga Pr yang membuka kegiatan tersebut mengatakan, pertemuan ini merupakan langkah mengggagas masa depan, momen penuh rahmat yang berdampak pada pastoral Gereja dengan starting pointnya adalah membangun pendidikan. Mengutip dokumen Konsili Vatikan II, Vikep mengatakan, pendidikan adalah hak anak yang perlu dijamin dan diberikan oleh orang tua.”Sebab orang tua punya tanggung jawab untuk memenuhi hak anak atas pendidikan,” katanya. Konsili juga mengatakan bahwa orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Dia mengutip pernyataan Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota yang mengatakan, “Kita berdosa jika kita tidak memberikan pendidikan kepada anak-anak kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vikep mengajak peserta untuk berpikir bersama membangun pendidikan demi masa depan dan menciptakan agen-agen perubahan melalui lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiX9DWoAnI/AAAAAAAAAMM/m4wWMsIPWJU/s1600-h/peserta+musdikat.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343688033003111026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiX9DWoAnI/AAAAAAAAAMM/m4wWMsIPWJU/s200/peserta+musdikat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Usai acara pembukaan, para pemakalah menyajikan presentasi mereka. Kadis PPO Ende Fransiskus Hapri bicara mengenai kebijakan pemerintah Kabupaten Ende dalam membangun pendidikan, dengan moderator Amatus Peta. Romo Feri Deidhae bicara soal pendidikan, akses masa depan anak dan Hironimus Pala bicara pengalaman mereka membangun dana solidaritas pendidikan di Wolomuku dengan moderator Aloysius B Kelen. Sedangkan moderator presentasi Romo Herman E Wetu dan Marsel Dala adalah Petrus Puli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta kemudian dibagi menurut stasi untuk sebuah diskusi kelompok. Rangkuman akhir seluruh proses dibuat Aloysius Kelen.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2188428364152170403?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2188428364152170403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/06/paroki-wolotopo-selenggarakan-musdikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2188428364152170403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2188428364152170403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/06/paroki-wolotopo-selenggarakan-musdikat.html' title='Paroki Wolotopo Selenggarakan Musdikat'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiiXY5eEHKI/AAAAAAAAAL8/xHwzbQeU0S0/s72-c/paroki+wolotopo3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5212343707774477475</id><published>2009-06-02T06:39:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T06:41:14.859-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kaum muda'/><title type='text'>Orang Muda Belajar Hadapi Konflik</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;HUA HIN, Thailand (UCAN)&lt;/span&gt; -- Setelah terjadi peningkatan gelombang kekerasan di Thailand, sebuah pusat Katolik menyelenggarakan sebuah program untuk menolong orang muda tahu tentang resolusi konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thailand dikenal sebagai "Land of Smiles" (negara yang bangsanya senantiasa melemparkan senyuman) yang secara tradisional tidak menyetujui konfrontasi. Namun, peristiwa-peristiwa belakangan ini memperlihatkan wajahnya yang bopeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok baru-baru ini dilanda kerusuhan ketika para pengunjuk rasa anti-pemerintah membakar bus-bus dan melancarkan serangan ke berbagai tempat di kota itu. Sementara itu, konflik yang pahit di tingkat bawah antara kelompok separatis Muslim dengan pemerintah masih berlanjut di bagian selatan yang setiap bulan pasti ada saja yang meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Iklim ekonomi yang buruk juga mempengaruhi tatanan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi berbagai kenyataan ini, Pusat Mahasiswa Katolik Thailand (CSCT, Catholic Student Center of Thailand) menyelenggarakan sidang nasional tahunan pada tahun ini dengan topik, "Conflik Management of Thailand, the role of Catholic Students” (Manajemen Konflik Thailand, Peran Mahasiswa Katolik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang tahunan pada 20-24 Mei itu diselenggarakan di Pusat Kaum Muda Don Bosco di Hua Hin, barat daya Bangkok. Pertemuan nasional itu diikuti oleh 85 mahasiswa dari 25 universitas dan sekolah tinggi di seluruh Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moderator CSCT, Pastor Maharsono Probal SJ mengatakan kepada para peserta bahwa dia bermaksud mengajarkan keterampilan menangani konflik. Ini bisa menolong mereka menangani berbagai isu yang mereka hadapi dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan mengkaji sejumlah situasi konflik. Salah satunya adalah friksi antara pemerintah dan komunitas Ban Krud, di Propinsi Prachuabkirikhan, dekat Hua Hin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak orang di kerajaan ini tahu tentang komunitas Ban Krud hingga lima tahun lalu ketika pemerintah mengumumkan rencana untuk membangun sebuah pembangkit tenaga listrik di sana. Komunitas itu menentang rencana itu karena khawatir akan pencemaran udara dan laut yang diakibatkannya. Dengan penangkapan ikan skala kecil sebagai unsur utama ekonomi setempat, warga desa yang berjumlah lebih dari 10.000 jiwa itu khawatir akan mata pencarian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa LSM dan cendekiawan mendukung protes warga desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, pemerintah menunda proyek itu tanpa batas jelas, tetapi yang jelas setelah seorang pemimpin komunitas itu dibunuh. Charoen Wataksorn, 38, dibunuh oleh sejumlah pria bersenjata tak dikenal di luar rumahnya pada 22 Juni 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Maharsono membawa para peserta sidang itu untuk bertemu dengan warga desa itu untuk tahu proses komunitas itu menangani situasi konflik. CSCT juga mengundang wakil walikota dari Propinsi Prachuabkirikhan dan kantor Industri Daerah itu untuk membahas apa saja yang menjadi rencana mereka untuk pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar sendiri dari para pelaku utama dari protes Ban Krud itu, para mahasiswa melanjutkan dengan sebuah proses lokakarya, yang melaluinya mereka bertindak sebagai penengah, setelah menganalisis persoalan dan memikirkan berbagai cara untuk menangani konflik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita harus mengikuti cara Yesus dan menolong orang-orang yang sangat rentan,” kata Nadruedee Soththinirundorn, mahasiswa kedokteran gigi tahun kedua dari Universitas Naresuan di Propinsi Pitsanulok. "Kita harus terlibat dalam pemecahan masalah dengan menggunakan keterampilan dan usaha apa saja yang kita miliki,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadruedee menambahkan, ini merupakan pengalaman pertama baginya dalam sebuah lokakarya CSCT. "Ini sungguh mengubah sikap saya dan kini saya melihat berbagai hal dari perspektif yang berbeda. Semua orang butuh hal yang sama – dicintai dan dipahami sehingga bila terjadi konflik dengan teman, keluarga, dan masyarakat, kita perlu berusaha dan memahami kebutuhan-kebutuhan orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita juga perlu melihat sisi baik mereka, maka kita bisa menangani konflik secara damai," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadruedee mengatakan, lokakarya itu memberinya kesempatan untuk refleksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dulu berbicara tanpa berpikir semestinya," katanya. "Saya sadar, ini bisa menimbulkan konflik. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengubah tingkah laku saya. Sekalipun saya tidak bisa melakukan apa-apa menyangkut berbagai masalah yang dihadapi warga desa itu, saya hendaknya tidak menciptakan konflik baru. Sejak sekarang, saya akan berusaha menyadari setiap kata yang saya ucapkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/29/thailand-orang-muda-belajar-hadapi-konflik/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5212343707774477475?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5212343707774477475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/06/orang-muda-belajar-hadapi-konflik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5212343707774477475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5212343707774477475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/06/orang-muda-belajar-hadapi-konflik.html' title='Orang Muda Belajar Hadapi Konflik'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3200341562913934397</id><published>2009-06-01T06:55:00.001-07:00</published><updated>2009-06-01T06:56:26.153-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Para Misionaris Bantu Penduduk Pribumi Berantas Penyakit</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;QUEZON CITY, Filipina (UCAN)&lt;/span&gt; -- Para pekerja kesehatan pribumi yang dilatih para misionaris sedang membantu penduduk di sebuah daerah pemukiman baru di barat laut Manila untuk mencegah penyakit-penyakit mematikan yang disebabkan oleh nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam pekerja dari komunitas Aeta, yang dilatih oleh Yayasan Misi St. Maria Ratu Pencinta Damai, sedang melaksanakan pemeriksaan dan penyuluhan untuk mencegah 500 penduduk Aningway-Sacatihan dari penyakit malaria dan demam berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aningway-Sacatihan di kota Subic, barat laut Manila, merupakan daerah pemukiman bagi warga keturunan penduduk asli Propinsi Zambalaes, tempat kota itu berada.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suster Eva Fidela Maamo dari Tarekat St. Paul de Chartes yang sekaligus dokter mulai melaksanakan misi-misi medis St. Maria Ratu Pencinta Damai tahun 1984 untuk mengobati orang-orang yang tidak mempunyai akses ke pusat-pusat kesehatan. Kemudian, sebagai bagian dari program pencegahan, misi itu melatih pria dan wanita lokal untuk melayani sebagai “dokter” di desa-desa terpencil yang tersebar di daerah perbukitan di seluruh negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pekerja kesehatan yang berasal dari 110 suku asli Filipina telah mengikuti kursus pelatihan dalam keterampilan pemeliharaan kesehatan dasar sejak 2005, kata laporan Yayasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin komunitas, Bonifacio Ronque, mengatakan kepada UCA News bahwa yayasan itu sedang melaksanakan program pencegahan penyakit malaria dan demam berdarah “sehingga masyarakat bisa tahu perbedaan,” mencegah, dan menyembuhkan dua penyakit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaria dibawa oleh nyamuk anopheles betina dan mengakibatkan panas dingin, demam tinggi dan sakit kepala. Demam berdarah berasal dari nyamuk Aedes Aegypti dan menyebabkan demam tinggi, sakit kepala, sakit punggung, muntah-muntah, dan bintik-bintik merah di tubuh penderita. Demam berdarah yang parah juga dapat menyebabkan gusi berdarah, kulit berdarah dan pendarahan di dalam tubuh. Dalam berbagai kasus, penyakit malaria dan demam berdarah bisa berakibat fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para pegawai cuaca dan iklim Filipina mengumumkan mulainya musim penghujan pada bulan Mei, para pegawai Departemen Kesehatan (DOH, Departement of Health) menyiapkan berbagai komunitas untuk mencegah demam berdarah. DOH mencatat 4.704 kasus demam berdarah terjadi mulai Januari sampai Maret 2009, hanya sepertiga dari 12.145 kasus yang tercatat pada periode yang sama tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aningway-Scataihan, Rongue mengatakan tidak ada kasus demam berdarah tercatat di daerahnya sejak awal tahun ini. Pekerja kesehatan dari komunitas Aeta mengambil sampel darah dari penduduk untuk dicek apakah ada malaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderita yang menunjukkan gejala-gejala penyakit itu dibawa ke pusat kesehatan kota di Subic atau ke rumah sakit distrik di kota San Marcelino untuk memverifikasi bahwa mereka menderita malaria, kata pemimpin komunitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerja-pekerja kesehatan yang terlatih juga berkunjung dari rumah ke rumah dan mengadakan pertemuan untuk penduduk di pusat pelatihan komunitas itu. Mereka mengajak masyarakat supaya membersihkan lingkungan sekitar mereka guna menghancurkan sarang-sarang nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St. Maria Ratu Pencinta Damai mengirimkan dua sampai tiga dokter setiap bulan ke tempat itu untuk melatih para pekerja dalam berbagai keterampilan medis. Sesi-sesi pelatihan bagi para pekerja Aeta dimulai tahun 2005 setelah 22 penduduk terjangkit malaria. Satu penderita meninggal karena wabah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerja-pekerja kesehatan mengikuti berbagai kursus di rumah sakit St. Maria Ratu Pencinta Damai di Paranaque City, selatan Manila, tempat para dokter mengajari mereka tentang pertolongan pertama, prinsip-prinsip pemeliharaan kesehatan masyarakat, tes darah, dan keterampilan dasar lainnya dalam kursus tiga minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/28/filipina-para-misionaris-bantu-penduduk-pribumi-berantas-penyakit/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3200341562913934397?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3200341562913934397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/06/para-misionaris-bantu-penduduk-pribumi_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3200341562913934397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3200341562913934397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/06/para-misionaris-bantu-penduduk-pribumi_01.html' title='Para Misionaris Bantu Penduduk Pribumi Berantas Penyakit'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8575764453169693174</id><published>2009-05-31T20:14:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T20:16:58.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panggilan'/><title type='text'>Bibit-Bibit Panggilan Bersemai dalam Keluarga-Keluarga</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;JAKARTA (UCAN)&lt;/span&gt; -- Di saat Gereja Katolik Indonesia menghadapi kesulitan dalam menarik orang untuk menjadi imam serta biarawan-biarawati, Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC) nampaknya tidaklah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas imam dan bruder internasional itu mendapatkan sembilan imam yang ditahbiskan di Indonesia tahun 2004, enam di tahun 2005, empat di tahun 2006, lima di tahun 2007 dan 16 di tahun 2008. Tahun ini, empat sudah ditahbiskan di bulan Februari dan enam lainnya akan ditahbiskan juga di tahun ini. Kini ada 96 anggota MSC sedang belajar filsafat dan teologi serta 19 orang sedang berada di novisiat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;MSC Indonesia memiliki 213 imam termasuk 12 warga negara Indonesia kelahiran luar negeri, serta lima uskup termasuk satu uskup berkewarganegaraan Indonesia tapi lahir di luar negeri. MSC Indonesia juga memiliki 21 bruder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Johanis Mangkey, Provinsial MSC Indonesia, dipilih tanggal 9 Februari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan bahwa pertumbuhan panggilan yang stabil dalam kongregasinya adalah berkat kerja keras para imam MSC dalam pelayanan pastoral paroki, pendidikan dan pembinaan, karya sosial dan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Pastor Mangkey, 55, menekankan bahwa bibit-bibit panggilan sesungguhnya bersemai dalam keluarga-keluarga, maka ia berharap agar Gereja memfokuskan pendidikan iman dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Mangkey pernah bertugas sebagai Asisten Jenderal dari pemimpin tertinggi MSC sedunia di Roma dari tahun 1993 sampai 2005 dan sebagai Sekretaris Jenderal MSC dari 2002 sampai Februari 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MSC didirikan oleh Pastor Jules Chevalier, seorang imam Perancis dari Issoudun, di tahun 1854. Sejak itu tarekat itu tersebar di seluruh dunia. Kini ada lebih dari 2000 imam dan bruder MSC yang bekerja di 55 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moto kongregasi itu adalah: “Ametur ubique terrarum, Cor Jesu Sacratissimum in aeternum“ (Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di seluruh dunia, selama-lamanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara dengan Pastor Mangkey sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;UCA NEWS: Bagaimana situasi panggilan di Indonesia saat ini?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pastor Johanis Mangkey: Dibandingkan dengan Eropa dan Amerika, situasi panggilan di Indonesia masih baik. Di Belanda, misalnya, sudah 30 tahun ini tidak ada lagi tahbisan imam untuk MSC. Situasi ini sama dengan di Perancis, meskipun di Italia ada beberapa panggilan tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MSC provinsi Indonesia masih memiliki cukup panggilan, khususnya yang berasal dari bagian timur Indonesia seperti Maluku, Sulawesi, Timor dan Flores. Meskipun MSC tidak bekerja di Flores dan Timor namun kita mendapat panggilan dari sana setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memprihatinkan kami serta tarekat lain adalah pulau Jawa. Panggilan di Jawa sudah sangat menurun. Dua tahun terakhir, untuk pertama kalinya MSC tak punya panggilan dari Jawa. Pertanyaannya, di Keuskupan Purwokerto di mana MSC bekerja juga tidak ada lagi panggilan untuk MSC. Memang kami belum menemukan alasannya. Bagi kami itu suatu refleksi. Mungkin kita harus mengoreksi diri, bagaimana harus tetap memperkenalkan diri di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bisakah Anda menjelaskan kesuksesan kongregasi Anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya kira ini karena keterlibatan dan kehadiran langsung MSC di seminari-seminari, misalnya di seminari tingkat SMP di Saumlaki, Tanimbar, dan di tingkat SMA di Langgur, juga di Tomohon. Di sana MSC terlibat sebagai staf tetap atau sebagai pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana pun juga kami berada promosi yang paling utama untuk menarik panggilan adalah kesaksian hidup. Kami tidak sekedar hadir di situ, tapi menghidupi semangat kami, bagaimana semangat itu mewarnai karya pelayanan. Di situ, bukan cuma anak-anak yang melihat tetapi orang tua. Maka, kalau anak mengatakan mau masuk seminari dan datang pada pillihan mau jadi biarawan atau projo, orang tua mendorong anak-anaknya untuk menjadi misionaris MSC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anda baru kembali dari novisiat MSC di Karanganyer, Jawa Tengah. Apa kesan para novis tentang pembinaan mereka?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama para novis sangat berterima kasih untuk tiga imam dan magister yang melayani mereka di novisiat itu dengan penuh kebersamaan, kekompakan, komitmen dan kerja sama. Mereka juga merasa turut dilibatkan dalam program sehingga mereka tidak menjadi objek tapi subjek pembinaan itu. Mereka juga melihat bahwa mereka mau dibentuk bukan hanya secara rohani tetapi juga secara pribadi, yang membentuk mereka menjadi pribadi yang utuh, terutama menjadi pribadi rohani yang dijiwai semangat MSC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana Gereja bisa menjaga kesuburan panggilan?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Keluarga adalah seminari yang pertama. Orangtua harus menyuburkan iman anak-anak mereka, bukan dengan memaksa mereka berdoa atau mengikuti Misa, tetapi melalui teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteladanan orangtua sangat penting. Mengapa panggilan di Eropa sangat berkurang, menurut saya, adalah faktor keluarga. Mereka membawa anak mereka untuk dipermandikan, tetapi setelah itu terserah kepada anak untuk menentukan masa depannya. Orangtua tidak memberikan pendampingan yang konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya di novisiat itu, saya bertemu seorang novis, anak dari keluarga yang kaya. Ayahnya seorang pengusaha dan ibunya seorang wanita karir. Ketika dia bilang mau masuk seminari dia ditentang. Ternyata orangtuanya hanya mau menguji apakah dia betul terpanggil secara sadar atau karena ikut teman, karena beberapa kakaknya akhirnya keluar juga dari seminari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia katakan bahwa panggilannya tumbuh dari dia sendiri, karena mamanya itu pendoa. Papanya yang dulu sibuk dengan bisnis, kini juga menjadi pendoa. Jadi dia melihat sepertinya panggilan dia terhubungkan dengan peranan iman terutama kekuatan doa mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya di Eropa ada sebuah pertanyaan kepada saya, apa yang membuat banyak panggilan di Indonesia. Saya katakan, di samping keluarga-keluarga di Indonesia masih beriman, umat Katolik masih mau mengikuti Misa, mengikuti kegiatan-kegiatan Gereja, dan berdoa Rosario bersama dalam keluarga dan lingkungan di setiap bulan Maria, Mei dan Oktober. Mereka kaget dan mengatakan bahwa Gereja di Indonesia sangat hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya berharap Gereja yang lebih luas belajar mengembangkan pendidikan iman dalam keluarga-keluarga, karena di situ bibit panggilan menjadi imam, biarawan-biarawati dan petugas pastoral Gereja seperti katekis akan bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga ada bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga menjadi sarana Tuhan untuk membagikan kebaikan dan cinta-Nya. Penghayatan dan praktek cinta dalam keluarga adalah kesaksian utama bagi anak-anak untuk berbagi kasih kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa faktor-faktor keluarga lain yang terkait dalam panggilan seorang anak?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dari pertemuan dengan para novis belum lama ini salah satu hal yang muncul adalah dukungan dan sekaligus tantangan atau ujian dari keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan mereka ketika mengetahui keinginan untuk menjadi imam keluarga mendukung. Dukungan keluarga ini menjadi peneguhan atau penguatan akan keinginan yang mulai tumbuh. Ini sangat berarti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menemui tantangan demi pemurnian motivasi. Ketika orang tuanya mengetahui keinginannya untuk menjadi imam, anak itu diberi kemungkinan-kemungkinan lain seperti studi bidang tertentu di perguruan tinggi yang bagus, diberi fasilitas, dan sebagainya. Tetapi ketika anak itu bersikeras untuk mengikuti bisikan suara hati untuk menjadi imam pada akhirnya orangtua merestui dengan pesan “ini pilihanmu, seriuslah dengan itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/21/indonesia-â€“-wawancara-bibit-bibit-panggilan-bersemai-dalam-keluarga-keluarga/"&gt;Ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8575764453169693174?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8575764453169693174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/bibit-bibit-panggilan-bersemai-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8575764453169693174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8575764453169693174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/bibit-bibit-panggilan-bersemai-dalam.html' title='Bibit-Bibit Panggilan Bersemai dalam Keluarga-Keluarga'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-153933929808481834</id><published>2009-05-31T20:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T20:12:55.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panggilan'/><title type='text'>Uskup Desak Para Imam Rangkul Kaum Muda karena Panggilan Menurun</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;JAKARTA (UCAN)&lt;/span&gt; -- Ketua Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia mengajak para imam dan kaum religius untuk merangkul orang muda karena panggilan menurun di seluruh tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah panggilan imam dan religius menurun karena kegiatan promosi panggilan yang menargetkan orang muda tidak dilakukan secara efektif, kata Uskup Pangkalpinang Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbagai kegiatan promosi panggilan masih bersifat tradisional dengan membagikan pamflet dan brosur dan kurang kerjasama di kalangan tarekat,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, prelatus itu mengatakan ia tidak memiliki data konkret tentang bagaimana panggilan itu menurun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Uskup Nurak berbicara kepada UCA News pada 15 Mei setelah menghadiri pertemuan yang diselenggarakan di Rumah Retret Samadi, Jakarta Timur. Ia dan lebih dari 50 imam, bruder dan suster dari berbagai kongregasi menghadiri pertemuan 11-14 Mei yang bertemakan, "Menjawab tantangan menurunnya panggilan di Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Nurak mengatakan acara itu mengungkap bahwa panggilan menurun di banyak bagian di tanah air, meskipun jumlahnya nampak stabil di bagian-bagian lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan yang mungkin terjadi adalah orang awam melihat para imam dan kaum religius semakin dipengaruhi oleh konsumerisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut uskup itu, para imam dan kaum religius hendaknya memberikan ”contoh yang baik” kepada orang awam khususnya orang muda sehingga mereka bisa tertarik terhadap panggilan menjadi imam, biarawan atau biarawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menekankan pentingnya kerja sama di kalangan kongregasi yang berbeda, katanya: “Kita tidak single fighter tapi kita bekerja untuk keseluruhan. Setiap tarekat bisa saling memberikan informasi apa yang harus dikerjakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Nurak juga meminta para imam dan kaum religius untuk memberikan kesempatan bagi orang awam terlibat dalam berbagai kegiatan promosi panggilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Paulus Suparmono CM, provinsial CM Indonesia, mengatakan kepada UCA News awal bulan ini bahwa "banyaknya variasi pilihan hidup yang lebih luas memungkinkan kaum muda untuk memilih” sehingga “kita harus lebih kreatif mencari celah untuk menyapa, menyemai, dan menumbuh kembangkan panggilan di kalangan pemuda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara tersebut adalah dengan mengadakan retret, katanya. ”Retret atau rekoleksi panggilan merupakan wadah untuk mempertegas arah panggilan yang dimiliki seseorang. Ini salah satu celah untuk memberikan kemungkinan bagi mereka yang merasa terpanggil di tengah dunia yang semakin sekularistik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongregasinya mengadakan retret dua kali setahun di Jawa Timur. Retret terakhir diadakan pada bulan Februari. ”Ada lebih dari sepuluh orang muda datang. Meskipun jumlah itu tidak terlalu besar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara berbagai kegiatan promosi panggilan yang diadakan untuk memperingati Hari Panggilan, katanya, ia mengatakan kegiatan itu untuk merangkul orang muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pikir, pendekatan personal terhadap kaum muda yang dilayani akan lebih efektif dalam menumbuhkan panggilan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa keuskupan di tanah air merayakan Hari Panggilan se-Dunia pada 3 Mei dengan mengadakan Misa, sesi sharing iman dan kunjungan ke seminari. Di keuskupan Purwokerto, Jawa Tengah, sekitar 150 anak dan remaja mengikuti Misa pada 3 Mei yang dipimpin Pastor Patrisius Pa SVD, direktur Karya Kepausan Indonesia (KKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Bina Iman dan Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) di keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merayakan hari khusus itu dengan mengunjungi dua rumah pembinaan religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keuskupan Larantuka, Nusa Tenggara Timur, SEKAMI mengadakan acara sharing iman tentang karya misi pada 2-3 Mei di halaman Katedral Reinha Rosari. Acara itu dihadiri lebih dari 1.300 anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/19/indonesia-uskup-desak-para-imam-rangkul-kaum-muda-karena-panggilan-menurun/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-153933929808481834?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/153933929808481834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/uskup-desak-para-imam-rangkul-kaum-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/153933929808481834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/153933929808481834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/uskup-desak-para-imam-rangkul-kaum-muda.html' title='Uskup Desak Para Imam Rangkul Kaum Muda karena Panggilan Menurun'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1885094401141951578</id><published>2009-05-31T20:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T20:10:31.271-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><title type='text'>Internet Memperluas Jangkauan Pastoral Uskup</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;BANDUNG, Jawa Barat (UCAN)&lt;/span&gt; -- Uskup Bandung Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta diyakini sebagai satu-satunya uskup Indonesia yang memiliki account Facebook dan Multiply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelatus yang diangkat oleh Paus Benediktus XVI sebagai uskup Bandung tanggal 17 Mei 2008 itu, sudah bertahun-tahun bahkan sejak masih imam mengenal teknologi digital itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi anggota Facebook sejak akhir 2008, dan kini sudah memiliki lebih 5000 teman dalam situs jaringan sosial itu, atau melebihi batas maksimum yang ditentukan. Berkat laptop dan handpone BlackBerry, dia selalu terhubung secara digital.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Uskup itu berbicara dengan UCA News di kantornya sehari setelah Hari Komunikasi se-Dunia ke-43 dan berbagi tentang bagaimana teknologi komunikasi modern membantu dia dalam karya pastoralnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;UCA News: Anda begitu familiar dengan Internet. Anda punya alamat email pribadi serta account Facebook dan Multiply. Kapan Anda mulai menggunakan semua teknologi baru ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USKUP Pujasumarta: Dalam keluarga kami, biasa diadakan pertemuan keluarga pada hari-hari setelah Natal menjelang tahun baru untuk saling komunikasi. Pada pertemuan keluarga akhir tahun 2007 yang lalu kami ingin lagi meningkatkan mutu komunikasi kami dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi. Saya usulkan kepada saudara-saudari saya untuk membuat mailinglist, kalau mungkin juga website.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Januari 2008 mulailah saudara-saudari saya berkiprah komunikasi melalui internet ini. Bahkan sekarang kami terhubung melalui Multiply. Ternyata komunikasi dapat terjalin dengan baik. Jaringan meluas. Banyak inisiatif dari teman-teman untuk saling berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masuk dalam jaringan Facebook sebenarnya baru akhir Desember 2008. Saya heran sendiri setiap bulan jumlah teman yang berjejaring sekitar 1000 orang, sehingga bulan Mei ini jumlahnya sudah 5000 lebih, melebihi batas maksimum yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah teknologi ini mendukung karya pastoral Anda?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, saya banyak terbantu dengan teknologi Internet. Di dalamnya saya menemukan banyak hal yang bahkan dapat saya gunakan sebagai sumber informasi yang rasanya tidak habis-habisnya. Komunikasi pun terjalin dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana peralatan komunikasi ini membantu Anda mewartakan Kabar Gembira?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Internet, Kabar Gembira yang saya bagikan tidak hanya tersebar lebih cepat tapi juga menjangkau lebih banyak orang. Selain membagikan pengalaman dan pemikiran spiritual yang syukur-syukur bisa mencerahkan orang lain, saya juga terutama ingin mendengarkan apa yang menjadi isi hati mereka. Syukur bahwa ada banyak orang yang menangkap kata-kata saya sebagai ‘kabar suka cita’ bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya mulai menggunakan Multiply sebagai imam di Keuskupan Agung Semarang, saya selalu mengakhiri pesan saya dengan kata-kata: "Salam, doa, n Berkah Dalem."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seberapa seringkah Anda menggunakan Internet?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Secara berkala saya cek email, Facebook dan Multiply. Berkat BlackBerry saya tidak lagi tergantung pada komputer. BlackBerry online 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Paus Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi se-Dunia 2009 berjudul "Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan." Menurut Anda, apakah orang-orang Gereja sudah menggunakan teknologi-teknologi baru sesuai harapan Paus itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan jaringan komunikasi modern secara tepat akan menjalin komunikasi antarpribadi yang mendalam dan tak terhalang oleh jarak dan waktu. Sayang, alat-alat itu kadang-kadang diapresiasikan tidak seperti fungsinya, misalnya sekedar untuk hiburan, entertainmen, atau bahkan simbol prestige.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Bapa Suci Benediktus XVI pada Hari Komunikasi se-Dunia sangat meneguhkan saya dalam berkomunikasi melalui Internet dengan segala fasilitas yang disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rata-rata berapa banyak pesan masuk mailbox Anda setiap hari. Pesan-pesan bagaimana dan dari siapa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah menghitung berapa email sehari yang masuk. Namun, yang biasanya datang adalah pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan beriman dan cukup banyak yang minta doa. Juga ada persoalan-persoalan pribadi atau persoalan keluarga misalnya hati yang terluka atau juga broken home. Mereka minta pemecahannya. Biasanya saya mengatakan jangan memakai Facebook atau Multiply untuk membicarakan masalah-masalah pribadi itu, tapi silahkan lewat email karena itu rasanya lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar pengirim beragama Katolik, bukan hanya dari Jawa tetapi juga dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan pulau lain. Ada juga yang tidak Katolik. Saya juga menerima pesan-pesan dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah Anda pernah memperoleh pengalaman menarik dalam menggunakan Internet?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Yang paling mengesankan pada saya dalam jaringan komunikasi modern ini adalah terjalin komunikasi antarpribadi yang bukan sekedar membangun suatu komunitas maya (&lt;em&gt;virtual community&lt;/em&gt;), tetapi komunitas batin &lt;em&gt;(spiritual community&lt;/em&gt;) yang sungguh hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing yang terjadi tidak sekedar basa-basi, tetapi sharing pengalaman mendalam mengenai suka dan duka kehidupan. Sharing pengalaman itu yang mampu mempersatukan di mana pun kita berada dan dikembangkan dalam “Jejaring Sembahyang dan Doa” atau ”INTERNET OF PRAYERS”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukjizat “Penggandaan 5 roti dan 2 ikan” yang terwujud dalam semangat berbagi kepada sesama pun menjadi lebih meluas dan terus bergulir lewat jaringan komunikasi modern ini, bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa perasaan Anda saat menerima bahan-bahan pornografi atau pun spam lainnya di email, Facebook atau Multiply?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah teknologi ibaratnya uang logam yang mempunyai dua sisi. Ada yang baik dan buruk. Saat bertemu dengan yang buruknya, saya tidak menanggapi. Kadang saya berdoa, “Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskan kami dari yang jahat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsisten dalam doa membantu saya untuk tidak meng-klik pesan-pesan negatip atau buruk di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teknologi digital sangat popular di kalangan kaum muda. Apa komentar Anda?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mahasiswa dan siswa SMA menggunakan Internet. Ibu-ibu muda juga demikian, baik di rumah atau di kantor yang menyediakan fasilitas Internet. Bisa dikatakan teknologi berada dalam genggaman kaum muda saat ini. Mereka bertumbuh dalam dunia digital. Itulah cara anak muda sekarang berkomunikasi atau berbicara. Kita harus menerima kenyataan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berharap teknologi ini digunakan untuk hal-hal positif, membantu pengembangan diri, dan bisa menjadi kesaksian iman bagi banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperi motto episkopal saya, saya mendorong orang muda bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) dengan memahami bahwa sarana ini bukan untuk main-main tapi sarana untuk menggali pengalaman batin atau mengungkapkan pengalaman batin, dan justru di situ mereka berevangelisasi. Mereka mesti menggunakan Internet dalam fungsi yang utuh, bukan sekedar sebagai sarana entertainmen tapi sebagai sarana pewartaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga minta kaum muda untuk waspada dan kuat karena dalam kedalaman bisa menjadi godaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana Anda menggunakan teknologi-teknologi ini untuk pelayanan pastoral, dan bagaimana efektifnya teknologi itu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Secara berkala saya mengisi blog saya dengan setiap kegiatan pastoral yang saya jalankan. Homili ataupun permenungan yang saya dapatkan terkadang saya posting juga dalam blog saya. Saya harapkan semua itu bisa meneguhkan lebih banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin orang menggunakan Internet untuk tetap saling berhubungan, semakin kurang nampaknya perlunya pertemuan tatap-muka. Pertemuan-pertemuan itu penting untuk menjalin hubungan. Bagaimana komentar Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI, “Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial real sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, alat komunikasi tetaplah alat. Kitalah pengguna alat ini. Karena itu, diperlukan kehendak untuk menata waktu secara baik dan tepat untuk menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/26/indonesia-wawancara-ucan-internet-memperluas-jangkauan-pastoral-uskup/"&gt;Ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1885094401141951578?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1885094401141951578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/internet-memperluas-jangkauan-pastoral.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1885094401141951578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1885094401141951578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/internet-memperluas-jangkauan-pastoral.html' title='Internet Memperluas Jangkauan Pastoral Uskup'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-7658110970246561054</id><published>2009-05-31T20:05:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T20:07:08.801-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CAFOD'/><title type='text'>CAFOD akan Membantu Pengungsi Pakistan</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;LONDON (UCAN)&lt;/span&gt; -- CAFOD, mitra Inggris Caritas, telah menjanjikan £100,000 (US$158,000) untuk membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat pertempuran antara milisi Taliban dan tentara Pakistan di lembah Swat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang itu akan disalurkan ke badan-badan Katolik yang berkarya di wilayah itu dan umumnya akan dimanfaatkan untuk membantu sekitar 10.000 keluarga pengungsi, atau sekitar 70.000 orang. Mereka tidak tinggal di kamp-kamp tetapi di keluarga-keluarga lain. "Orang-orang ini kurang didokumentasi dibandingkan dengan mereka yang berada di kamp-kamp, dan keluarga-keluarga yang menerima para pengungsi itu sendiri sangat miskin,” kata Debbie Wainwright, jurubicara CAFOD Asia, kepada &lt;em&gt;UCA News&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAFOD adalah agen pertolongan dan bantuan Katolik di Inggris yang dibentuk tahun 1962oleh para uskup Katolik England dan Wales. Mula-mula agen ini dikenal dengan Dana Katolik bagi Pengembangan Luar Negeri (Catholic Fund for Overseas Development), tetapi kini dikenal dengan Agen Katolik untuk Pengembangan Luar Negeri (CAFOD, Catholic Agency for Overseas Development). CAFOD merupakan bagian dari Federasi Internasional Caritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caritas adalah agen pelayanan sosial Gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Milisi Taliban mengatakan pada 24 Mei, mereka akan berhenti bertempur di Mingora, kota utama di lembah itu. Pertempuran paling sengit terjadi di kota itu baru-baru ini. Namun, tentara Pakistan mengatakan, dia akan terus menyerang untuk membersihkan milisi dari kota itu. Helikopter tempur telah menyerang dua desa terdekat yang dikuasai Taliban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang terperangkap di wilayah itu menghadapi bencana kemanusiaan jika pemerintah tidak mencabut jam malam di wilayah itu sehingga makanan, air, dan obat-obatan bisa didrop dari udara untuk mereka yang terperangkap, demikian Human Rights Watch yang berbasis di New York. Agen pengungsi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa itu mengatakan bahwa sekitar 2,38 juta orang telah melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya memiliki pakaian di badan, kata Robert Cruickshank, manejer program dari CAFOD Pakistan, demikian website CAFOD. Ia mengatakan bahwa 26 kamp resmi, yang menampung 262.000 pengungsi, telah penuh sesak dan orang-orang, terutama yang sudah tua, sangat menderita karena temperatur setinggi 53 derajat Celsius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan: "Ratusan ribu orang berlindung di banyak gedung sekolah dan masjid atau tinggal dengan keluarga-keluarga lain, sehingga menjadi beban tambahan bagi keluarga tuan rumah yang memang sudah miskin. Para mitra kami akan lebih memusatkan perhatian pada usaha mendukung mereka yang tinggal dengan keluarga-keluarga yang menampung, walaupun keluarga-keluarga ini tersebar dan berjarak jauh satu sama lain dalam kelompok-kelompok kecil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mitra CAFOD -- Caritas Pakistan, Catholic Relief Services yang berbasis di Amerika Serikat, dan ICMC (International Catholic Migration Commission) -- telah menyediakan air bersih, tempat perlindungan temporer, perlatan masak, dan selimut, serta penyuluhan bagi mereka yang trauma yang mencapai hampir 150.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum perempuan khususnya paling trauma dan bingung karena banyak dari mereka belum pernah meninggalkan keluarga mereka sebelumnya, kata Cruickshank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/27/pakistan-cafod-akan-membantu-pengungsi-pakistan/"&gt;Ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-7658110970246561054?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/7658110970246561054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/cafod-akan-membantu-pengungsi-pakistan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7658110970246561054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7658110970246561054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/cafod-akan-membantu-pengungsi-pakistan.html' title='CAFOD akan Membantu Pengungsi Pakistan'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1154230309965669870</id><published>2009-05-31T20:02:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T20:03:05.596-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet'/><title type='text'>Pentingnya Internet dan Seni Tradisional</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;JAKARTA (UCAN)&lt;/span&gt; -- Para pemimpin agama Katolik di Indonesia menekankan pentingnya teknologi modern dan seni tradisional dalam komunikasi Gereja saat merayakan Hari Komunikasi se-Dunia baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 24 Mei, Paroki St. Anna di Duren Sawit, Jakarta Timur, meluncurkan website-nya yang berisi dokumen Gereja, renungan dan keluarga, serta informasi tentang berbagai kegiatan paroki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan website baru ini, semoga umat paroki disadarkan untuk menggunakan media sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata kepala paroki Pastor Yohanes Sudriyanto SJ kepada UCA News.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pastor Sudriyanto mengatakan bahwa komunikasi online itu sesuatu yang umum saat ini tetapi ia juga menegaskan "kita perlu memanfaatkannya secara optimal untuk menunjang komunikasi dan menembus keterbatasan komunikasi di antara kita karena di paroki ini ada sekitar lebih dari 10.000 umat yang tersebar di 82 lingkungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Benediktus XVI memilih "Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan" sebagai tema untuk perayaan Hari Komunikasi se-Dunia tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ meluncurkan website Gereja St. Anna itu (www.gerejastanna.org), yang dikelola seksi komunikasi sosial dan seksi kepemudaan paroki itu, dalam Misa khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kotbahnya, ia mengajak seluruh umat Katolik supaya menggunakan berbagai teknologi komunikasi modern dengan bijaksana sehingga dapat menghindari dampak negatif penggunaan teknologi itu. ”Kita syukuri kemajuan teknologi. Kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prelatus itu mengakui bahwa teknologi modern mempermudah pekerjaan manusia tetapi ia juga mengingatkan umat bahwa perjumpaan pribadi tetap penting karena komunikasi digital tidak dapat mewakili perjumpaan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ dan empat imam merayakan Misa di Paroki St. Filipus Kapencar di Wonosobo, Jawa Tengah, untuk memperingati Hari Komunikasi se-Dunia. Dalam homilinya, Uskup Sunarka berpendapat bahwa kesenian tradisional itu penting sebagai media komunikasi untuk daerah pedesaan. Ia menyebutkan ketoprak dan wayang kulit sebagai contoh kesenian tradisional itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketoprak dan wayang kulit adalah alat komunikasi yang sangat berguna,” katanya. “Ketika kita menyaksikan pementasan ketoprak, kita akan menerima ajaran dari kisah yang dibawakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 70 wartawan Katolik mengikuti Misa di Gereja St. Yosef Pekerja Penfui untuk memperingati hari khusus itu. Pastor Paroki Florensius Maxi Un Bria mengatakan bahwa teknologi komunikasi berkembang pesat. "Setiap saat, kita bisa mengetahui berbagai peristiwa di berbagai pelosok dunia," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia menegaskan bahwa peran teknologi seperti itu seharusnya dapat mewartakan kebenaran, merukunkan perbedaan dan mengatasi konflik. “Umat Katolik hendaknya menggunakan media komunikasi sebagai sarana efektif untuk menghadirkan perdamaian,” tekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keuskupan Atambua, Timor barat, Komisi Komunikasi Sosial keuskupan itu mengadakan lomba menulis pada 22-24 Mei, yang temanya berdasarkan tema Hari Komunikasi se-Dunia. Sebanyak 37 pelajar Katolik dari sekolah-sekolah menengah atas (SMA) di keuskupan Atambua ikut serta dalam lomba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/27/indonesia-pentingnya-internet-dan-seni-tradisional/"&gt;Ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1154230309965669870?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1154230309965669870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pentingnya-internet-dan-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1154230309965669870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1154230309965669870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pentingnya-internet-dan-seni.html' title='Pentingnya Internet dan Seni Tradisional'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6633662969651132423</id><published>2009-05-31T19:54:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T19:58:54.091-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pegawai penjara'/><title type='text'>Mendampingi Kehidupan Rohani Narapidana Selama 25 Tahun</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;JAKARTA (UCAN)&lt;/span&gt; -- Yusuf Mawarjoko, seorang pegawai penjara, telah mendampingi kehidupan rohani narapidana Kristen selama lebih dari 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiND0kg65VI/AAAAAAAAAL0/-VSRQ0d0egs/s1600-h/Yusuf_Mawarjoko.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342188153425552722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 177px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiND0kg65VI/AAAAAAAAAL0/-VSRQ0d0egs/s200/Yusuf_Mawarjoko.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mawarjoko mulai bekerja di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang tahun 1976 sebagai staf administratif dan ditunjuk oleh kepala LP Cipinang sebagai pendamping narapidana Kristen tahun 1983. Ia mengatakan tugas itu merupakan panggilannya sebagai seorang Katolik. Ia mendampingi sekitar 200 narapidana Katolik dan Protestan supaya iman mereka kuat dan bisa mengubah diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pria berusia 54 tahun itu bekerja bersama para imam yang berkarya di dekenat Jakarta Timur dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan rohani mulai dari pertemuan bulanan atau dua bulanan sampai doa harian dan Misa. Bahkan, ia juga mengkoordinir kegiatan-kegiatan semacam itu pada hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UCA News mewawancarai Mawarjoko tentang pelayanannya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;UCA NEWS: Apa yang memotivasi anda dalam melaksanakan pelayanan ini?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;YUSUF MAWARJOKO: Pada awalnya, saya tidak begitu tertarik dengan bidang ini dan saya merasa tidak siap karena pengetahuan keagamaan saya begitu minim. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari tugas ini merupakan panggilan saya sebagai orang Katolik untuk memperhatikan kehidupan rohani para narapidana. Saya yakin jika hidup mereka mengakar pada kehidupan rohani, mereka tidak akan masuk ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mengandalkan Tuhan dalam melaksanakan tugas ini. Tapi, tugas ini juga membuat saya gembira karena saya menganggapnya sebagai cara untuk melayani Tuhan dan sesama. Tugas ini juga memberikan kesempatan kepada saya untuk belajar dan mengenal kerohanian dengan lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah Anda memulai pelayanan ini berdasarkan prakarsa Anda sendiri?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Saya ditunjuk kepala LP Cipinang untuk mendampingi narapidana Kristen tahun 1983. Pelayanan ini sudah ada sebelum saya menanganinya tetapi kegiatannya hanya dilakukan sekali atau dua kali sebulan. Kami hanya disediakan kapel dengan altar dan kursi sehingga saya meminta Gereja-Gereja yang melayani penjara ini supaya membawa alat musik dan peralatan liturgi untuk Misa dan doa-doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga mendapat dukungan baik dari institusi ini, yang menghendaki para nara pidana untuk mengembangkan hidup rohani mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kami mengadakan acara rohani setiap pagi dan sore dari Senin sampai Jumat. Pada hari Sabtu dan Minggu kami juga mengadakan berbagai kegiatan dan saya juga mendampingi mereka supaya kegiatan-kegiatan itu berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pelayanan rohani apa yang Anda berikan kepada para narapidana?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya sebagai fasilitator Gereja-Gereja yang melayani tempat ini. Tetapi, saya juga mendampingi narapidana Katolik dalam berdoa rosario, pendalaman iman, dan sharing Kitab Suci setiap Jumat pagi. Saya juga memberi kesempatan kepada mereka untuk memimpin kegiatan-kegiatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga pengajaran Alkitab bagi narapidana Protestan pada Senin dan Jumat yang dibimbing oleh para pendeta dari GPIB dan Gereja Bethany. Beberapa narapidana Katolik juga bergabung. Selain itu, ada juga persiapan baptis yang dilakukan setahun dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, narapidana Katolik dan Protestan mengadakan Misa dan kebaktian bersama. Namun, kami hanya memberikan Komuni Kudus kepada yang Katolik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberikan pendampingan kepada narapidana Katolik berdasarkan kalender Gereja. Misalnya, saya mengajak mereka untuk jalan salib dan pendalaman iman dalam masa Prapaskah dan doa rosario pada bulan Mei dan Oktober. Tapi saya tidak memaksa mereka. Saya hanya menghimbau dan kebanyakan dari mereka rajin mengikuti berbagai kegiatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuskupan Agung Jakarta dan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang sedang bekerja sama membangun perpustakaan di sebelah kapel dan akan selesai bulan Juli nanti. Gereja Katolik telah menyumbang lebih dari 100 buku tentang rohani, pengetahuan umum, keterampilan, dan lain-lain. Perpustakaan dengan luas 30 meter persegi itu juga akan digunakan sebagai ruang konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah pelayanan Anda di sini mengganggu kehidupan keluarga Anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, pelayanan ini benar-benar mengganggu kegiatan saya di rumah dan bahkan istri saya curiga karena saya melayani para narapidana setiap hari. Tetapi, istri dan kedua anak saya mendukung saya karena ini adalah bentuk pelayanan terhadap Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana tanggapan para narapidana terhadap usaha Anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 200 narapidana Kristen mengikuti misa atau ibadat-ibadat dan sepertinya mereka senang dengan kegiatan ini. Setiap hari, saya selalu ditanya apakah akan ada ibadat pada hari berikutnya. Saya berpikir kegiatan rohani sangat penting dan menjadi kebutuhan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah ada rintangan dalam tugas Anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ya. Pertama, motivasi beberapa narapidana dalam mengikuti kegiatan rohani kadang-kadang hanya untuk mendapat makanan. Kedua, ada begitu banyak Gereja yang ingin melayani peribadatan sehingga kami kesulitan mengatur waktu. Dan ketiga, kami masih kekurangan sarana dan tenaga untuk melayani para nara pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana pelayanan Anda ini menguntungkan para narapidana?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan-kegiatan rohani dapat mengurangi rasa bosan dan sepi para narapidana dan juga trauma yang pernah mereka alami. Mereka bernyanyi dan mendengarkan sabda Tuhan tetapi kami juga memberi kesempatan kepada mereka untuk bermain alat musik dalam misa atau ibadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berharap dengan mendengarkan sabda Tuhan setiap hari, para narapidana dapat merefleksikan tindakan mereka di masa lampau dan menyadari apa yang mereka lakukan itu bertentangan dengan ajaran Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dukungan Gereja terhadap pelayanan Anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dukungan Gereja sungguh luar biasa, bukan hanya bersifat rohani tetapi juga materi - menyumbang Kitab Suci, makanan dan alat musik. Para imam yang berkarya di dekenat Jakata Timur juga mengunjungi penjara ini untuk merayakan Ekaristi dan melayani sakramen Tobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja baru-baru ini juga memberikan dukungan moral terhadap para narapidana dan pelayanan saya. (Catatan editor: Kardinal Darmaatmadja dan beberapa imam merayakan Misa bersama mereka pada 14April, dua hari setelah Minggu Paskah.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah kegiatan rohani harian itu mengganggu kegiatan penjara?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kami selalu melaksanakan kegiatan rohani tanpa mengganggu kegiatan lainnya dan kami meminta kelompok-kelompok doa yang melayani tempat ini supaya menghormati agama lainnya. Para narapidana juga didorong supaya menghormati pemeluk agama lain ketika mereka sedang beribadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjara ini merupakan satu-satunya penjara yang mengadakan kegiatan rohani setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa harapan Anda terhadap para narapidana?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya mengharapkan Gereja melanjutkan pelayanannya di penjara ini karena pelayanan itu sungguh membantu para narapidana mengubah tingkah laku mereka. Dan harapannya, setelah mereka bebas mereka akan mempunyai iman yang kuat dan hidup baik di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/28/indonesia-wawancara-mendampingi-kehidupan-rohani-narapidana-selama-25-tahun/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-6633662969651132423?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/6633662969651132423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/mendampingi-kehidupan-rohani-narapidana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6633662969651132423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/6633662969651132423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/mendampingi-kehidupan-rohani-narapidana.html' title='Mendampingi Kehidupan Rohani Narapidana Selama 25 Tahun'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiND0kg65VI/AAAAAAAAAL0/-VSRQ0d0egs/s72-c/Yusuf_Mawarjoko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2733252056279996807</id><published>2009-05-31T19:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T19:51:35.305-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='national pilgrimage'/><title type='text'>More than 30,000 faithful pray to Our Lady of Aparecida for families of Brazil</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Aparecida, Brazil, May 28, 2009 / 08:12 pm (CNA)&lt;/span&gt; - More than 30,000 people participated last Sunday in the national pilgrimage for the family, organized by the Bishops’ Conference of Brazil, which concluded at the Shrine of Our Lady of Aparecida, the patroness of the country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bishop Orlando Brandes of the bishops’ Committee on Family and Life, said the pilgrimage was intended to increase awareness about the value and centrality of the family amidst the current crisis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;During the homily at the concluding Mass, Archbishop Lyrio Rocha of Mariana and president of the bishops’ conference, said, “We come to ask the Mother of God and our Mother to extend her hand over the families of Brazil, who are ever more vulnerable because of the great difficulties we must face in our day.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The family, he underscored, “is the place where we learn the virtues, values, opinions and attitudes that are necessary for authentically living together in society.” This important institution can only be formed from a marriage between a man and a woman, “and therefore it should not be confused with other types of living arrangements,” the archbishop said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In order to strengthen the family, he explained, “We need to promote an intense and vigorous family ministry,” and more “family associations capable of dialoging with those in public office at various levels” need to be created.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Public officials themselves need to make a greater effort to promote measures that respect, value and protect families,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16135"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2733252056279996807?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2733252056279996807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/more-than-30000-faithful-pray-to-our.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2733252056279996807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2733252056279996807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/more-than-30000-faithful-pray-to-our.html' title='More than 30,000 faithful pray to Our Lady of Aparecida for families of Brazil'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5773506133631470737</id><published>2009-05-31T19:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T19:48:31.591-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pontificate of Pius XII'/><title type='text'>Pius XII helped thousands of Jews and laid the foundation for the Council, says Cardinal Ruini</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Rome, Italy, May 28, 2009 / 12:55 pm (CNA)&lt;/span&gt; - The Vicar Emeritus of the Diocese of Rome has penned a personal article about his childhood and adolescence during the pontificate of Pius XII, who he said reached out to the Jews and laid the foundation for the Second Vatican Council.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the article published by the L’Osservatore Romano, Cardinal Camilo Ruini recounts his memories of the first Pope he remembers as a youngster, Pius XII, and how as a seminarian he felt a special closeness with the Pope. “The devotion to him and affection for him were an essential aspect of the atmosphere of the school and of our ecclesial and spiritual experience,” he wrote.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cardinal Ruini went on to address the black legend surrounding Pius XII for supposedly not helping the Jews during World War II. “I can say that during my years as a youth (…) I never heard criticism of the Pope over this issue, only praise and gratitude,” the cardinal said, adding that one of his most vivid memories is “of everything Pius XII did to save the greatest number of Jews possible, while nobody said anything about his ‘silence.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the cardinal, “it was obvious, in the atmosphere and ecclesial praxis of the time,” that if many “priests and religious communities, and the Vatican itself, had taken in and saved many persecuted Jews, that is ... it could not have been done without the encouragement and consent of the Pope.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since the concrete conditions of the Nazi occupation were a fresh reality, hypothesizing about the public condemnations that Pius XII could have made was not even on people's minds, Ruini recalled.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Honestly, at that time the controversy that was to be unleashed not many years later could not have been imagined,” the cardinal said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referring later to the theology of Pius XII, who laid the foundation for Vatican Council II, Cardinal Ruini explained that this historical event in the Church “has inspired perspectives that were new, or better yet, more in conformity with the ancient tradition, in order to understand the Service of the Successors of Peter.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For this reason, the cardinal said, “the Pontificate of Pius XII has a connection to the period which preceded him, which those of us who lived during both periods know by experience, but it also laid the groundwork for new developments, likewise known by experience by those of us who were nourished during our youth by his Magisterium and his testimony of dedication to Christ and care for the human race.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16131"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5773506133631470737?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5773506133631470737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pius-xii-helped-thousands-of-jews-and.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5773506133631470737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5773506133631470737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pius-xii-helped-thousands-of-jews-and.html' title='Pius XII helped thousands of Jews and laid the foundation for the Council, says Cardinal Ruini'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5453459811047550104</id><published>2009-05-31T19:34:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T19:41:00.370-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pentecost'/><title type='text'>Holy Spirit makes the Church more than a humanitarian agency, Pope teaches</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;(Vatican/CNA)&lt;/span&gt; - After celebrating the Mass of Pentecost in St. Peter's Basilica, Pope Benedict XVI addressed a crowd of at least 30,000 people gathered in St. Peter’s Square. The Holy Father told the faithful that the Holy Spirit is the “soul” of the Church and that without the Holy Spirit, the Church would only be a “humanitarian agency.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiM-nXH343I/AAAAAAAAALs/Ux4AhqOg0R8/s1600-h/papa_3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342182428934398834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 159px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiM-nXH343I/AAAAAAAAALs/Ux4AhqOg0R8/s200/papa_3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Pope Benedict XVI blesses the faithful in St. Peter's SquareVatican City, May 31, 2009 / 10:54 am&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“In truth many regard the Church in this way because they observe it from outside the viewpoint of the Faith,” Pope Benedict explained. “Yet in reality, its true nature and its real historic presence has ceaselessly been guided and formed by the Holy Spirit and by the Lord.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The Church is a living body, whose vitality is, exactly the fruit of the invisible, Divine Spirit.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Pope recalled that this year, the Solemnity of Pentecost falls on the day in which the universal Church celebrates the visitation of Mary to Elizabeth, May 31, and inspired by this coincidence, he spoke of the youth of Mary and of the Church. “The young Mary, who is carrying Christ in her womb, forgets herself to run to the aid of others. She is a wonderful icon for the Church in the perennial youth of the Holy Spirit, the Missionary Church of the Word Incarnate, called to bring it to the world and witness it particularly through charity,” the Pope reflected.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Let us invoke the intercession of Mary, most Holy, so the Church of our time may be continually strengthened by the Holy Spirit,” he urged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope also prayed for those Christians who are being persecuted, saying,“May the ecclesial communities who suffer persecution for Christ feel the comforting presence of the Paraclete, so that by participating in the Lord’s suffering they may receive in abundance the Spirit of Glory.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Following the Regina Coeli prayer, the Pontiff spoke of the young people of Italy’s Abruzzo region who will mark a regional Youth Day soon. “In communion with the young people of that land that was badly hit by the earthquake (last month),” he said, “we ask the Risen Christ to send upon them his Spirit of consolation and of hope.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16154"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5453459811047550104?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5453459811047550104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/holy-spirit-makes-church-more-than.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5453459811047550104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5453459811047550104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/holy-spirit-makes-church-more-than.html' title='Holy Spirit makes the Church more than a humanitarian agency, Pope teaches'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/SiM-nXH343I/AAAAAAAAALs/Ux4AhqOg0R8/s72-c/papa_3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1818841463573419460</id><published>2009-05-26T04:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T04:36:41.377-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='doa rosario'/><title type='text'>Orang Muda Katolik Temukan Kekuatan Rohani dalam Doa Rosario</title><content type='html'>DHAKA (UCAN) -- Setahun lalu, Shawon Purification hampir kehilangan harapan untuk bertahan hidup ketika suatu penyakit tak terindentifikasi mengancam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengalami deman tinggi, badan saya membengkak, dan terlalu lemah untuk bisa bergerak,” katanya. “Para dokter di berbagai pusat medis tidak bisa mengidentifikasi penyakit itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShvUNa86I8I/AAAAAAAAALk/9Ou1StsPSu4/s1600-h/rosario1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340095110216033218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 66px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShvUNa86I8I/AAAAAAAAALk/9Ou1StsPSu4/s200/rosario1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Dalam keadaan yang sedemikian kritis, keluarga saya dan saya sendiri mulai berdoa rosario mohon perantaraan Bunda Maria, dan saya sembuh,” lanjutnya. “Saya percaya, itu mungkin terjadi karena berkat-berkat Bunda Maria.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berusia 20 tahun yang mengalami mujizat itu datang dari Paroki Dharenda di Savar, dekat Dhaka. Dia berbicara kepada UCA News pada 15 Mei dalam sebuah pertemuan kaum muda di Gereja Rosario Suci di Tejgaon, untuk sekitar 200 orang muda Katolik yang berkumpul untuk berdoa rosario dan untuk menghadiri Misa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pelayanan Keluarga Salib Suci (HCFM, Holy Cross Family Ministries), Pastor John Phalen, 62, menghadiri pertemuan itu sebagai tamu dan merupakan bagian dari perjalanan Bangladesh yang dilakukannya mulai 8 Mei. Dalam perjalanan ini yang meliputi Dhaka, Khulna, dan Chittagong ini, dia mendorong umat Katolik untuk berdoa rosario.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Phalen, yang berencana mengunjungi lebih banyak paroki di sini bersama Uskup Agung Paulinus Costa dan koordinator HCFM Bangladesh, Pastor Parimal Francis Pereira, sebelum dia meninggalkan Bangladesh 23 Mei, juga membicarakan rencana-rencana bersama enam koordinator HCFM tingkat keuskupan di Bangladesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Phalen, asal Amerika, telah menjabat sebagai ketua HCFM sejak 1996. Dia meneruskan karya Pastor Patrick Peyton OSC, yang lebih populer dengan “imam rosario.” Pastor Peyton kelahiran Irlandia tiba di Bangladesh tahun 1955. Dia mengunjungi Paroki Tejgaon dan Paroki Hashnabad di Dhaka, dan berbicara tentang tentang pentingnya berdoa rosario atas permintaan Uskup Agung Dhaka Mgr Lawrence Leo Graner (1950-1967) waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HCFM melanjutkan karya Pastor Peyton di Bangladesh dengan mengadakan berbagai pertemuan dan seminar tentang pentingnya berdoa rosario dalam keluarga. HCFM memiliki representatif di setiap enam keuskupan di negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kepada UCA News, Pastor Phalen mengatakan: “Rosario suci ini memperkuat kehidupan iman orang muda Katolik, dengan memberikan mereka anugerah pembedaan roh secara jeli (discerment) dan kemampuan untuk memilih yang benar, serta membawa perdamaian dan kebahagiaan bagi keluarga-keluarga mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purification, yang sembuh total, mengatakan: “Orang muda Katolik yang berdoa roasario secara teratur tidak akan berjalan dalam kehidupan yang keliru. Rosario akan menyelamatkan mereka dari setiap bahaya dan membuat kehidupan mereka indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veronica Gomes, 18, seorang mahasiswi dari Dhaka, sependapat. “Keluarga saya berdoa rosario setiap malam,” katanya. “Secara pribadi, saya mendapat banyak manfaat dari doa-doa ini dalam berbagai cara. … Ketika menghadapi berbagai tantangan, saya berdoa rosario dan saya tertolong untuk mengatasinya tanpa kesulitan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Pereira berkomentar bahwa “pertemuan kaum muda ini akan mendorong orang muda Katolik untuk berdoa rosario secara teratur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/19/bangladesh-orang-muda-katolik-temukan-kekuatan-rohani-dalam-doa-rosario/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1818841463573419460?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1818841463573419460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/orang-muda-katolik-temukan-kekuatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1818841463573419460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1818841463573419460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/orang-muda-katolik-temukan-kekuatan.html' title='Orang Muda Katolik Temukan Kekuatan Rohani dalam Doa Rosario'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShvUNa86I8I/AAAAAAAAALk/9Ou1StsPSu4/s72-c/rosario1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-2168099337346599763</id><published>2009-05-26T04:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T04:32:31.433-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='holy land'/><title type='text'>Paus Temukan “Keterbukaan untuk Dialog” di antara Umat Kristen, Yahudi, dan Muslim</title><content type='html'>Oleh Gerard O'Connell&lt;br /&gt;Koresponden Khusus di Roma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOTA VATIKAN (UCAN) -- Paus Benediktus XVI melihat tanda pengharapan di Tanah Suci yang, katanya, sekalipun merupakan “simbol kasih Allah bagi umat-Nya dan seluruh umat manusia,” telah menjadi “simbol perpecahan dan konflik yang tak ada akhirnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShvS0MshDJI/AAAAAAAAALc/fRSMGsISNaY/s1600-h/pope16.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340093577380826258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShvS0MshDJI/AAAAAAAAALc/fRSMGsISNaY/s200/pope16.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Paus berusia 82 tahun itu membuat komentar itu di akhir “ziarah perdamaian” bersejarah yang dilakukannya selama delapan hari ke Tanah Suci. Dia memulai perjalanannya di Jordania pada 8 Mei, sebelum pergi ke Israel dan Wilayah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungannya, ia bertemu dengan para pemimpin ketiga negara dan wilayah itu, dan sempat berbicara secara pribadi dengan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut ribuan peziarah di Lapangan St. Petrus di Roma pada 17 Mei, paus masih memohon – seperti yang dilakukannya dalam perjalanan ke Tanah Suci – kepada umat Kristen, Muslim, dan Yahudi untuk "bekerja sama" dan dengan orang-orang yang berkehendak baik "membangun suatu masa depan keadilan dan perdamaian di negara-negara dan wilayah itu."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara dari perspektif teologis, Paus Benediktus mengatakan bahwa Tanah Suci, dengan situasinya yang sangat bersejarah, dapat dilihat sebagai "sebuah mikrokosmos yang kembali menyatakan dirinya sebagai perziarahan Allah dengan manusia yang sedemikian sulit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan “suatu perziarahan yang mengandung dosa serta salib," tetapi juga "kebangkitan telah dimulai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus merujuk pada tanda-tanda kebangkitan ini ketika ia berbicara kepada para wartawan dalam penerbangannya dari Tel Aviv ke Roma, pada 15 Mei, dan menyatakan "tiga kesan mendasar" yang diperolehnya dalam kunjungan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, katanya, ia “menemukan di mana-mana,” baik di antara umat Kristen, kaum Muslim, dan umat Yahudi, "keterbukaan yang pasti untuk kerja sama, berkontak, dan dialog antaragama." Penting bagi semua orang untuk pahami bahwa ini bukan sekedar motif terkait dengan situasi sekarang ini, katanya, melainkan “buah" iman akan Allah yang Esa yang diyakini oleh mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia menemukan apa yang diuraikannya sebagai "suatu suasana ekumene yang membesarkan hati” di kalangan komunitas-komunitas Kristen di Tanah Suci. Secara khusus paus menyebut "keramahan luar biasa" yang dialaminya dalam banyak pertemuan dengan para pemimpin Gereja Ortodoks Yunani, Anglikan, dan Lutheran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, katanya, ia bukan saja melihat dan merasakan "berbagai kesulitan yang sangat besar" yang ada, tetapi "saya juga melihat ada suatu kerinduan mendalam akan perdamaian di semua pihak." Ada berbagai kesulitan, katanya mengakui, tetapi semua ini harus dijelaskan, bukan disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, ketika berbicara dalam upacara perpisahan di Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv, Paus Benediktus membuat sebuah penekanan terakhir pada perdamaian di hadapan para petinggi politik Israel serta para pemimpin agama Kristen, Yahudi, dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ada lagi penumpahan darah! Jangan ada lagi pertikaian! Jangan ada lagi terorisme! Jangan ada lagi peperangan!" katanya, dengan berbicara sebagai "seorang teman dari rakyat Palestina maupun bangsa Israel."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 11 Mei, ketika tiba di sini, paus meminta sebuah "solusi dua negara" sebagai jalan menuju “perdamaian yang adil dan abadi." Sekarang, untuk mulai, ia kembali meminta agar ini "menjadi kenyataan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarlah secara universal diakui bahwa Negara Israel berhak untuk ada, dan untuk menikmati kedamaian dan keamanan dalam batas-batas yang diakui secara internasional,” katanya. "Sebaliknya, biarlah diakui bahwa rakyat Palestina berhak memiliki tanah air merdeka dan berdaulat, untuk hidup bermartabat dan bebas bepergian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus juga mengatakan kepada para pemimpin Israel bahwa tembok sepanjang 700 kilometer dengan tinggi delapan meter yang memisahkan warga Israel dari warga Palestina itu merupakan “salah satu pandangan yang sangat menyedihkan” yang diamatinya ketika mengadakan kunjungan itu. Dia berdoa, semoga tidak lama lagi tembok itu tidak dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi yang sama, sebelum berangkat ke bandar udara, paus bertemu dengan para pemimpin Kristen di Yerusalem di Patriarkat Ortodoks Yunani. Setelah mendorong mereka untuk bersatu, paus berdoa semoga harapan mereka untuk "hidupkan kebebasan beragama dan hidup bersama secara damai" bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting dari kunjungannya terjadi segera ketika paus memasuki Basilica of Holy Sepulcher di Yerusalem. Paus berdoa dalam keheningan beberapa menit di makam Kristus, tempat yang sangat dihormati dalam agama Kristen. Paus juga berdoa di tempat Yesus disalibkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Benediktus terlatih sebagai seorang diplomat, meskipun dalam kunjungannya ke Tanah Suci, dia secara mengejutkan memasuki apa yang umumnya dianggap daerah politik dan keagamaan, bukan saja dalam hubungan dengan orang Yahudi dan kaum Muslim, tetapi juga dalam menghimbau suatu penyelesaian politik terhadap konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung 61 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus turut meningkatkan rekonsiliasi dan saling memahami secara lebih mendalam antara umat Kristen dan Yahudi, setelah berbicara secara mendalam dengan tokoh-tokoh religius Yahudi. Umat Yahudi menyambut kutukannya terhadap anti-Semitisme dan penyangkalan Holocaust, ingatannya terhadap 6 juta orang Yahudi yang mati dalam Holocaust, doanya di Tembok Ratapan (Tembok Barat dari Bait Allah), serta rasa hormatnya terhadap agama Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak mengherankan, kalau paus tidak bisa memuaskan semua orang. Sejumlah kecil orang Yahudi terkemuka di Israel, termasuk Rabbi Utama Meir Lau, ketua Komisi Yad Vashem, mengkritik paus karena tidak menyebut kata “Jerman” atau “Nazi,” atau “enam juta” korban Nazi dalam pidatonya dalam acara Peringatan Holocaust di Yad Vashem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Israel membahas kritikan ini dalam laporan berita mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Federico Lombardi, direktur Kantor Pers Takhta Suci, menjawab kritikan ini dengan mengatakan, paus telah mengatakan semua itu dalam pidato sebelumnya di Koln, Jerman, dan di Auschwitz, dan tentu tidak ada orang yang mengharapkan paus mengatakan semua itu terus menerus dalam setiap pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Israel Shimon Peres juga membela paus, dan mengatakan buah-buah kunjungan paus akan bersifat jangka panjang, dan tidak bisa dihakimi dengan "insiden-insiden" seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kritikan Yahudi tersebar di publik, kritikan yang sama dari umat Kristen Palestina tidak bisa didiamkan begitu saja: Kritikan dari umat Kristen Palestina mengungkapkan keprihatinan bahwa kunjungan paus hanya memperbaiki citra publik Israel setelah penyerangan terhadap Gaza, yang meninggalkan banyak persoalan tak terpecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga menyesal bahwa paus dalam pidato-pidatonya tidak menyinggung jumlah pendudukan Israel yang terus meningkat di seluruh negeri, atau hak para pengungsi untuk kembali. Mereka melihat hal ini sebagai kendala terbesar untuk perdamaian dengan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kebanyakan kaum Muslim Palestina menyambut hangat pidato-pidato paus yang mengungkapkan perhormatan terhadap Islam, dengan menghimbau terbentuknya negara Palestina dan kebebasan bergerak yang lebih besar dari warga Palestina, pencabutan embargo terhadap Gaza, dan kritikan paus terhadap tembok yang dibangun Israel. Mereka juga menyambut baik kunjungan paus ke Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock) di Yerusalem, Masjid Al-Hussein di Amman, dan kamp pengungsi Aida di Bethlehem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin Gereja Kristen di Tanah Suci sangat mendukung kunjungan paus, dan penekanan paus terhadap penyelesaian konflik Israel-Palestina, yang menurut penelitian merupakan alasan terbesar bagi eksodus umat Kristen, serta warga Palestina umumnya, dari Tanah Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut Paus Benediktus ke Israel pada 11 Mei, dengan “misi perdamaian” paus, Presiden Shimon Peres mengatakan: "Para pemimpin spiritual dapat merintis jalan bagi para pemimpin politik. Mereka dapat membersihkan wilayah-wilayah ranjau yang menghalangi jalan menuju perdamaian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paus Benediktus telah membuat suatu hal tertentu dengan hanya melakukan hal itu. Kini kita tinggal melihat apakah para pemimpin politik di Tanah Suci menanggapi kata-kata paus dengan keterbukaan hati dan berupaya menuju “suatu keadilan yang adil dan abadi” bagi rakyat mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/18/vatikan-paus-temukan-%e2%80%9cketerbukaan-untuk-dialog%e2%80%9d-di-antara-umat-kristen-yahudi-dan-muslim/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-2168099337346599763?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/2168099337346599763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/paus-temukan-keterbukaan-untuk-dialog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2168099337346599763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/2168099337346599763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/paus-temukan-keterbukaan-untuk-dialog.html' title='Paus Temukan “Keterbukaan untuk Dialog” di antara Umat Kristen, Yahudi, dan Muslim'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShvS0MshDJI/AAAAAAAAALc/fRSMGsISNaY/s72-c/pope16.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-255431888401721528</id><published>2009-05-26T04:25:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T04:26:07.084-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media'/><title type='text'>Orang Muda Katolik Lakukan Evangelisasi Lewat Pelayanan Media</title><content type='html'>SINGAPURA (UCAN) -- Jam 11.00 malam pada sebuah hari Minggu. Dua orang muda paroki masih sibuk di sebuah kantor kecil di paroki mereka, dengan perhatian perpusat pada layar komputer. Adakalanya mereka makan coklat, rangsangan yang mereka pilih untuk bisa bertahan bekerja sampai larut malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lyndley Lilynne Seah dan Ah-Qune sibuk untuk bisa memenuhi batas waktu pencetakan "Tomorrow,”  koran milik Paroki Maria Ratu Para Malaekat yang dilayani oleh para imam Fransiskan. Koran itu dimulai pada pesta paroki itu pada Agustus 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran bulanan 12 halaman itu merupakan perwujudan gagasan Pastor John-Paul Tan OFM. Setelah mengaudit komunikasi paroki tahun 2007, Pastor Tan sadar bahwa mingguan berita paroki yang ada itu “melulu hanya menyajikan informasi."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menjadi alasan lahirnya pelayanan media paroki yang bernama Potter &amp; Scribe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seah, editor, bercerita bahwa ketika Pastor Tan menyampaikan gagasannya, hal itu bagaikan tanda bahaya. “Kita seperti ‘Menolak Mentah-Mentah!’ Kita tidak punya tenaga dan sumber daya manusia," kata pemudi berusia 22 tahun itu. Seah belajar komunikasi massa dan jurnalisme cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayani umat paroki melalui Potter &amp; Scribe membuat Seah berpaling kepada Allah dengan sering berdoa memohon "kelancaran pelayanan dan kesehatan orang-orang yang terlibat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya banyak belajar terkait dengan manusia,  tanggung jawab, manajemen waktu, dan pengorbanan" selama bertahun-tahun, kata Seah, yang bekerja full-time di sebuah perusahaan, bagian informasi pasca-produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan muda itu mengatakan, “kegembiraan terbesar” baginya adalah ketika dia melihat seorang membaca "Tomorrow" ketika menunggu kereta. "Itu terjadi di stasiun kereta, pada jam sibuk di pagi hari. Seorang perempuan berdiri di depan saya. Perhatiannya terpusat pada koran itu, sehingga tidak sadar kalau kereta telah tiba,” katanya bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran yang dicetak 4.000 eksemplar itu didanai oleh paroki. Koran itu dibagikan gratis ke 7.000 umat paroki pada akhir pekan pertama setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap edisi berisi artikel-artikel tentang iman, gaya hidup, pengembangan kepribadian, serta cerita-cerita tentang umat teladan, kegiatan paroki, dan isu-isu terakhir yang menjadi minat umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah-Qune, 26, yang menjadi fotografer dan perancang tata letak, bekerja sebagai pegawai Komunikasi dan IT full-time di paroki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelayanan media yang kami lakukan itu dimaksud untuk menyatukan berbagai bentuk media lain, bukan hanya "Tomorrow," katanya. "Kami tengah mencari ide bagaimana memiliki blog yang akan dimulai oleh pelayanan itu dan ditangani oleh tenaga-tenaga muda yang tangguh. Kami juga akan meluncurkan sebuah website untuk Kantor Kepemudaan di paroki,” kata Ah-Qune.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria Ratu Para Malaekat bukan satu-satunya paroki yang memiliki publikasi secara teratur. Paroki Kristus Raja juga menerbitkan majalah triwulanan setebal 44 halaman warna-warni, yang diproduksi oleh Majesty Media, sebuah pelayanan media yang dilakukan oleh orang muda dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan itu dimulai dua tahun lalu oleh orang-orang muda dewasa yang ingin "membentuk sebuah kelompok media untuk evangelisasi," demikian Joann Chia, 26, editor "G! Magazine."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti "Tomorrow," "G! Magazine" itu bebas iklan dan didanai sepenuhnya paroki. Ongkos produksi setiap majalah itu kurang dari S$2 (US$1.40), demikian Joann Chia, 26, editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terence Kesavan, seorang frater diosesan yang bertugas di Paroki Kristus Raja, berkomentar, “uang dimanfaatkan dengan baik, karena isi majalah itu sungguh bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak doa dan pandangan ditulis dalam bentuk artikel dan umat membacanya. Inilah cara terbaik untuk menjangkau umat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Majesty Media yang sudah ada di paroki itu, majalah itu kini berusaha memanfaatkan sebuah hiburan radio yang tidak berjalan lagi. Di Kantin paroki, musik dan diskusi diputar bagi umat setiap hari Minggu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa depan, mereka ingin memproduksi DVD yang berisi berbagai peristiwa paroki dan iman Katolik, dan menjualnya dengan harga terjangkau untuk lebih bisa menggapai umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sekarang, kelompok itu tengah memusatkan perhatian pada sebuah website untuk memperingati Hari Komunikasi se-Dunia pada 24 Mei. Website itu akan memungkinkan umat mengakses sumber-sumber spiritual di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pada hari Minggu ini, para anggota akan mendistribusikan selipan buku yang berisi alamat website itu dan sebuah ayat inspirasi dari Kitab Suci agar umat paroki memiliki teks tertulis yang bisa dibagikan dengan keluarga dan teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/21/singapura-orang-muda-katolik-lakukan-evangelisasi-lewat-pelayanan-media/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-255431888401721528?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/255431888401721528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/orang-muda-katolik-lakukan-evangelisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/255431888401721528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/255431888401721528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/orang-muda-katolik-lakukan-evangelisasi.html' title='Orang Muda Katolik Lakukan Evangelisasi Lewat Pelayanan Media'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3047355630393760028</id><published>2009-05-26T04:22:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T04:23:56.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='caritas'/><title type='text'>Gereja-Gereja Berjuang untuk Menolong Orang Terlantar</title><content type='html'>LAHORE, Pakistan (UCAN) -- Ketika badan-badan bantuan Gereja bergabung dengan yang lain untuk memerangi krisis kemanusiaan akibat pertempuran di Pakistan bagian barat laut, seorang Katolik menghadapi persoalan itu seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil duduk di bawah spanduk bergambar salib, Bandu Chohan menunggu sumbangan untuk orang terlantar. Dalam pekerjaan yang melemahkan semangat selama sembilan hari itu, Chohan berhasil mengumpulkan uang 250 rupe (US$3). Bahkan ada orang yang ingin menghilangkan salib dari spanduknya itu di tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Chohan tidak merasa terganggu. ”Banyak orang berusaha menakut-nakuti saya, dengan berkata bahwa saya goblok,” katanya. “Bahkan seorang uskup Katolik menasehati saya untuk berhenti, dengan berkata bahwa ini akan memberikan citra buruk bagi orang Kristen” karena usaha seperti itu tidak berarti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun Chohan melakukan pekerjaan itu secara serius. ”Kami biasanya menungggu bantuan asing. Orang Kristen hendaknya maju ke depan untuk membantu orang Kristen dan Muslim yang terlantar. Saya melakukan ini untuk memuliakan Tuhan,” kata montir mobil berusia 65 tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi Kristen dan Muslim mengadakan pengumpulan dana di sejumlah kota bagi orang terlantar dari Swat dan Buner, tempat-tempat pertempuran paling sengit melawan militan Taliban yang dilakukan tentara Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas-Pakistan baru-baru ini menyalurkan kipas angin, tempat tidur, bantal dan selimut untuk sekitar 40 keluarga Kristen yang terlantar yang kini tinggal di sebuah Gereja Lutheran di Nowshehra,  sebuah kota lain di Propinsi Frontier Barat Laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karitas adalah badan pelayanan sosial Gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan 20 Mei yang diadakan oleh Dewan Gereja Nasional Pakistan (NCCP, National Council of Churches of Pakistan), sekitar 60 orang termasuk dua uskup Pakistan, lima imam Katolik, para suster, para pemimpin Gereja Bala Keselamatan, dan wakil dari berbagai serikat madani Kristen membahas apa dampak krisis itu bagi kelompok-kelompok minoritas, seperti kelompok orang-orang Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negeri kita sekarang ini berada di ambang kehancuran. Ketetapan perintah sedang menghadapi tantangan, bukan dari partai politik, tapi dari teroris terselubung," kata Vaicor Azariah, sekretaris jenderal NCCP, pada pertemuan di Lahore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mesti berdoa, memberi sumbangan, dan berjuang bersama-sama untuk mencegah terjadinya pembantaian besar-besaran lebih lanjut atau perang saudara,” kata Azariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembicara mengungkapkan keprihatinan mereka tentang ancaman dari para militan Taliban dan masa depan kelompok-kelompok minoritas di Pakistan. Mereka juga berbagi pandangan tentang tanggapan Gereja terhadap krisis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika berbicara dengan UCA News, Azariah menjelaskan bahwa forum diskusi itu merupakan langkah pertama untuk merumuskan suatu strategi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rekomendasi-rekomendasi akan meliputi deklarasi bersama yang akan dikeluarkan para pemimpin dari denominasi-denominasi utama seusai pertemuan akbar 22 Mei untuk menanggapi kerusuhan sekarang ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa baru 15 persen pengungsi yang kini ditampung di kamp-kamp resmi. Sebanyak 1,4 juta orang, menurut laporan, terpaksa melarikan diri karena pertempuran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/21/pakistan-gereja-gereja-berjuang-untuk-menolong-orang-terlantar/"&gt;ucanews.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3047355630393760028?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3047355630393760028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/gereja-gereja-berjuang-untuk-menolong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3047355630393760028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3047355630393760028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/gereja-gereja-berjuang-untuk-menolong.html' title='Gereja-Gereja Berjuang untuk Menolong Orang Terlantar'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8408207409047935030</id><published>2009-05-26T04:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T04:21:43.739-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekaristi'/><title type='text'>Forum Ekaristi dan Komunitas Kirim Pesan kepada Para Uskup</title><content type='html'>SEOUL (UCAN) -- Sejumlah teolog Katolik dan pekerja Gereja dari seluruh Asia mengirim pesan kepada para pemimpin Gereja. Pesan itu menyatakan bahwa Ekaristi, inti ajaran Katolik, hendaknya menjadi jembatan yang menghubungkan iman akan Allah dengan kehidupan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 80 teolog, misionaris, dan aktivis awam dari 11 negara Asia menghadiri forum bertema "Ekaristi dan Komunitas – Melampau Semua Penghalang” (Eucharist and Community - Beyond All Barriers). Peristiwa 18-20 Mei di Pusat Retret St. Benediktus di Seoul itu diselenggarakan bersama oleh Gerakan Katolik Internasional untuk Urusan Intelektual dan Kultural (ICMICA, International Catholic Movement for Intellectual and Cultural Affairs) dan Institut Teologi Woori (WTI, Woori Theology Institute) yang berbasis di Seoul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kelompok itu mengadakan forum itu mendahului sidang pleno kesembilan dari Federasi Konferensi-Konfernsi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishops' Conferences), yang akan berlangsung di Manila pada 10-16 Agustus dengan tema: "Penghayatan Ekaristi di Asia” (Living the Eucharist in Asia).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pertemuan, mereka mengeluarkan deklarasi yang mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk mengembangkan sebuah katekese yang lebih komprehensif tentang Ekaristi, yang memperlihatkan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Mereka juga mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk menggunakan kekuatan Ekaristi demi apresisasi yang lebih besar terhadap dialog segitiga FABC dengan manusia, kebudayaan, dan agama di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara kunci, Pastor Michael Amaladoss SJ, menjelaskan bahwa Ekaristi itu pada dasarnya adalah “perjamuan komunitas," sebuah tindakan simbolis yang katanya memiliki tataran ritual, sosial, dan mistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk menjadi nyata dan otentik, tindakan simbolik ini hendaknya merayakan kehidupan. Namun jika komunitas tidak berusaha secara aktif menghayati kehidupan, maka komunitas hendaknya jangan merayakan kehidupan. Itulah sebabnya rekonsiliasi melibatkan saling memaafkan sebelum memulai perayaan ini," kata direktur Institut untuk Dialog dengan Kebudayaan dan Agama di Chennai, India bagian selatan, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar Ekaristi adalah keterlibatan penuh, sadar, dan aktif dari umat, tegasnya. “Komunitas sebagai Tubuh Kristus adalah mereka yang merayakan, sementara imam adalah ‘pelayan’ dan karena itu dia adalah hamba komunitas,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawrencia Kwark Eun-kyung, sekretaris jenderal ICMICA, mengatakan kepada UCA News pada 20 Mei bahwa forum itu merupakan suatu upaya yang dilakukan umat awam untuk berkomunikasi dengan para pemimpin Gereja di Asia sebelum pleno FABC. "Tujuan lain adalah untuk membangun dan memperkuat jaringan di kalangan para teolog dan aktivis Gereja," tambah perempuan Korea itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta juga termasuk Uskup Bandung, Indonesia, Mgr Johannes Pujasumarta; Uskup Protestan Dhirendra Kumar Sahu, sekretaris umum Dewan Nasional Gereja-Gereja di India; dan Pastor William LaRousse MM, sekretaris Kantor Urusan Ekumene dan Hubungan Antaragama dari FABC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan "lima roti dan dua ikan" yang dijelaskan Uskup Pujasumarta sebagai contoh, deklarasi mereka juga berjanji untuk mengembangkan sebuah keanekaragaman "dalam sharing rencana dan proyek" di tingkat komunitas lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Indonesia itu mengatakan kepada UCA News, ia memprakarsai gerakan itu untuk orang miskin tahun 1992, ketika menjadi vikjen Keuskupan Agung Semarang. Sasaran program sharing itu, katanya, adalah para siswa di sekolah-sekolah Katolik, yang menabung dan mengumpulkan uang bagi para pelajar miskin dan keluarga-keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya belajar tentang realitas dan Ekaristi di berbagai negara, pertemuan ini bagi saya kelihatannya merupakan sebuah ‘katekese yang menghidupkan’ tentang Ekaristi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor LaRousse, juga seorang pembicara dalam forum itu, mengatakan kepada UCA News bahwa peristiwa itu merupakan pengalaman yang baik betapa umat Kristen dari berbagai negara merenungkan tentang bagaimana menghayati Ekaristi di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari pengalamanku di Davao, Filipina, saya berharap para uskup akan mendengar hasil yang baik dari forum ini,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.ucanews.com/2009/05/22/asia-forum-ekaristi-dan-komunitas-kirim-pesan-kepada-para-uskup/"&gt;Baca di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8408207409047935030?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8408207409047935030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/forum-ekaristi-dan-komunitas-kirim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8408207409047935030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8408207409047935030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/forum-ekaristi-dan-komunitas-kirim.html' title='Forum Ekaristi dan Komunitas Kirim Pesan kepada Para Uskup'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-736420694202682709</id><published>2009-05-24T07:56:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T08:10:11.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pancawindu ledalero'/><title type='text'>STFK Ledalero Siap Jadi Garam dan Terang</title><content type='html'>Perayaan Puncak Pancawindu STFK Ledalero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Kristianto Naben&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEDALERO (FP)&lt;br /&gt;Perayaan Pancawindu Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero adalah sebuah perayaan syukur untuk perjalanan panjang yang telah dilalui STFK Ledalero. Momentum perayaan ini dimaknai oleh STFK Ledalero untuk menegaskan jati dirinya untuk siap menjadi garam dan terang bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Shlhz4rbVcI/AAAAAAAAALM/5VY__C1-dak/s1600-h/pancawindu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339406377240188354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Shlhz4rbVcI/AAAAAAAAALM/5VY__C1-dak/s320/pancawindu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota sedang memberikan kotbah pada perayaan ekaristi Pancawindu STFK Ledalero.&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;“Usia pancawindu STFK Ledalero ini mesti dimaknai sebagai sebuah momentum revitaliasi, menggairahkan sebuah komitmen besar yang sedang dan terus akan kita usung melalui kiprah misioner kita di mana saja dan dalam bentuk apa saja. Perayaan kita juga harus menjadi sebuah afirmasi, sebuah peneguhan dan dukungan yang tulus agar Ledalero akan selamanya jadi tempat pencerahan dan pencerdasan bagi kader-kader Gereja Kristus. Semoga apapun ilmu dan proses olah budi serta perilaku akademik yang dikembangkan di STFK Ledalero membuka mata segala bangsa untuk melihat terang abadi,” kata Uskup Agung Ende, Mgr Vincent Sensi Potokota dalam kotbahnya pada perayaan ekaristi Pancawindu STFK Ledalero, di aula Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sabtu (23/5).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Uskup Sensi, pencerahan dan pengetahuan tentang kebenaran-kebenaran sejati, nilai-nilai dan kearifan-kearifan akademik pada gilirannya harus terungkap dalam kecerdasan, kebijaksanaan dan komitmen pelayanan misioner warga STFK Ledalero. Ini harus terungkap dalam karya perutusan sebagai saksi hidup di lapangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlifSpdlLI/AAAAAAAAALU/IfGJinc1PJk/s1600-h/pancawindu1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339407122945643698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlifSpdlLI/AAAAAAAAALU/IfGJinc1PJk/s320/pancawindu1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Usai memberikan kenang-kenangan Ketua STFK Ledalero, P. Konrad Kebung SVD (kiri) gambar bersama Wakil Bupati Sikka Wera Damianus, Gubernur NTT Frans Leburaya, Ketua Koordinator Kopertis Wilayah VIII Baharuddin, Bupati Sikka Sosimus Mitang, Wakil Alumni STFK Ledalero Wilhem Openg, Uskup Agung Ende Mgr Vincent Sensi Potokota, Pr dan Ketua YASSPA, P Amatus Woi SVD.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Yang diutus lembaga ini adalah atas nama Gereja sebagai garam dan terang. Bekal pencerahan dan pencerdasan yang kita timba di lembaga ini mesti berdaya guna yakni dapat mengasinkan dan mengawetkan apa saja yang kita temukan dalam perutusan kita. Kita adalah garam dan terang jika pengabdian dan pelayanan kita tanpa pamrih dan kita hidup benar, jujur, adil dan damai,” kata Uskup Sensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadi garam dan terang, langkah perutusan para warga STFK Ledalero mesti mengurangi jumlah bingung dan tersesat dan tidak tahu arah. Menjadi garam dan terang juga harus terungkap dalam beragam kesaksian hidup yang mencerminkan bahwa kekayaan nilai-nilai Ilahi yang diajarkan dan dikembangkan di STFK Ledalero sungguh merupakan tawaran keselamatan yang pasti dan meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Yayasan Persekolahan St Paulus, P. Amatus Woi SVD, dalam sambutannya mengatakan para alumni STFK Ledalero telah tersebar di berbagai penjuru dunia dan menjangkau daerah-daerah yang sulit. Sewaktu berkunjung ke wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, ia menjumpai seorang awam alumni STFK Ledalero yang berkarya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kepada saudara-saudara saya awam alumni STFK Ledalero, janganlah menganggap bahwa perjalanan Anda yang tidak menjadi imam adalah menjadi yang terbuang. Itu adalah rencana Tuhan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pater Amatus juga menyampaikan rasa bangga kepada STFK Ledalero yang telah menghasilkan alumni yang andal. STFK Ledalero telah aktif dalam berbagai bentuk keterlibatan seperti mendidik putra dan putri dari wilayah ini, keterlibatan sosial dalam bentuk pembentukan opini, publikasi-publikasi dan keterlibatan dalam berbagai problematika sosial kemasyarakatan. Kompetensi utama mereka yang dididik di STFK Ledalero adalah mereka yang menjadi rohaniwan. Mereka yang inilah yang memegang peran dalam setiap Gereja Lokal di wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dihitung-hitung, 99 % imam yang memegang posisi penggembalaan umat di wilayah ini adalah alumni STFK Ledalero,” katanya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung penyelenggaraan pendidikan di STFK Ledalero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, wakil alumni STFK Ledalero, Kristo Blasin mengatakan pada momen perayaan Pancawindu STFK Ledalero ini harus disyukuri karena STFK Ledalero telah menjadikan dirinya sebuah panti ilmu dan iman serta wadah penyelamatan bagi sebanyak mungkin orang. Para alumni telah membaktikan diri dalam berbagai bidang kehidupan. Ada suka dan duka yang telah dialami para alumni selama menjalani pendidikan di STFK Ledalero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“STFK Ledalero tidak membekali para alumni dengan uang atau harta tetapi daripadanya alumni diberi kesempatan untuk mereguk nilai-nilai demi membangun jati diri di tengah dunia. Ledalero telah menghasilkan insan-insan berkualitas baik yang imam maupun awam. Ini telah terbukti telah mengangkat Ledalero ke tempat publik dan disegani di tengah masyarakat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap, ada komunikasi yang intens antara STFK Ledalero dan para alumni untuk kelangsungan pendidikan di STFK Ledalero serta pengabdian dan pelayanan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur NTT, Frans Leburaya, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih dan profisiat kepada STFK Ledalero yang telah banyak berjasa dan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi Gereja dan masyarakat. Kehadiran dan keberadaan STFK Ledalero telah memberikan warna tersendiri bagi upaya meningkatkan sumber daya manusia di NTT melalui karya pendidikan dan pembinaan calon imam. Mengatasnamai pemerintah dan masyarakat NTT Lebu Raya mengucapkan terima kasih dan profisiat untuk kontribusi STFK Ledalero. Ia berharap agar keluarga besar STFK Ledalero terus berkarya demi pembangunan manusia di Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan ekaristi syukur Pancawindu STFK Ledalero ini dipimpin oleh Uskup Sensi sebagai selebran utama didampingi Uskup Denpasar yang juga dosen STFK Ledalero, Mgr Silvester San Pr, Provinsial SVD Ende P Amatus Woi SVD, Provinsial SVD Timor P Simon Bata SVD, Provinsial SVD Ruteng P. Sebast Hobahana SVD serta sejumlah besar imam. Hadir juga para awam alumni STFK Ledalero dari berbagai daerah dan pejabat pemerintahan dari Kupang yang datang bersama rombongan gubernur serta pejabat di lingkup Pemkab Sikka.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-736420694202682709?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/736420694202682709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/stfk-ledalero-siap-jadi-garam-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/736420694202682709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/736420694202682709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/stfk-ledalero-siap-jadi-garam-dan.html' title='STFK Ledalero Siap Jadi Garam dan Terang'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Shlhz4rbVcI/AAAAAAAAALM/5VY__C1-dak/s72-c/pancawindu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8868815640501064451</id><published>2009-05-24T07:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T07:55:54.931-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='stfk ledalero'/><title type='text'>Ketua STFK Ledalero Jadi Guru Besar</title><content type='html'>Guru Besar Pertama untuk PTS di NTT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Kristianto Naben&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEDALERO (FP)&lt;br /&gt;Keluarga besar Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero patut bergembira dan bersyukur. Pada usianya ke-4o, STFK Ledalero mendapat kado ulang tahun yang istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlfYyt-09I/AAAAAAAAALE/gf15bLNafe8/s1600-h/konrad+kebung.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339403712760566738" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlfYyt-09I/AAAAAAAAALE/gf15bLNafe8/s320/konrad+kebung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah VIII, Baharuddin AB, mengumumkan bahwa Ketua STFK Ledalero, P. Dr Konrad Kebung SVD telah diangkat oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menjadi Guru Besar atau Profesor. Pengangkatan ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Nomor 12811/A4.5/KP/2009 tanggal 2 Februari 2009. Baharuddin mengumumkan hal ini saat memberikan sambutan pada acara Perayaan Pancawindu STFK Ledalero, Sabtu (23/5).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baharuddin mengatakan, pengangkatan Pater Konrad menjadi guru besar menambah barisan guru besar, yang jumlahnya 12 orang pada Kopertis Wilayah VIII yang mencakup Bali, NTT dan NTB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari sekian guru besar yang kita punya ini baru tiga orang yang guru besar dari tenaga pengajar tetap yayasan yang bukan pegawai negeri sipil. Dua orang baru dihasilkan oleh Universitas Pendidikan Nasional dan yang satu dari STFK Ledalero. Untuk Perguruan Tinggi swasta di NTT, STFK Ledalero telah membuat sejarah baru dengan memiliki seorang guru besar, yaitu Pater Konrad. Dia adalah guru besar pertama untuk Perguruan Tinggi Swasta di NTT. Saya ucapkan selamat untuk prestasi yang telah diraih STFK Ledalero ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Flores Pos usai mengikuti acara resepsi, Baharuddin menjelaskan guru besar adalah jabatan fungsional tertinggi untuk seorang dosen. Untuk proses yang normal, seorang dosen harus melalui jenjang seperti asisten, lektor, lektor kepala dan guru besar. Seorang dosen yang telah meraih gelar S3 dapat loncat jabatan jika kredit poinnya sudah cukup. Berdasarkan UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, untuk mendapat jabatan fungsional sebagai guru besar, seorang dosen harus mengumpulkan kredit sebanyak 850-1050. Untuk mencapai kredit itu, seorang dosen harus menghasilkan empat publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru besar, demikian Baharuddin, akan mendapat beberapa tunjangan dari negara seperti tunjangan profesi, tunjangan kehormatan dan tunjangan kemaslahatan. Pembayaran untuk tunjangan ini akan dilakukan setelah ada acuannya berupa Peraturan Pemerintah yang belum ditandatangani oleh Presiden namun drafnya sudah ada di meja presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pater Konrad sudah mengumpulkan 1.010 kredit. Saya harap dalam waktu dekat beberapa dosen dari STFK Ledalero yang sudah disertifikasi dapat mengurus administrasi untuk segera diproses agar mendapat jabatan fungsional sebagai guru besar. Sekolah yang memiliki guru besar memberikan kredit poin tersendiri bagi sekolah tersebut dan akan menaikkan akreditasi sekolah,” katanya sambil menambahkan bahwa pengukuhan Pater Konrad sebagai guru besar merupakan tanggung jawab STFK Ledalero.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8868815640501064451?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8868815640501064451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/ketua-stfk-ledalero-jadi-guru-besar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8868815640501064451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8868815640501064451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/ketua-stfk-ledalero-jadi-guru-besar.html' title='Ketua STFK Ledalero Jadi Guru Besar'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlfYyt-09I/AAAAAAAAALE/gf15bLNafe8/s72-c/konrad+kebung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-178876543374923165</id><published>2009-05-24T07:27:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T07:40:32.136-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komite sekolah'/><title type='text'>Merancang Kerja Sama Sekolah dan Komite Sekolah</title><content type='html'>Demi Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dan Mutu Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Frans Obon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Shlbfx4DlpI/AAAAAAAAAKs/8jP5VVsQrgM/s1600-h/komite+sekolah1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339399434746959506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Shlbfx4DlpI/AAAAAAAAAKs/8jP5VVsQrgM/s320/komite+sekolah1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt; Kepala Sub Bagian Tata Usaha Departemen Agama (Depag) Kabupaten Ende Yosef Nganggo sedang memberikan materi ”Memahami Komite Sekolah” pada hari kedua lokakarya di PSE Ende, Sabtu (23/5).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Ende, Flores Pos&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sebanyak 40 orang ketua komite sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mengikuti lokakarya yang digelar Seksi Pendidikan Agama Katolik pada Departemen Agama Kabupaten Ende dan Tim Pastoral Kevikepan Ende, yang berlangsung Jumat (22/5) hingga Minggu (24/5) di aula Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Ende di Jl Durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlcMTC7XUI/AAAAAAAAAK0/wbD3xH1GAeg/s1600-h/komite+sekolah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339400199565172034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlcMTC7XUI/AAAAAAAAAK0/wbD3xH1GAeg/s320/komite+sekolah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Lokakarya mengambil tema ”Dengan Membangun Kebersamaan, Kita tingkatkan Mutu Pendidikan Katolik”. Empat narasumber: Romo Herman E Wetu Pr dan Petrus Puli membawa materi Manajemen Berbasi Sekolah, Rencana Pengembangan Sekolah, Rancangan AD/ART Komite sekolah dan Rancangan RAPB Sekolah dan Komite; Kepala Departemen Agama Agustinus T Gempa membawakan materi Kebijakan Pemerintah: Pembangunan di Bidang Agama dan Kebersamaan dengan Para Pihak; Yosef Nganggo dari Depag Ende membawakan materi Komite Sekolah, dan Yohanes Baptiste Seja membawakan materi Dinamika Kelompok.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;”Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melainkan juga tanggung jawab pemerintah provinsi, kabupaten, dan bahkan tanggung jawab sekolah, orang tua, dan masyarakat atau stakeholder pendidikan. Hal ini sesuai dengan konsep community based participation dan school based management, yang tidak saja kita wacanakan melainkan kita laksanakan. Komite sekolah dipandang strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan,” kata Yosef Nganggo, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Depag Ende dalam sambutan pembukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlaYzCLYdI/AAAAAAAAAKk/OtjFKq5nlAU/s1600-h/komite+sekolah2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339398215287136722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShlaYzCLYdI/AAAAAAAAAKk/OtjFKq5nlAU/s320/komite+sekolah2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Seorang peserta sedang bertanya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sajian materi hari kedua pada sesi memahami komite sekolah, Yosef Nganggo mengatakan, komite sekolah sebagai wadah peran serta masyarakat memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan dan menciptakan efisiensi dan pemerataan pengelolaan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komite sekolah merupakan lembaga non profit yang dibentuk berdasarkan musyawarah secara demokratis oleh para stakeholder pendidikan pada satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah pendidikan di Flores, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan sudah lama dilakukan melalui wadah Persekutuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG), yang diubah menjadi Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Sekarang dalam konteks manajemen berbasis sekolah, dibentuklah Komite Sekolah sebagai wadah partisipasi orang tua murid dalam proses pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Romo Herman E Wetu menegaskan bahwa manajemen berbasis sekolah menuntut adanya kemandirian sekolah untuk mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki oleh sekolah bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manajemen berbasis sekolah memberikan kewenangan yang lebih luas pada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri, menekankan keikutsertaan masyarakat secara intensif dan ekstensif dalam pengelolaan sesuai dengan peran dan potensi masing-masing,” katanya.&lt;br /&gt;Menurut dia, keberhasilan manajemen berbasis sekolah ditentukan oleh adanya dukungan, komitmen dan kesungguhan untuk melaksanakannya, kemampuan melakukan pembaruan, pengembangan potensi, dukungan terhadap visi dan potensi sumber daya sekolah.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-178876543374923165?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/178876543374923165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/merancang-kerja-sama-sekolah-dan-komite.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/178876543374923165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/178876543374923165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/merancang-kerja-sama-sekolah-dan-komite.html' title='Merancang Kerja Sama Sekolah dan Komite Sekolah'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Shlbfx4DlpI/AAAAAAAAAKs/8jP5VVsQrgM/s72-c/komite+sekolah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-9068159177270106799</id><published>2009-05-19T23:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:20:33.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='holy land'/><title type='text'>Pope Benedict gives thanks for pilgrimage to Holy Land</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShOg7NSrQ1I/AAAAAAAAAKM/9BaW72lLIaI/s1600-h/pope13.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337786922404889426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 158px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShOg7NSrQ1I/AAAAAAAAAKM/9BaW72lLIaI/s200/pope13.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Vatican City, May 17, 2009 / 11:09 am (CNA)&lt;/span&gt;- On a warm spring day, Pope Benedict XVI met with tens of thousands of pilgrims gathered in St. Peter’s Square Sunday to pray the Regina Coeli and to reflect on his recent visit to the Holy Land.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope began by thanking the Lord, the civil and religious authorities in the Holy Land and all those “who accompanied and supported me in their prayer” for his recently concluded pilgrimage to the region. He said, “This land, symbol of God’s love for his people and for the whole of humanity, is also a symbol of freedom and peace as God wills it for every one of his children.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“However, yesterday’s and today’s history show that this land has become a symbol of the opposite, of divisions and never-ending conflicts among brothers,” he continued. “The Holy Land has itself become almost a metaphor of revelation a “Fifth Gospel”, as some have called it, which by virtue of its history can be considered a microcosm that sums up humanity’s tiring journey towards the Kingdom of justice, love and peace.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the last part of his reflection the Holy Father focused on praying for the civilians caught up in fighting in Sri Lanka. For the past several weeks he military has been on the offensive against Tamil rebels in the northern part of the country. Thousands of people have been caught in the crossfire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today the Sri Lankan government announced that all the displaced people had reached safe areas and that the 25-year war against the Tamil Tigers has ended in victory.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We cannot end this Marian prayer without turning our thoughts to Sri Lanka, to express our affection and spiritual closeness to the civilians caught in the combat zone, in the north of the country; thousands of children, women and elderly who lost years of life and hope to the war,” the Pontiff said. “And so I call on the combatants to facilitate their evacuation, joining my voice to that of the United Nations Security Council which just a few days ago demanded guarantees for their safety and security.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I call on humanitarian organizations, including Catholic organizations, to leave no stone unturned in their effort to bring urgent food and medical aid to the refugees.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I entrust this dear country to the maternal protection of Our Lady of Madhu, beloved and venerated by all Sri Lankans,” Pope Benedict concluded. “I raise my prayers to the Lord that he may bring closer the day of reconciliation and peace.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After the Marian prayer, the Pope addressed a few words to English-speaking pilgrims:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I warmly greet all the English-speaking pilgrims and visitors present for this Regina Coeli prayer. In today’s Gospel Jesus invites his disciples to remain in his love by their love for one another. These words of the Risen Lord have a special resonance for me as I reflect on my recent pilgrimage to the Holy Land. I ask all of you to join me in praying that the Christians of the Middle East will be strengthened in their witness to Christ’s victory and to the reconciling power of his love. Through the prayers of Mary, Queen of Peace, may the Christians of the Holy Land, in cooperation with their Jewish and Muslim neighbors, and all people of good will, work in harmony to build a future of justice and peace in those lands. Upon them, and upon all of you, I invoke an abundance of Easter joy in Christ our Savior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source: &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16018"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-9068159177270106799?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/9068159177270106799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-benedict-gives-thanks-for.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/9068159177270106799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/9068159177270106799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-benedict-gives-thanks-for.html' title='Pope Benedict gives thanks for pilgrimage to Holy Land'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShOg7NSrQ1I/AAAAAAAAAKM/9BaW72lLIaI/s72-c/pope13.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5233017523635064550</id><published>2009-05-19T23:14:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:16:52.168-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abortion'/><title type='text'>Spanish doctors: abortion is traumatic and parents must be informed</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Catholic News Agency (CNA)&lt;/span&gt; - The president of the Collegial Medical Association in Spain, Juan Jose Rodriguez Sendin, said on Monday that abortion “is not like eating a piece of candy,” but rather is a “traumatic” surgical intervention in which the autonomy of the patient “should be made compatible with the right of parents to be informed.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speaking to reporters about the approval of a new law on abortion by the Council of Ministers, Rodriguez Sendin said it was an “error” and “unfortunate” that the legal age for an abortion without parent consent was dropped to 16 and that it would create worse problems for families than those that already exist in such cases.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;He stressed that parents should be “given the opportunity to learn about the problems their daughters might have in order to help them and console them,” pointing out that a girl under the age of 16 having an abortion is not like “eating a piece of candy,” it is a “traumatic surgical intervention.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rodriguez Sendin also criticized the government for handling the issue at the Ministry of Equality instead of the Ministry of Health, which has better knowledge of the facts, and for not taking into account the opinions of experts in an issue “as controversial” as abortion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also called on health care professionals to be “responsible” in obtaining the informed consent that patients who want to get an abortion must sign, and he warned doctors to “be sure that women understand what they are signing and to explain whatever they do not understand.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrid, Spain, May 19, 2009 / 02:17 pm&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16045"&gt;Catholic News Aganecy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5233017523635064550?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5233017523635064550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/spanish-doctors-abortion-is-traumatic.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5233017523635064550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5233017523635064550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/spanish-doctors-abortion-is-traumatic.html' title='Spanish doctors: abortion is traumatic and parents must be informed'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1686332603134404364</id><published>2009-05-19T23:04:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:10:05.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relaunch the missionary spirit'/><title type='text'>Pope urges Peruvian bishops to relaunch the missionary spirit and to seek unity of the Church</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Catholic News Agency (CNA)&lt;/span&gt; - The Holy Father met with bishops from the Peruvian Episcopal Conference today who recently completed their “ad limina” visit and asked them to relaunch the missionary spirit and work for the unity of the entire Church.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShOeWbYCFOI/AAAAAAAAAKE/TNoN6UKr8AQ/s1600-h/pope10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337784091507037410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShOeWbYCFOI/AAAAAAAAAKE/TNoN6UKr8AQ/s200/pope10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;To begin his speech, the Pope spoke of the unity of the whole Church which “is never definitively achieved and must be constantly constructed and perfected, without surrendering to difficulties, be they objective or subjective, and with the aim of showing the true face of the Catholic Church, one and unique."&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noting that “the authentic unity of the Church is always an inexhaustible source of the spirit of evangelization," the Pope expressed his joy at the fact that the prelates had adapted their pastoral programs to accommodate "the missionary impulse promoted by the Fifth General Conference of the Episcopate of Latin America and the Caribbean, celebrated in Aparecida, and especially the 'Continental mission,' with a view to ensuring that each member of the faithful aspires to sanctity through a personal rapport with the Lord Jesus, loving Him with perseverance and conforming their own lives to evangelical criteria so as to create ecclesial communities of intense Christian life."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This means relaunching the missionary spirit, not out of fear of the future, but because the Church is a dynamic presence, and the true disciple of Jesus Christ takes pleasure in freely transmitting His divine Word to others and sharing with them the love that flowed from His open side on the cross," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benedict XVI encouraged the prelates "to unite all the living energies of your dioceses that they may start out again from Christ irradiating the light of His face, especially to brothers and sisters who, perhaps because they feel unappreciated or not sufficiently recognized in their spiritual and material needs, seek answers to their anxieties in other religious experiences."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assiduous pastoral visits to ecclesial communities (including the most remote and humble), prolonged prayer, careful preparation of preaching, paternal concern for priests, families, young people, catechists and other pastoral care workers, are the best ways to instill in everyone an ardent desire to be messengers of the Good News of salvation, and will at the same time open the hearts of those around you, especially the sick and those most in need,” he added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He also highlighted that "the beneficial presence of selfless men and women of consecrated life" in Peru. In this context he called on the bishops to continue their "fraternal accompaniment and encouragement" of such people so that, "living the evangelical counsels according to their own charism, they may continue their robust witness of love for God, unshakeable adherence to Church Magisterium and willing collaboration with diocesan pastoral programs."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, he reminded the Peruvian bishops that "without work or adequate educational and healthcare provisions, and those who live in the suburbs of the great cities or in isolated areas. My thoughts also go to those who have fallen pray to drug addiction and violence. We cannot ignore these our weakest brothers and sisters, beloved unto God, ... Christ's charity urges us on."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatican City, May 18, 2009 / 09:07 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16035"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1686332603134404364?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1686332603134404364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-urges-peruvian-bishops-to-relaunch.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1686332603134404364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1686332603134404364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-urges-peruvian-bishops-to-relaunch.html' title='Pope urges Peruvian bishops to relaunch the missionary spirit and to seek unity of the Church'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShOeWbYCFOI/AAAAAAAAAKE/TNoN6UKr8AQ/s72-c/pope10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-8646895604134219994</id><published>2009-05-17T07:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T07:25:15.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengobatan gratis'/><title type='text'>Pengobatan Gratis dan Bagi Sembako</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAdYxZSPpI/AAAAAAAAAJs/jON8qcf-sic/s1600-h/pengobatan+gratis2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336797869847494290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAdYxZSPpI/AAAAAAAAAJs/jON8qcf-sic/s320/pengobatan+gratis2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susten-Suster Pengikut Yesus (CIJ) Keuskupan Agung Ende, Flores memberikan pengobatan gratis dan pemberian sembako kepada masyarakat di Paroki Kombandaru, Keuskupan Agung Ende, Jumat (8/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para suster bekerja sama dengan persekutuan doa Kharismatik Santa Elisabet Jakarta, yang dipimpin Ibu Esther Kandow. Kegiatan dibuka dengan doa oleh Ibu Ester Kandow dan diberkati Pastor Pembantu Paroki Kombandaru Rm. Lodovikus Demu Pr.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lima orang dokter terlibat dalam kegiatan ini: dr. Yanto, dr. Nani, dr. Rahkel, dr. Heru, dan Sr. dr. Ludgardis CIJ dibantu para perawat dan para suster CIJ sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pasien yang tercatat sebanyak 600 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Panitia Sr. Elvarina CIJ mengatakan, “pengobatan gratis ini merupakan salah satu agenda kegiatan sosial menyongsong yubileum 75 tahun Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ) 25 Maret 2010”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;-- Suster Leny CIJ&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAck6BgZ-I/AAAAAAAAAJc/pXmhvU1N930/s1600-h/pengobatan+gratis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336796978810480610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAck6BgZ-I/AAAAAAAAAJc/pXmhvU1N930/s320/pengobatan+gratis.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAdDK9KRgI/AAAAAAAAAJk/XbVWluhBJds/s1600-h/pengobatan+gratis1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336797498751731202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAdDK9KRgI/AAAAAAAAAJk/XbVWluhBJds/s200/pengobatan+gratis1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-8646895604134219994?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/8646895604134219994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pengobatan-gratis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8646895604134219994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/8646895604134219994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pengobatan-gratis.html' title='Pengobatan Gratis dan Bagi Sembako'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/ShAdYxZSPpI/AAAAAAAAAJs/jON8qcf-sic/s72-c/pengobatan+gratis2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5921681293879254393</id><published>2009-05-15T07:26:00.001-07:00</published><updated>2009-05-15T07:28:13.553-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pope'/><title type='text'>'Break the vicious circle of violence,' Pope pleads before departing</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg17yE3IDLI/AAAAAAAAAJU/jxByymuTc9U/s1600-h/pope11.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336057233732537522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 290px; CURSOR: hand; HEIGHT: 232px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg17yE3IDLI/AAAAAAAAAJU/jxByymuTc9U/s320/pope11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;President Peres, the Pope and Prime Minister Netanyahu listen to the anthems of the Vatican and IsraelTel Aviv, Israel, May 15, 2009 / 06:46 am&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16002"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CNA).- Pope Benedict made the strongest appeal for peace of his entire trip as he prepared to depart for Rome on Friday. During his farewell speech at the Ben Gurion International Airport, the Pope stressed the need for universal recognition of Israel's right to exist and the Palestinians' “right to a sovereign independent homeland.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;President Shimon Peres, who delivered a speech before the Pope, said the trip “constituted a significant contribution to the new relations between the Vatican and Jerusalem.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“I hope that your visit enabled you and your delegation to experience the traits of our land... above all the sincere aspiration for peace shared by all Israelis—peace with our neighbors, peace with distant enemies, peace for all,” Peres said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Israeli president also added that “today's political and spiritual leaders face a profound challenge: how to divorce religion from terror. How to prevent terrorists from hijacking the religious conscience by cloaking an act of terrorism in the false guise of a religious mission.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peres argued that because of Pope Benedict's “great spiritual leadership” he can “help people to recognize that God is not in the hearts of terrorists.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope then took the podium and recalled that he and President Peres planted an olive tree at his house on the day he arrived in Israel. According to St. Paul, the Pope stated, the olive tree is a sign of “very close relations” between Christians and Jews.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He recounted how moving it was to meet Holocaust survivors at Yad Vashem, and said that the encounters reminded him of his visit to the “death camp Auschwitz” three years ago. There, many Jews were “brutally exterminated under a godless regime that propagated an ideology of anti-Semitism and hatred. That appalling chapter of history must never be forgotten or denied. On the contrary, those dark memories should strengthen our determination to draw closer to one another as branches of the same olive tree, nourished from the same roots and united in brotherly love.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benedict XVI then said that he wanted to “put on record that I came to visit this country as a friend of the Israelis, just as I am a friend of the Palestinian people.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, Pope Benedict shared that the fighting between Israelis and Palestinians over the past six decades has brought him deep distress and that he believes no friend can fail to weep at the suffering and loss of life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Holy Father pleaded with the Palestinians and Israelis, crying, “No more bloodshed! No more fighting! No more terrorism! No more war! Instead let us break the vicious circle of violence. Let there be lasting peace based on justice, let there be genuine reconciliation and healing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The way toward peace, asserted the Pope, is for it to be “universally recognized that the State of Israel has the right to exist, and to enjoy peace and security within internationally agreed borders” and “likewise acknowledged that the Palestinian people have a right to a sovereign independent homeland, to live with dignity and to travel freely.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Let the two-state solution become a reality, not remain a dream. And let peace spread outwards from these lands, let them serve as a 'light to the nations,' bringing hope to the many other regions that are affected by conflict,” Pope Benedict entreated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope went even further in lamenting the strife afflicting the region by decrying the Israeli-built security wall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“One of the saddest sights for me during my visit to these lands was the wall. As I passed alongside it, I prayed for a future in which the peoples of the Holy Land can live together in peace and harmony without the need for such instruments of security and separation, but rather respecting and trusting one another, and renouncing all forms of violence and aggression,” he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mr. President,” Benedict said, “I know how hard it will be to achieve that goal. I know how difficult is your task, and that of the Palestinian Authority. But I assure you that my prayers and the prayers of Catholics across the world are with you as you continue your efforts to build a just and lasting peace in this region.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5921681293879254393?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5921681293879254393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/break-vicious-circle-of-violence-pope.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5921681293879254393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5921681293879254393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/break-vicious-circle-of-violence-pope.html' title='&apos;Break the vicious circle of violence,&apos; Pope pleads before departing'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg17yE3IDLI/AAAAAAAAAJU/jxByymuTc9U/s72-c/pope11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-3933058956403508753</id><published>2009-05-15T07:15:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T07:23:34.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='holy land'/><title type='text'>Christians indispensable for Holy Land, Pope stresses</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg16mxKMIrI/AAAAAAAAAJM/AnUwVsMmdGk/s1600-h/pope10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336055939953599154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg16mxKMIrI/AAAAAAAAAJM/AnUwVsMmdGk/s200/pope10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Pope Benedict XVI Nazareth, Israel, May 14, 2009&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=15989"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(CNA).- Wrapping up his time in Nazareth, Pope Benedict prayed in the grotto of the Basilica of the Annunciation and then met with bishops, priests and laity in the church. The Pope, reminding Christians of the power of the Annunciation despite its apparent insignificance, encouraged them to remain in the Holy Land, assuring them that they "have a part to play in God's plan for salvation."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It is profoundly moving for me to be present with you today in the very place where the Word of God was made flesh and came to dwell among us," Benedict began, after having prayed Evening prayer with the faithful.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;He noted that when the same Spirit that hovered over the waters at creation 'came upon Mary,' God permanently established a new relationship with us. But this narrative "illustrates God's extraordinary courtesy," since "He does not impose himself, he does not simply pre-determine the part that Mary will play in his plan for our salvation: he first seeks her consent."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aware of the plight of the Christian community in the Holy Land, the Pope said, "when we reflect on this joyful mystery, it gives us hope, the sure hope that God will continue to reach into our history, to act with creative power so as to achieve goals which by human reckoning seem impossible."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"In the state of Israel and the Palestinian Territories, Christians form a minority of the population. Perhaps at times you feel that your voice counts for little," the Holy Father surmised, while noting that their situation calls to mind the "young virgin Mary, who led a hidden life in Nazareth."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christians in the Holy Land should draw strength from God as Mary did in her famous prayer the Magnificat, the Pope said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Have the confidence to be faithful to Christ and to remain here in the land that he sanctified with his own presence!" the Holy Father entreated his fellow Christians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Like Mary, you have a part to play in God's plan for salvation, by bringing Christ forth into the world, by bearing witness to him and spreading his message of peace and unity."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benedict XVI finished his words to the crowd by calling on Christians to be unified in faith, hope and love and adding that he prays for them "constantly."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-3933058956403508753?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/3933058956403508753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/christians-indispensable-for-holy-land.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3933058956403508753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/3933058956403508753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/christians-indispensable-for-holy-land.html' title='Christians indispensable for Holy Land, Pope stresses'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg16mxKMIrI/AAAAAAAAAJM/AnUwVsMmdGk/s72-c/pope10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-5054134832451933568</id><published>2009-05-15T06:23:00.001-07:00</published><updated>2009-05-15T06:26:42.720-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='two state'/><title type='text'>Pope Benedict discusses two-state solution with Netanyahu</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1tUd9xijI/AAAAAAAAAI8/BWprysVyoT4/s1600-h/pope9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336041331912444466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1tUd9xijI/AAAAAAAAAI8/BWprysVyoT4/s200/pope9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu / Pope Benedict XVINazareth, Israel, May 14, 2009 / 10:03 am&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=15985"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(CNA).- Pope Benedict XVI met with Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu on Thursday afternoon at the Franciscan Convent in Nazareth and spoke about ways to advance the peace process.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The meeting began with a 15 minute one-on-one discussion between the Pope and Netanyahu, in which they discussed the peace process.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Following the Pope and prime minister's discussion, delegations from the Vatican and Israel met for 20 minutes about the fundamental agreement that has been under discussion for some time. The agreement concerns tax exemptions church institutions, the granting of religious visas for priests and religious and the protection of Christians and their holy sites.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;According to the Vatican's spokesman, Fr. Federico Lombardi, the Pope told the prime minister in their private meeting about his discussions on how to bring peace to the region with Jordan's King Abdullah II .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Netanyahu also visited with Egypt's President Hosni Mubarak on Monday and earlier on Thursday made the short flight to Jordan to speak with King Abdullah II. During their short talk, Israel's prime minister told the Pope about his meeting with Mubarak, Fr. Lombardi said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The king demanded the Israeli government declare its commitment to the two-state solution, accept the Arab peace initiative and take practical steps to achieve progress," King Abdullah's office said after the meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The international community has agreed there is no alternative ... and any other solution is unacceptable because it will not achieve a just peace, creating more conflict," the statement said, according to the BBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Netanyahu is scheduled to meet with President Obama on May 18, when Obama is expected to press Israel to commit to a two-state solution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-5054134832451933568?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/5054134832451933568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-benedict-discusses-two-state.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5054134832451933568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/5054134832451933568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-benedict-discusses-two-state.html' title='Pope Benedict discusses two-state solution with Netanyahu'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1tUd9xijI/AAAAAAAAAI8/BWprysVyoT4/s72-c/pope9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4896508470749234441</id><published>2009-05-15T06:20:00.001-07:00</published><updated>2009-05-15T06:23:27.104-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dialogue'/><title type='text'>Pope sings for peace at site of Muslim-Christian clashes</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1sSMz5Q1I/AAAAAAAAAI0/xHk2z4aEgoI/s1600-h/pope8.jpg"&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336040193436238674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 290px; CURSOR: hand; HEIGHT: 233px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1sSMz5Q1I/AAAAAAAAAI0/xHk2z4aEgoI/s320/pope8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Pope Benedict together with numerous religious leaders in NazarethNazareth, Israel, May 14, 2009 / 10:41 am&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=15986"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(CNA).- Muslims, Christians, Jewish and Druze leaders met with Pope Benedict XVI in the auditorium of the Shrine of the Annunciation this afternoon. Thanking the leaders for their efforts to help form younger generations dedicated to peace, the Pope appealed for their cooperation in easing tensions over religious places of worship in Galilee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benedict XVI began by noting that it is a blessing to be able to visit Nazareth, the place where the angel Gabriel announced Jesus' birth and where Jesus was raised.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Recalling these historical events led the Pope to reflect on the conviction that “the world is a gift of God, and that God has entered the twists and turns of human history.” This perspective is the source of Christians' belief that creation has “a reason and a purpose,” he explained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace, the Pope noted, is “a gift of God, yet it cannot be achieved without human endeavor.” However, he said, “We cannot do whatever we please with the world; rather, we are called to conform our choices to the subtle yet nonetheless perceptible laws inscribed by the Creator upon the universe... .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fact that the Pope is in Galilee, a religiously diverse region of Israel, gave him the opportunity to call for the numerous religions to “promote a culture of peace.” This can be done, he asserted, through educating the younger generations in “the deeper spiritual values of our common humanity.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Holy Father pledged Christians' eager participation in joining “Jews, Muslims, Druze and people of other religions in wishing to safeguard children from fanaticism and violence while preparing them to be builders of a better world.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The issue of violence surrounding religious sites was also touched on by the Pope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the late 1990s, tensions flared in the square that holds the Basilica of the Annunciation because of plans by Muslims to build a large mosque that would have blocked the view of the basilica. The confrontation over the Israeli government-approved mosque brewed over into clashes between Muslims and Christians just before Pope John Paul II's visit in 1999. In 2003 the Israeli government intervened by sending in troops to demolish the mosque's foundations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pope Benedict, aware of the conflict, said in his speech today, “I know that you accept cheerfully and with a greeting of peace the many pilgrims who flock to Galilee. I encourage you to continue exercising mutual respect as you work to ease tensions concerning places of worship, thus assuring a serene environment for prayer and reflection here and throughout Galilee.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the end of the meeting, the Pope smiled as the leaders joined hands and sang "Shalom, Salam, May the Lord's peace be with you"--a song composed and led by Rabbi Alon Goshen-Gottstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vatican spokesman Fr. Federico Lombardi was asked if this marked the first time on the trip that the Pope prayed with Muslim and Jewish leaders. He replied, "I'd say that the rabbi had a ingenius and creative idea because nobody can object to singing peace."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4896508470749234441?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4896508470749234441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-sings-for-peace-at-site-of-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4896508470749234441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4896508470749234441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-sings-for-peace-at-site-of-muslim.html' title='Pope sings for peace at site of Muslim-Christian clashes'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1sSMz5Q1I/AAAAAAAAAI0/xHk2z4aEgoI/s72-c/pope8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-1278972162609831036</id><published>2009-05-15T06:15:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T06:18:17.356-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pope in Holy Land'/><title type='text'>Vatican analyst underscores ‘surprising originality’ of Pope in Holy Land</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1rPm6lhpI/AAAAAAAAAIs/-VftgZji1AQ/s1600-h/pope7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336039049392391826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 158px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1rPm6lhpI/AAAAAAAAAIs/-VftgZji1AQ/s200/pope7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Pope Benedict XVI / Sandro MagisterRome, Italy, May 13, 2009 / 08:51 pm&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=15974"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CNA).- In his latest column, Italian Vatican analyst Sandro Magister underscores the “double surprise” that Pope Benedict XVI caused on the first day of his trip to Israel by explaining two important issues: the conditions for peace and security, and the issue of the Holocaust and anti-Semitism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his column entitled, “The Pope in Israel. Day One, Two Surprises,” Magister points out that: “As soon as he landed in Israel on Monday, Benedict XVI immediately took up the most controversial questions: first peace and security, then the Holocaust and anti-Semitism.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“On both fronts,” Magister says, “the ambush was set. He was subjected to constant pressure, not all of it above-board. For many of his critics, the script was already written, and they were simply waiting to judge whether and how the pope would stick to it.” However, “Benedict XVI acted with surprising originality, in both cases.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The advent of peace -continues- has been tied by him indisolubly to the 'Search for God' that has been the dominant theme of his memorable speech of Paris to the cultural world, one of the main speeches of his pontificate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope “asserted the unbreakable bond between the advent of peace” has been tied to the “Search for God.” This was “one of the dominant themes in his memorable speech to cultural figures in Paris, one of the main speeches of his pontificate. He developed the theme of security – which is crucial for Israel – on the basis of the biblical word ‘betah,’ which means security, but also trust: and the one cannot stand without the other.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Likewise, Magister adds, “On his visit to Yad Vashem – the memorial for the victims of the Holocaust, where their names are inscribed by the millions – the pope illustrated the meaning of another biblical word: the ‘name’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope explained that “the names of all ‘are indelibly inscribed in the memory of Almighty God.’ And therefore ‘one can never take away the name of another human being,’ not even when one intends to take away everything he has,” Magister writes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The cry of the slain rises from the ground as in the time of Abel, against any spilling of innocent blood, and God hears all of their cries, because ‘his mercies are not spent.’ The pope wrote these last words, taken from the book of Lamentations, in the guest book that he signed,” the Vatican analyst says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-1278972162609831036?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/1278972162609831036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/vatican-analyst-underscores-surprising.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1278972162609831036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/1278972162609831036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/vatican-analyst-underscores-surprising.html' title='Vatican analyst underscores ‘surprising originality’ of Pope in Holy Land'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1rPm6lhpI/AAAAAAAAAIs/-VftgZji1AQ/s72-c/pope7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-7197202542164440948</id><published>2009-05-15T06:07:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T06:12:22.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unity of Christians'/><title type='text'>Pope: Unity of Christians key to Jerusalem's vibrant future</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1pudmcR5I/AAAAAAAAAIk/lBaTL1hO934/s1600-h/pope6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336037380444669842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 290px; CURSOR: hand; HEIGHT: 233px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1pudmcR5I/AAAAAAAAAIk/lBaTL1hO934/s320/pope6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Pope Benedict walks towards the Church of the Holy SepulchreJerusalem, Israel, May 1, 2009 / 02:58 am&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;a href="http://www.catholicnewsagency.com/new.php?n=16000"&gt;Catholic News Agency&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(CNA).- On Friday morning, after celebrating Mass in private, Pope Benedict XVI paid a visit to the Greek Orthodox Patriarch of Jerusalem, Theophilus III. The Holy Father spoke with the patriarch of his gratitude for efforts to achieve greater unity between their Churches and asked the Christians of Jerusalem to raise a generation dedicated to the faith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pope Benedict began his speech to those assembled by calling to mind the past meetings between his two predecessors and the Orthodox patriarchs of their time.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“These encounters, including my visit today,” he said, “are of great symbolic significance. They recall that the light of the East has illumined the entire world from the very moment when a 'rising sun' came to visit us and they remind us too that from here the Gospel was preached to all nations.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The setting of the meeting also touched the Holy Father, who said, “standing in this hallowed place, alongside the Church of the Holy Sepulchre, which marks the site where our crucified Lord rose from the dead for all humanity, and near the cenacle, where on the day of Pentecost 'they were all together in one place,' who could not feel impelled to bring the fullness of goodwill, sound scholarship and spiritual desire to our ecumenical endeavors?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pope prayed that the gathering “will give new impetus to the work of theological dialogue between the Catholic Church and the Orthodox Churches, adding to the recent fruits of study documents and other joint initiatives.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On that note, the Pontiff recalled last October's Synod of Bishops, which studied the Word of God, and at which the Ecumenical Patriarch of Constantinople, His Holiness Bartholomew I, made an intervention.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The warm welcome he received and his moving intervention were sincere expressions of the deep spiritual joy that arises from the extent to which communion is already present between our Churches,” the Pope said as he expressed his hope that reconciliation between Christians would continue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the Holy Father also noted the division was most acutely experienced when Christians evangelize, since Christ's mission was one of bringing all men together.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It is imperative therefore that Christian leaders and their communities bear vibrant testimony to what our faith proclaims: the eternal Word, who entered space and time in this land, Jesus of Nazareth, who walked these streets, through his words and actions calls people of every age to his life of truth and love.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It seems to me,” the Pope remarked, “that the greatest service the Christians of Jerusalem can offer their fellow citizens is the upbringing and education of a further generation of well-formed and committed Christians, earnest in their desire to contribute generously to the religious and civic life of this unique and holy city.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speaking in the context of dialogue between Christians, the Pope prayed that “the aspirations of the Christians of Jerusalem will be understood as being concordant with the aspirations of all its inhabitants, whatever their religion: a life of religious freedom and peaceful coexistence and - for young people in particular - unimpeded access to education and employment, the prospect of suitable housing and family residency, and the chance to benefit from and contribute to economic stability.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After meeting with Patriarch Theophilus III, Pope Benedict walked to the Church of the Holy Sepulchre, next to the Patriarchate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-7197202542164440948?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/7197202542164440948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-unity-of-christians-key-to.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7197202542164440948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/7197202542164440948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/pope-unity-of-christians-key-to.html' title='Pope: Unity of Christians key to Jerusalem&apos;s vibrant future'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1pudmcR5I/AAAAAAAAAIk/lBaTL1hO934/s72-c/pope6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-4304931007010632409</id><published>2009-05-15T05:57:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T06:04:19.542-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='holy land'/><title type='text'>Why I Love the Holy Land (and Why You Should, Too)</title><content type='html'>By Joshua Allen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;a href="http://insidecatholic.com/Joomla/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=5962&amp;Itemid=121&amp;ed=1"&gt;Inside Catholic.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1n3z4AZfI/AAAAAAAAAIc/RitQ76jDpOQ/s1600-h/gereja+di+palestina.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336035342019487218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1n3z4AZfI/AAAAAAAAAIc/RitQ76jDpOQ/s320/gereja+di+palestina.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"For this one night, Jesus is in the tomb." These words, spoken to me by a priest on Holy Thursday, haunted my soul as the doors of the Basilica of the Holy Sepulchre in Jerusalem were locked and I found myself spending the night in the tomb of Christ, which functions as the altar of repose for the basilica. Twelve hours later, exhausted but exhilarated, I left the tomb struggling to process my incredible experience of the reality of Christ and of the Holy Land, the very land where He walked and taught, where He lived and died. This was the center of it all, the center of all time and space. That tomb, forever a monument to the Resurrection, had shown me Christ as I had never seen Him before. I rejoiced and thanked God for the grace to be there in that moment, and I resolved to let it change my life.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;It is by any measure of blessings one of the greatest to have the opportunity to visit the Holy Land. I am a seminarian studying for the Archdiocese of Atlanta at the Pontifical North American College in Rome; I have a view of St. Peter's from my home. (Really, my cup is overflowing with blessings.) Our first summer at the NAC is spent outside of the United States; I spent mine on a 10-week pilgrimage, working at the Pontifical Notre Dame Center in Jerusalem. The Holy Land changed my entire perspective on faith: There, the theory becomes real; belief is given a face and a context; you engage the Scriptures as never before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It has a certain exotic quality for Americans: The flight is long and uncomfortable, the Jewish and Muslim cultures are completely foreign, and there is always the specter of terrorism and safety overhanging any thought of travel. A trip in the Holy Land is frankly disorienting. In Jerusalem, within 30 minutes you can walk from Calvary to the Upper Room to the Temple to Gethsemane, your head spinning all the while. Bethlehem is 20 minutes away; Galilee is two hours away. Mount Moriah, where salvation history begins with the Sacrifice of Abraham, is the mountain upon which the Temple is constructed -- in the center of the city. The City of David and Mount Zion, Gehenna and Emmaus are all right there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The magnificent reality of it all is simply overwhelming. We are so blessed to have a faith that is based in history: the Bible is filled with real events that happened at real places. God chose certain times and places to reveal Himself in history, and the fact that He chose the Holy Land means something. Of course, our faith is not dependent on particular places, but our faith does depend on the historical fact of Jesus Christ: His life, death, and resurrection. Jesus is not just a bedtime story; He is a real person. The Incarnation is necessarily specific: Jesus walked in real places doing real things with real disciples.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our Holy Father is beginning a pilgrimage to the Holy Land today. It is significant that he is starting his trip in Jordan at Mount Nebo, where God showed Moses the Promised Land. Moses was not able to enter; God merely showed it to him, proving that his gifts are more than spiritual ideas; instead, they are concrete realities we can see, taste, and touch. The blessings God gave to the children of Abraham so many millennia ago remain blessings for us today. The Holy Land is calling the Christian children of Abraham to her heart, and our Holy Father is answering the call.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You cannot imagine the experience: seeing the Mount of Olives; touching trees that are 3,000 years old in the Garden of Gethsemane; standing where Jesus was transfigured; seeing how insultingly small a mustard seed really is; reading Psalm 23 in the Kidron Valley, or Psalm 88 in the pit of Christ (where He was held before being brought to Pilate); touching the very rock of Calvary baptized in Christ's blood; kissing the column where Jesus was scourged; kneeling at the manger in Bethlehem; walking the shore where Peter affirmed his love for Jesus three times; praying where Gabriel appeared to Mary; celebrating the Mass of the Resurrection in the empty tomb. The Holy Land becomes a part of you, just as you become a part of its history, and it is absolutely addictive: I have been back three times already.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no place like the Holy Land. Don't let fear keep you from experiencing its magnificence. Follow in the footsteps of Pope Paul VI, Pope John Paul II, and now Pope Benedict XVI. Pray for the Holy Land. Pray for the pope's visit. Visit if you possibly can -- it is worth the sacrifice. You will never be the same.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Joshua Allen is a fourth-year seminarian studying at the North American College in Rome for the Archdiocese of Atlanta. He writes a regular column, Led Into the Truth, for Catholic News Agency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6030459723913625913-4304931007010632409?l=doingkoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://doingkoe.blogspot.com/feeds/4304931007010632409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/why-i-love-holy-land-and-why-you-should.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4304931007010632409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6030459723913625913/posts/default/4304931007010632409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://doingkoe.blogspot.com/2009/05/why-i-love-holy-land-and-why-you-should.html' title='Why I Love the Holy Land (and Why You Should, Too)'/><author><name>Lami Beo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09288002830937691859</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYGsW5eM3ao/Sg1n3z4AZfI/AAAAAAAAAIc/RitQ76jDpOQ/s72-c/gereja+di+palestina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6030459723913625913.post-6790236660712731115</id><published>2009-05-15T05:47:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T05:53:25.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seminari'/><title type='text'>Siswa-Siswa Seminari Menengah Merasakan Beratnya Hidup Bertani</title><content type='html'>CHIANG MAI, Thailand (UCAN) – Remaja Katolik yang tertarik untuk hidup religius dewasa ini tidak selalu berasal dari keluarga miskin, kata seorang imam yang bertugas membimbing anak-anak seminari menengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya dia mengadakan kamping 10 hari baru-baru ini untuk 12 siswa seminari untuk mengalami langsung kehidupan komunitas yang bertani di Propinsi Chiang Mai, Thailand bagian utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, kebanyakan siswa seminari berasal dari keluarga miskin, tetapi belakangan ini kebanyakan berasal dari keluarga-keluarga berada,” kata Pastor Boonlert Paneethatayasai, yang kini bertugas mendampingi para siswa seminari di Wisma Nazareth milik Salesian di Sam Phran, sebelah barat Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa dari mereka bahkan merupakan anak semata wayang dalam keluarga, sehingga mereka sangat diperhatikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu, para siswa seminari, yang berasal dari seluruh penjuru negeri itu dan yang berada di tingkat Sekolah Menengah (SMP-SMA), mengadakan kamping serupa di Wisma Don Bosco. Ini merupakan sebuah pusat komunitas yang dikelola para religius Salesian di Distrik Doi Saket, Chiang Mai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat itu dibentuk tahun 2004, dan sekarang ini memberi pendidikan dan makanan bergizi bagi 60 orang muda warga suku pegunungan yang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejumlah orangtua para siswa seminari itu adalah tuan tanah di komunitas-komunitas pertanian, imam itu mengatakan bahwa para remaja di seminari itu tidak pernah mengalami berbagai kesulitan dari para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanaphat Sornchamni, siswa seminari kelas 11, mengatakan: “Pada hari pertama kemping, saya terkejut dengan makanan. Sangat buruk. Saya tidak punya nafsu makan sama sekali, tetapi akhirnya saya harus juga makan, karena semua orang muda ini makan seperti ini. Saya tidak
